Dalam dua hari ini dua kali saya mendapat pesan yang nyaris sama, yang sayang kalau tidak dibagikan.
Yang pertama begini: rezeki itu kakinya sepuluh, kita kakinya dua. Mau sampai kapan kita ngejar rezeki, nggak bakalan kekejar. Mendingan kita diam saja, bikin diri kita semenarik mungkin, nanti rezeki yang datang sendiri ke kita. (www.manislegit.blogspot.com)
Itu mungkin versi "bisnis" dan "modern"-nya.
Lalu saya dapat versi "biblis"-nya: Kita mengikuti berkat (versi di atas: mengejar rezeki) atau berkat mengikuti kita (versi di atas: membuat diri menarik sehingga rezeki datang). Kalau kita ngotot mengikuti berkat, dalam artian kita berdoa hanya untuk hal-hal duniawi, kita akan mati dan jauh dari Tuhan. Tapi kalau kita "diam saja", dalam artian berdoa untuk menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan, maka berkat akan datang sendiri bagi kita.
Oke, versi pertama lebih mudah dimengerti kali yaaa... hehehe... Tapi kedua versi ini punya makna yang sama dan menurut saya sih benar. Menurut saya, kita harus berusaha 101% untuk menjadi the best we can do, lalu everything else will follow.
Misalnya saya sebagai ibu rumah tangga, selama ini kebanyakan whining dan minta pengertian orang-orang "ih, gue kan gak punya pembantu blablabla". So what? Orang lain juga nggak punya pembantu kok, just live it! Saya merasa karena saya kebanyakan mengasihani diri sendiri, justru akhirnya saya tidak 101% sebagai ibu, males ini, males itu, minta dimengerti ini dan itu. Padahal seharusnya kalau saya bisa put my heart in to it, maka saya bisa mendapat hasil yang lebih baik, rumah yg lebih rapi, makanan yang lebih sehat, anak yang lebih berkembang, dll dst.
Masalah tidak 101% ini rupanya sudah jadi penyakit saya sejak kecil. Saya masih ingat guru-guru SD saya yang memberi nasihat supaya lebih rajin setiap acara penerimaan rapor. Tapi ya itulah... Kayaknya selalu saja ada hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan ketimbang belajar (waktu kecil dulu). Khawatirnya, sekarang meskipun sudah dewasa dan mengerti ini-itu, saya tetap selalu berhasil mendapat pengalih perhatian dari hal-hal lain yang seharusnya lebih utama untuk saya lakukan.
Kesimpulan paragraf di atas: untuk jadi 101% kita harus fokus... hehehe...
(Betapa menulis blog ini membawa pencerahan.)
Yah, anyway, kembali ke masalah berkat dan rezeki. Berkat memang tidak harus dikejar, tapi tetap harus diusahakan. Diusahakan dengan... fokus dan berjuang 101%. Semangat!!!
Kamis, 02 Februari 2012
Minggu, 29 Januari 2012
Just Keep Swimming!
“Just keep swimming! Just keep swimming!” Itu kata Dory si ikan Napoleon dalam film “Finding Nemo”. Pernah nonton, kan? Dalam film itu Dory menyemangati Marlin yang selalu pesimis dan punya aura “Gue pasti gagal! Gue pasti gagal!” Intinya nyanyian si Dory, ayo, jangan patah semangat, jangan berhenti, terus lakukan!
Petuah si Dory bisa juga diaplikasikan ke kegiatan menulis (dan banyak hal lain dalam hidup ini); jangan berhenti, terus lakukan, jangan patah semangat! Dalam hal menulis, just keep writing menjadi jauh lebih penting daripada sekadar membakar semangat kita, para penulis. Just keep writing membuat kita jadi semakin luwes, ide-ide kita semakin berkembang dan bermunculan, pilihan kata kita juga jadi makin variatif.
So, luangkan waktu untuk menulis tiap hari! Jangan malas! Jangan malu! Disiplin! Disiplin! Disiplin! (Sejujurnya, ini teriakan-teriakan untuk diri sendiri.)
Contoh paling mudah dari kegagalan menulis sedikit setiap harinya adalah... ta-daaa... Saya sendiri. Tentu saja sebagai ibu rumah tangga banyak urusan, saya ya... banyak urusan yang membuat saya jadi bisa mencari-cari alasan untuk tidak menulis, misalnya... anak rewel, anak merebut komputer, anak minta ditemenin, setelah anak tidur, ibunya capek, ibunya ngantuk, saat nemenin tidur ikut ketiduran dll dsb dst.
Sama seperti banyak hal lain di dunia ini, alasan-alasan itu bisa dinulifikasikan asalkan ada niat dan semangat untuk melakukannya. Argh.
So, step one: niat untuk membuang semua alasan dan mulai menulis.
Step two: memilih media menulis. Bagi saya mudah, saya sudah punya blog ini. Jadi tinggal mendisiplinkan diri untuk mengisinya dengan tulisan. Bagi orang lain bisa saja dia memilih buku tulis, diary cantik, atau ketak-ketik di komputernya, baik di-share dengan orang lain ataupun tidak. Media sosial seperti facebook atau twitter bisa membantu juga. Tapi saya pribadi merasa twitter tidak membantu seseorang menjadi penulis, karena ruang yang disediakannya hanya cukup untuk lontaran pendapat.
Step three: mengisi media itu dengan tulisan. Mulailah kita menghadapi masalah pertama... Mau nulis apa? Semua orang yang mulai menulis pasti menghadapi ini. Mau dia itu penulis andal dan berbakat, mau dia penulis pemula. Maka muncullah pertanyaan standar bagi para pengarang: Idenya datang dari mana? Dan jawaban standar (tapi benar) pun muncul: dari mana-mana...
Mind mapping seperti yang diajarkan oleh Tony Buzan sangat membantu. Sayang saya agak gaptek sehingga tidak bisa memasang gambarnya di sini, tapi moga-moga saya bisa menjelaskan dengan cukup baik. Mind mapping seperti brain storming, menuliskan segala hal yang berkaitan dengan topik yang ingin kita tulis, tetapi dengan lebih rapi. Misalnya kita ingin menulis soal kamar tidur, apa yang muncul dalam kepala kita saat mendengar kata kamar tidur? Tempat tidur, lemari, nakas. Apa yang terpikir saat mendengar kata tempat tidur? Bantal, seprai, kasurnya latex atau kapuk, letaknya di tengah ruangan atau dekat jendela, ukurannya dobel atau singel, pencahayaan yang mengenai tempat tidur itu terang atau remang-remang. Apa yang terpikir saat mendengar kata bantal? Jumlahnya berapa, sarung bantalnya motifnya apa... Dst dst. Itu baru satu topik kamar tidur (tempat tidur) yang dipecah-pecah. Nah, bayangkan betapa banyak yang bisa “dipecah-pecah” lagi dari topik kamar tidur. Jadi, teknik mind map adalah salah satu teknik menarik untuk mencari ide.
Just keep writing juga membuat kita lebih luwes dalam mencari ide. Soalnya begini, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita menyinggung berbagai topik, semakin luas kita bereksplorasi dengan pengetahuan kita, otomatis makin banyak juga ide yang muncul. Itulah gunanya latihan dan tidak berhenti menulis.
So, mari kita kembali ke step one: niat.
Oke, niat saja tidak cukup. Untuk membakar niat dan semangat kita, terus terang harus ada semacam reward. Sesungguhnya, bisa membuat tulisan yang baik itu sudah membawa kepuasan yang bisa menjadi reward bagi kita. Tapi bisa juga kita menciptakan reward yang lain. Salah satu reward yang menyenangkan bagi saya adalah... ternyata tulisan saya dibaca orang! Yay! Ada follower blog saya! Yay! Biarpun masih sedikit, gak papa... tapi ya, itu salah satu contoh reward.
So... ayo rajin... ayo rajin... disiplin... jangan setengah-setengah... AYO!
Petuah si Dory bisa juga diaplikasikan ke kegiatan menulis (dan banyak hal lain dalam hidup ini); jangan berhenti, terus lakukan, jangan patah semangat! Dalam hal menulis, just keep writing menjadi jauh lebih penting daripada sekadar membakar semangat kita, para penulis. Just keep writing membuat kita jadi semakin luwes, ide-ide kita semakin berkembang dan bermunculan, pilihan kata kita juga jadi makin variatif.
So, luangkan waktu untuk menulis tiap hari! Jangan malas! Jangan malu! Disiplin! Disiplin! Disiplin! (Sejujurnya, ini teriakan-teriakan untuk diri sendiri.)
Contoh paling mudah dari kegagalan menulis sedikit setiap harinya adalah... ta-daaa... Saya sendiri. Tentu saja sebagai ibu rumah tangga banyak urusan, saya ya... banyak urusan yang membuat saya jadi bisa mencari-cari alasan untuk tidak menulis, misalnya... anak rewel, anak merebut komputer, anak minta ditemenin, setelah anak tidur, ibunya capek, ibunya ngantuk, saat nemenin tidur ikut ketiduran dll dsb dst.
Sama seperti banyak hal lain di dunia ini, alasan-alasan itu bisa dinulifikasikan asalkan ada niat dan semangat untuk melakukannya. Argh.
So, step one: niat untuk membuang semua alasan dan mulai menulis.
Step two: memilih media menulis. Bagi saya mudah, saya sudah punya blog ini. Jadi tinggal mendisiplinkan diri untuk mengisinya dengan tulisan. Bagi orang lain bisa saja dia memilih buku tulis, diary cantik, atau ketak-ketik di komputernya, baik di-share dengan orang lain ataupun tidak. Media sosial seperti facebook atau twitter bisa membantu juga. Tapi saya pribadi merasa twitter tidak membantu seseorang menjadi penulis, karena ruang yang disediakannya hanya cukup untuk lontaran pendapat.
Step three: mengisi media itu dengan tulisan. Mulailah kita menghadapi masalah pertama... Mau nulis apa? Semua orang yang mulai menulis pasti menghadapi ini. Mau dia itu penulis andal dan berbakat, mau dia penulis pemula. Maka muncullah pertanyaan standar bagi para pengarang: Idenya datang dari mana? Dan jawaban standar (tapi benar) pun muncul: dari mana-mana...
Mind mapping seperti yang diajarkan oleh Tony Buzan sangat membantu. Sayang saya agak gaptek sehingga tidak bisa memasang gambarnya di sini, tapi moga-moga saya bisa menjelaskan dengan cukup baik. Mind mapping seperti brain storming, menuliskan segala hal yang berkaitan dengan topik yang ingin kita tulis, tetapi dengan lebih rapi. Misalnya kita ingin menulis soal kamar tidur, apa yang muncul dalam kepala kita saat mendengar kata kamar tidur? Tempat tidur, lemari, nakas. Apa yang terpikir saat mendengar kata tempat tidur? Bantal, seprai, kasurnya latex atau kapuk, letaknya di tengah ruangan atau dekat jendela, ukurannya dobel atau singel, pencahayaan yang mengenai tempat tidur itu terang atau remang-remang. Apa yang terpikir saat mendengar kata bantal? Jumlahnya berapa, sarung bantalnya motifnya apa... Dst dst. Itu baru satu topik kamar tidur (tempat tidur) yang dipecah-pecah. Nah, bayangkan betapa banyak yang bisa “dipecah-pecah” lagi dari topik kamar tidur. Jadi, teknik mind map adalah salah satu teknik menarik untuk mencari ide.
Just keep writing juga membuat kita lebih luwes dalam mencari ide. Soalnya begini, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita menyinggung berbagai topik, semakin luas kita bereksplorasi dengan pengetahuan kita, otomatis makin banyak juga ide yang muncul. Itulah gunanya latihan dan tidak berhenti menulis.
So, mari kita kembali ke step one: niat.
Oke, niat saja tidak cukup. Untuk membakar niat dan semangat kita, terus terang harus ada semacam reward. Sesungguhnya, bisa membuat tulisan yang baik itu sudah membawa kepuasan yang bisa menjadi reward bagi kita. Tapi bisa juga kita menciptakan reward yang lain. Salah satu reward yang menyenangkan bagi saya adalah... ternyata tulisan saya dibaca orang! Yay! Ada follower blog saya! Yay! Biarpun masih sedikit, gak papa... tapi ya, itu salah satu contoh reward.
So... ayo rajin... ayo rajin... disiplin... jangan setengah-setengah... AYO!
Kamis, 19 Januari 2012
Blink!
Awal Desember tahun lalu, saya mendapat kejutan yang lumayan membuat ge-er: Blink! Clothes meminta saya jadi pembicara dalam acara launching produknya. Idiiiih... Antara mau-mau-tak-mau, ya ge-er ya malu. Ceritanya saya diminta kesediaannya ini gara-gara buku-buku saya: Traveling with Tots dan Traveling with Kids, temanya cocok dengan produk yang akan mereka launching yaitu pakaian khusus traveling untuk ibu dan anak putri balita.
Sempat bingung nih, apa ya yang mau dibicarakan dalam kesempatan itu? Akhirnya saya memilih memberi ringkasan isi buku saya Traveling with Tots, mengingat audience yang dituju adalah ibu beranak balita. Presentasi yang coba saya buat tentu payah banget, mengingat ini pertama kalinya membuat presentasi dan menggunakan program power point (yang sebenarnya sangat mudah itu), sekaligus nyaris tidak mungkin mereka-reka poin-poin yang keren juga ilustrasi foto yang tepat saat ada kurcaci yang selalu teriak, “Ma, mau liat Lego City!!!” setiap kali laptop saya keluar dari peraduannya. Anyway, syukurlah punya adik yang sudah sering berpresentasi, sehingga presentasi bapuk saya akhirnya dipercantik dengan bantuannya.
Singkat cerita, setelah beberapa kali ngomong sendiri kayak orang gila, pura-puranya di depan audience, berangkatlah saya ke venue di Birdcage, Wijaya 9. OMG! Taunya tempat ini dulu bekas TK saya! Sungguh, dulu saya menjalani satu tahun ajaran TK kecil (dulu TK B) di sana! Saya langsung memuaskan hasrat masa kecil saya untuk naik hingga ke lantai 3 bangunan ini. Dulu saya selalu merasa lantai 3 yang pas berada di bawah atap miring ini pasti cantik banget. Katanya dulu ada guru yang tingal di lantai 3 ini. Saya membayangkan ruang tinggalnya dihias dengan renda-renda dan jendela kayu menjorok seperti rumah-rumah di pegunungan Swiss (hint: bacaan masa kecil, Heidi). Tentu sekarang lantai 3 ini juga difungsikan sebagai restoran.
Anyway, sama pentingnya dengan memeriksa khayalan masa kecil, saya diperkenalkan juga dengan beberapa jurnalis dari dunia maya maupun nyata: Ninit Yunita dari Urban Mama, Karmenita dari Mom's Guide, dan Inge dari V Radio. Senangnya dapat teman baru, membangun jejaring itu kan perlu...
Awalnya pengunjung acara kok sepi banget. Sudah ngobrol ngalor-ngidul pun acara tidak dimulai-mulai, sehingga kantuk mulai menyerang. Tapi, ternyata perlahan pengunjung berdatangan. Para mommy muda yang classy beserta para anak kecil yang sering sekali digodain sama kedua MC.
Akhirnya, tibalah giliran saya maju. Setelah berdoa-doa, saya pun duduk di panggung dan mulai bla-bla-bla. Kedua MC yang sebenarnya adalah dua pemuda yang benar-benar muda dan pasti belum pada punya anak, sangat membantu dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sepanjang saya presentasi. Lucu juga sih, karena sebelumnya yang ada di pikiran saya adalah MC-nya bakalan mami-mami juga. Tapi, poinnya adalah mereka sangat membantu menghidupkan presentasi saya, dan I thank them for that.
Lucunya, mungkin saking gugupnya (meskipun rasanya gak gugup-gugup amat juga sih) atau saking kakunya saya, justru ada beberapa hal yang ingin saya bagi malah nggak kesampean. Misalnya tip soal kantong plastik saat packing itu. Agak sayang juga ya, soalnya itu tip yang justru tidak ada di buku, dan baru saya dapatkan belakangan.
MC juga mengarahkan supaya saya sedikit memaparkan dan menjelaskan bedanya jalan-jalan sama balita dan jalan-jalan sama anak SD, which is quite different loh!
So, all in all, rasanya acara ini berjalan cukup baik. Sayangnya karena waktu mulainya yang agak molor, saya memilih untuk pulang duluan seusai tampil karena merasa sudah meninggalkan anak terlalu lama. Tapi, melihat dari media online yang meliput, sepertinya acara berlangsung lancar sampai akhir.
Kalau ada yang meminta jadi pembicara lagi... hmm... ayoooo... (Lho?)
Sempat bingung nih, apa ya yang mau dibicarakan dalam kesempatan itu? Akhirnya saya memilih memberi ringkasan isi buku saya Traveling with Tots, mengingat audience yang dituju adalah ibu beranak balita. Presentasi yang coba saya buat tentu payah banget, mengingat ini pertama kalinya membuat presentasi dan menggunakan program power point (yang sebenarnya sangat mudah itu), sekaligus nyaris tidak mungkin mereka-reka poin-poin yang keren juga ilustrasi foto yang tepat saat ada kurcaci yang selalu teriak, “Ma, mau liat Lego City!!!” setiap kali laptop saya keluar dari peraduannya. Anyway, syukurlah punya adik yang sudah sering berpresentasi, sehingga presentasi bapuk saya akhirnya dipercantik dengan bantuannya.
Singkat cerita, setelah beberapa kali ngomong sendiri kayak orang gila, pura-puranya di depan audience, berangkatlah saya ke venue di Birdcage, Wijaya 9. OMG! Taunya tempat ini dulu bekas TK saya! Sungguh, dulu saya menjalani satu tahun ajaran TK kecil (dulu TK B) di sana! Saya langsung memuaskan hasrat masa kecil saya untuk naik hingga ke lantai 3 bangunan ini. Dulu saya selalu merasa lantai 3 yang pas berada di bawah atap miring ini pasti cantik banget. Katanya dulu ada guru yang tingal di lantai 3 ini. Saya membayangkan ruang tinggalnya dihias dengan renda-renda dan jendela kayu menjorok seperti rumah-rumah di pegunungan Swiss (hint: bacaan masa kecil, Heidi). Tentu sekarang lantai 3 ini juga difungsikan sebagai restoran.
Anyway, sama pentingnya dengan memeriksa khayalan masa kecil, saya diperkenalkan juga dengan beberapa jurnalis dari dunia maya maupun nyata: Ninit Yunita dari Urban Mama, Karmenita dari Mom's Guide, dan Inge dari V Radio. Senangnya dapat teman baru, membangun jejaring itu kan perlu...
Awalnya pengunjung acara kok sepi banget. Sudah ngobrol ngalor-ngidul pun acara tidak dimulai-mulai, sehingga kantuk mulai menyerang. Tapi, ternyata perlahan pengunjung berdatangan. Para mommy muda yang classy beserta para anak kecil yang sering sekali digodain sama kedua MC.
Akhirnya, tibalah giliran saya maju. Setelah berdoa-doa, saya pun duduk di panggung dan mulai bla-bla-bla. Kedua MC yang sebenarnya adalah dua pemuda yang benar-benar muda dan pasti belum pada punya anak, sangat membantu dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sepanjang saya presentasi. Lucu juga sih, karena sebelumnya yang ada di pikiran saya adalah MC-nya bakalan mami-mami juga. Tapi, poinnya adalah mereka sangat membantu menghidupkan presentasi saya, dan I thank them for that.
Lucunya, mungkin saking gugupnya (meskipun rasanya gak gugup-gugup amat juga sih) atau saking kakunya saya, justru ada beberapa hal yang ingin saya bagi malah nggak kesampean. Misalnya tip soal kantong plastik saat packing itu. Agak sayang juga ya, soalnya itu tip yang justru tidak ada di buku, dan baru saya dapatkan belakangan.
MC juga mengarahkan supaya saya sedikit memaparkan dan menjelaskan bedanya jalan-jalan sama balita dan jalan-jalan sama anak SD, which is quite different loh!
So, all in all, rasanya acara ini berjalan cukup baik. Sayangnya karena waktu mulainya yang agak molor, saya memilih untuk pulang duluan seusai tampil karena merasa sudah meninggalkan anak terlalu lama. Tapi, melihat dari media online yang meliput, sepertinya acara berlangsung lancar sampai akhir.
Kalau ada yang meminta jadi pembicara lagi... hmm... ayoooo... (Lho?)
Senin, 16 Januari 2012
Do the Talk
Haaaaiii... Sudah lama ya saya tidak sempat menulis blog, ada beberapa pekerjaan kejar tayang selain tentu saja liburan akhir tahun (Nggak... saya nggak ke mana-mana, bahkan staycation pun gagal memberi suatu pengalaman yang lumayan menarik, karena kami hanya ke mal, ke mal, dan ke mal lagi... Very not inspiring as a self-claimed travel writer). Selama masa-masa tidak sempat menulis itu, sebenarnya ada beberapa pengalaman yang ingin saya share di blog ini. Salah satunya adalah MENULIS PERCAKAPAN.
Hah?
Betul. Masalahnya begini, kemarin-kemarin ini saya kebetulan mengedit naskah novel pengarang Indonesia. Kebetulan naskah ini punya masalah yang sama dengan banyak naskah lain yang pernah saya tangani: adegan percakapannya parah banget. Maksudnya parah bukan percakapannya bolong-bolong, atau tokoh A bertanya tokoh B tidak menjawab, tapi nyaris tidak ada keterangan apa pun tentang nuansa, situasi, latar belakang, perasaan-perasaan si tokoh-tokoh yang terlibat dalam percakapan itu. Jadi percakapan dalam novel hanya terdiri atas kalimat-kalimat dalam tanda petik yang sambung-menyambung berderetan ke bawah. Ini menyebalkan saya sebagai editor, karena saya jadi harus memoles banyak sekali (atau mengembalikan naskah ke pengarang, yang artinya memperlama waktu penerbitan).
Masih bingung? Begini contohnya (contoh ini murni karangan saya, bukan mengutip dari novel mana pun):
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!”
“Hai, Budi. Selamat pagi...”
“Kamu sudah buat PR fisika belum?”
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...”
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?”
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?”
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?”
“Belum tuh...”
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!”
“Hei, ikut dooong!”
Nah, setelah “Hai, Ani” dan “Hai, Budi” sebenarnya jelas nggak sih siapa yang ngomong? Nggak jelas, kan... Apalagi setelah tokoh ketiga, si Cici, memasuki arena percakapan dan percakapan menjadi panjang. Gawat, gawat, gawat. Semakin nggak jelas. Itu masih percakapan pendek, bagaimana percakapan dalam novel yang sering kali panjangnya berhalaman-halaman?
Pengarang sering kali merasa sudah cukup memaparkan dan menjelaskan adegan-adegan yang ada di dalam kepalanya. Padahal belum cukup. Pembaca bukanlah pengarang, pembaca tidak tinggal dalam kepala pengarang, dan pembaca buku bukanlah pembaca pikiran. Dengan demikian pengarang yang ingin naskahnya dinikmati pembaca punya kewajiban untuk menggambarkan sejelas mungkin adegan-adegan dan percakapan-percakapan dalam novelnya. Pendeknya, jangan membuat bingung pembaca. Bermurah-hatilah dengan kata-kata dan huruf-huruf, buatlah deskripsi sebaik mungkin dan sejelas mungkin. Ajaklah pembaca masuk ke alam pikiranmu, wahai Pengarang! Ajak mereka ikut merasakan terik matahari atau sepoi angin, buat mereka ikut merasakan kemarahan dan kekesalan si tokoh, buat mereka juga tersipu-sipu saat si tokoh melirik pujaan hatinya.
Anyway, coba bandingkan adegan si Ani, si Budi, dan si Cici kalau sudah dipermak seperti ini:
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!” sapa Budi dengan mata berbinar nakal.
“Hai, Budi. Selamat pagi...,” jawab Ani sambil duduk di bangkunya. Wajahnya datar-datar saja.
“Kamu sudah buat PR fisika belum?” tanya Budi sambil nangkring di meja Ani. Sikapnya sih sok cuek, tapi sebenarnya dadanya berdebar-debar. Budi bahkan merasa wajahnya agak menghangat, padahal pagi berhujan ini lumayan dingin.
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...,” jawab Ani, tetap dengan datar.
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?” seru Budi gembira. Seruannya mengisi kelas yang baru berisi beberapa murid saja.
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?” Kali ini Ani melirik Budi, bahkan sedikit mendelik. Dia memang pintar, tapi pelit meminjamkan pekerjaannya. Bukannya pelit sih, tapi Ani merasa tiap murid harus berusaha mengerjakan PR-nya sendiri, kalau tidak kapan pintarnya?
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?” Budi cemberut dan melorot turun dari meja Ani, langsung mengalihkan perhatiannya pada Cici yang baru masuk kelas.
“Belum tuh...,” jawab Cici santai.
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!” Budi berbalik dan berjalan ke pintu kelas.
“Hei, ikut dooong!” Tak diduga, Ani bangkit dari bangkunya dan mengejar Budi.
Percakapan yang sudah ditambah-tambahi ini lebih “seru”, kan? Pembaca bisa menangkap bahwa si Budi sebenarnya mungkin ada hati pada si Ani, dan mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Nuansa kelas di pagi hari saat murid-murid mulai berdatangan lumayan ada, dan perasaan-perasaan tokoh-tokoh juga digambarkan.
Saya bisa membayangkan dalam alam pikiran pengarang percakapan Ani dan Budi ini memang terjadi begitu saja. Pagi yang hujan, suasana kelas yang masih sepi, semua mengabur menjadi latar belakang, yang penting adalah dua tokoh utama si Ani dan si Budi. Dalam alam pikiran pengarang, Ani dan Budi berbalasan kata-kata secara langsung. Dan perasaan si Budi yang berdebar-debar, wah, itu kan sudah jelas banget... (dalam pikiran si pengarang).
Semua itu memang sudah jelas bagi si pengarang, tapi belum tentu pembaca bisa menangkap dan mengertinya.
Memang perlu latihan dan latihan serta kejelian untuk menangkap “bolong” ini. Selain itu, tentu saja pembaca awal sangat membantu untuk memberitahu di mana saja letak “bolong” pada naskah. Orang-orang dekat biasanya mau menyediakan waktu untuk menjadi pembaca awal. Mintalah para pembaca awal ini untuk mencermati “bolong” seperti ini.
Semoga obrolan pagi ini lumayan berguna ya... Sampai nanti!
Hah?
Betul. Masalahnya begini, kemarin-kemarin ini saya kebetulan mengedit naskah novel pengarang Indonesia. Kebetulan naskah ini punya masalah yang sama dengan banyak naskah lain yang pernah saya tangani: adegan percakapannya parah banget. Maksudnya parah bukan percakapannya bolong-bolong, atau tokoh A bertanya tokoh B tidak menjawab, tapi nyaris tidak ada keterangan apa pun tentang nuansa, situasi, latar belakang, perasaan-perasaan si tokoh-tokoh yang terlibat dalam percakapan itu. Jadi percakapan dalam novel hanya terdiri atas kalimat-kalimat dalam tanda petik yang sambung-menyambung berderetan ke bawah. Ini menyebalkan saya sebagai editor, karena saya jadi harus memoles banyak sekali (atau mengembalikan naskah ke pengarang, yang artinya memperlama waktu penerbitan).
Masih bingung? Begini contohnya (contoh ini murni karangan saya, bukan mengutip dari novel mana pun):
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!”
“Hai, Budi. Selamat pagi...”
“Kamu sudah buat PR fisika belum?”
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...”
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?”
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?”
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?”
“Belum tuh...”
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!”
“Hei, ikut dooong!”
Nah, setelah “Hai, Ani” dan “Hai, Budi” sebenarnya jelas nggak sih siapa yang ngomong? Nggak jelas, kan... Apalagi setelah tokoh ketiga, si Cici, memasuki arena percakapan dan percakapan menjadi panjang. Gawat, gawat, gawat. Semakin nggak jelas. Itu masih percakapan pendek, bagaimana percakapan dalam novel yang sering kali panjangnya berhalaman-halaman?
Pengarang sering kali merasa sudah cukup memaparkan dan menjelaskan adegan-adegan yang ada di dalam kepalanya. Padahal belum cukup. Pembaca bukanlah pengarang, pembaca tidak tinggal dalam kepala pengarang, dan pembaca buku bukanlah pembaca pikiran. Dengan demikian pengarang yang ingin naskahnya dinikmati pembaca punya kewajiban untuk menggambarkan sejelas mungkin adegan-adegan dan percakapan-percakapan dalam novelnya. Pendeknya, jangan membuat bingung pembaca. Bermurah-hatilah dengan kata-kata dan huruf-huruf, buatlah deskripsi sebaik mungkin dan sejelas mungkin. Ajaklah pembaca masuk ke alam pikiranmu, wahai Pengarang! Ajak mereka ikut merasakan terik matahari atau sepoi angin, buat mereka ikut merasakan kemarahan dan kekesalan si tokoh, buat mereka juga tersipu-sipu saat si tokoh melirik pujaan hatinya.
Anyway, coba bandingkan adegan si Ani, si Budi, dan si Cici kalau sudah dipermak seperti ini:
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!” sapa Budi dengan mata berbinar nakal.
“Hai, Budi. Selamat pagi...,” jawab Ani sambil duduk di bangkunya. Wajahnya datar-datar saja.
“Kamu sudah buat PR fisika belum?” tanya Budi sambil nangkring di meja Ani. Sikapnya sih sok cuek, tapi sebenarnya dadanya berdebar-debar. Budi bahkan merasa wajahnya agak menghangat, padahal pagi berhujan ini lumayan dingin.
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...,” jawab Ani, tetap dengan datar.
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?” seru Budi gembira. Seruannya mengisi kelas yang baru berisi beberapa murid saja.
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?” Kali ini Ani melirik Budi, bahkan sedikit mendelik. Dia memang pintar, tapi pelit meminjamkan pekerjaannya. Bukannya pelit sih, tapi Ani merasa tiap murid harus berusaha mengerjakan PR-nya sendiri, kalau tidak kapan pintarnya?
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?” Budi cemberut dan melorot turun dari meja Ani, langsung mengalihkan perhatiannya pada Cici yang baru masuk kelas.
“Belum tuh...,” jawab Cici santai.
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!” Budi berbalik dan berjalan ke pintu kelas.
“Hei, ikut dooong!” Tak diduga, Ani bangkit dari bangkunya dan mengejar Budi.
Percakapan yang sudah ditambah-tambahi ini lebih “seru”, kan? Pembaca bisa menangkap bahwa si Budi sebenarnya mungkin ada hati pada si Ani, dan mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Nuansa kelas di pagi hari saat murid-murid mulai berdatangan lumayan ada, dan perasaan-perasaan tokoh-tokoh juga digambarkan.
Saya bisa membayangkan dalam alam pikiran pengarang percakapan Ani dan Budi ini memang terjadi begitu saja. Pagi yang hujan, suasana kelas yang masih sepi, semua mengabur menjadi latar belakang, yang penting adalah dua tokoh utama si Ani dan si Budi. Dalam alam pikiran pengarang, Ani dan Budi berbalasan kata-kata secara langsung. Dan perasaan si Budi yang berdebar-debar, wah, itu kan sudah jelas banget... (dalam pikiran si pengarang).
Semua itu memang sudah jelas bagi si pengarang, tapi belum tentu pembaca bisa menangkap dan mengertinya.
Memang perlu latihan dan latihan serta kejelian untuk menangkap “bolong” ini. Selain itu, tentu saja pembaca awal sangat membantu untuk memberitahu di mana saja letak “bolong” pada naskah. Orang-orang dekat biasanya mau menyediakan waktu untuk menjadi pembaca awal. Mintalah para pembaca awal ini untuk mencermati “bolong” seperti ini.
Semoga obrolan pagi ini lumayan berguna ya... Sampai nanti!
Kamis, 29 Desember 2011
We're on Staycation!
Inilah sedihnya pilihan berlibur saat orang lain bekerja: saat masa liburan tiba, ya kami di rumah saja. Atau tepatnya, kami tidak keluar kota. Sesuai namanya yang lucu, staycation yang adalah penggabungan dua kata; stay dan vacation; berarti berlibur di rumah. Tapi, apa saja ya yang bisa dilakukan biar liburan di rumah tidak membuat bosan setengah mati?
Si genjik mulai libur tanggal 14 Desember dan baru akan masuk lagi tanggal 9 Januari. Hiks, horor nggak tuh buat orangtua? Kegiatan apa yang harus diciptakan untuk mengisi waktu yang biasanya diisi dengan pergi ke sekolah?
Hari Jumat minggu pertama libur, ibu-ibu di sekolah mengorganisir playdate. Sasarannya adalah The Playground di Kemang Dalam. Meskipun sangat merekomendasikan tempat bermain sejenis ini, saya sebetulnya jarang-jarang main ke tempat-tempat seperti itu. Ternyata The Playground sangat oke untuk direkomendasikan. Tempat bermainnya outdoor (tapi ditudungi tenda) dan cukup luas. Ada mainan yang bisa dipanjat-panjat, meniti/keseimbangan, juga perosotan. Ada jungkat-jungkit dan ayunan. Dan the star of the day: flying fox. Waduh, anak-anak senang sekali naik flying fox ini, tapi mamah-mamahnya sampe gempor narikin tali dari bawah ke atas berulang-ulang. Lalu ada juga tempat main air yang terdiri atas semprotan air mancur, ember curah, dan perosotan (Mika takut naik perosotannya yang tinggi banget), juga kolam cetek tempat anak bisa melempar bola-bola plastik ke keranjang (seperti basket mini) dan pipa sedot, tempat anak bisa meletakkan bola yang akan tersedot lalu disemburkan di bagian atas pipa. Di hari kerja itu The Playground lumayan sepi, jadi anak-anak nggak sampai harus rebutan mainan. Harga tiket masuknya pun cukup masuk akal, Rp60.000 per anak dengan dua pendamping. Mainan variatif dan terawat. Minusnya mungkin kurangnya pengawas dari The Playground-nya sendiri (mungkin karena itu satu anak boleh bawa dua pendamping dewasa), dan makanan yang wajib dipesan dari kantin di situ---meskipun samosanya enak tenan sih... hehehe...
Minggu berikutnya terpaksa sebagian besar dihabiskan di rumah, karena si kecil batuk akibat kelamaan main air di The Playground (sementara teman-temannya kepalanya tetap kering, si Mika basah kuyup dari atas sampai bawah). Kebetulan saya sendiri juga ada urusan yang membuat harus ke kantor, plus ada acara ketemuan dengan teman-teman. Sementara teman-teman Mika di playgroup membuat playdate lagi, kali ini di Lollypop Gandaria City---yang berlangsung dari jam 12 siang sampai jam 5 sore!). Hari Natal diisi dengan ke gereja, lalu mencoba restoran beken yang belum pernah kami coba: Pepenero di Teras Kota. Wah, pilihan tepat untuk hari raya! Makanannya superenak, sementara harganya menengah. Setelahnya, Mika tentu mau main di Fun City, jadi kami mampir sebentar sebelum istirahat sejenak mengumpulkan tenaga untuk acara malamnya.
Kumpul keluarga sudah jadi kewajiban di hari raya. Keluarga besar kami kumpul di rumah sang buyut di Pamulang. Nyaris komplet, hanya kurang oom nomor tiga dan tante nomor sepuluh yang bernatalan di daerah. Selain makan-makan enak, kami juga sedikit gila-gilaan saat merekam pesan untuk sepupu yang akan menikah di luar negeri. Apa lagi yang paling menyenangkan selain terbahak-bahak bersama keluarga besar?
Senin acara liburan dalam kota dilanjutkan ke mal berikut: PIM yang nggak ada matinya. Mika dan tiga tante, satu oom, plus satu teman, dan dua oma, serta tentu saja si mama, nonton Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked di PIM 1. Meski disebut tante dan oma, jangan salah, mereka masih muda-muda loh. Tante-tante dan oom ini umurnya paling tua kelas 1 SMA saja. Maklum, karena keluarga besar, akhirnya si mama hanya terpaut tiga tahun dari tante yang paling kecil, sementara si Mika hanya terpaut dua tahun dari oom yang paling kecil. Sementara itu, belum ada tanda-tanda bakal ada cucu/cicit lain sebagai teman si Mika, jadilah dia main sama tante-tante dan oom-oomnya saja. Acara nonton diawali dengan makan dulu di Es Teler 77 (yang kehabisan nyaris semua makanan dan tidak menyediakan es teler, es nangka, dll, kecuali es kelapa muda... Aneh sekali...). Mika mogok makan, jadi akhirnya Mama terpaksa membelikan kentang goreng waffle Wendy's, yang untungnya dihabiskannya sambil nonton bioskop. Usai nonton, kami ke Gramedia lumayan lama. Emang dasar ya, udah mendarah daging kesukaan baca di keluarga kami. Dan setelahnya, kami makan es krim di Mama's Gelato di dekat pintu belakang mal. Selesai? Belum... si Mika masih kepengin mampir ke rumah Tante Alice, jadilah kami ke Pamulang, bukannya pulang.
Hari berikutnya jadi hari bongkaran rumah. Segala macam buku yang sudah tidak mau dibaca, pakaian yang sudah tidak muat, dll dsb, kami kumpulkan untuk disumbangkan ke panti asuhan. Mika sibuk ikut menyedot debu. Dia excited sekali menemukan fungsi alat penyedot debu, yang jarang-jarang saya keluarkan. Lumayan, dengan tumpukan sumbangan yang menggunung, rumah mini kami jadi kelihatan agak lega sedikit, debu-debu juga keluar dari persembunyiannya.
Rabu, tadinya hari ini akan jadi hari pergi ke panti asuhan, eh... si oom yang janjinya mengantar malah membuat janji lain dengan orang lain. Jadilah, si kecil dan mamanya menghabiskan seharian penuh di rumah saja. Kami bahkan tidak jalan-jalan sore ke taman karena tidur siang yang kesorean. Hari diisi dengan nonton film dan main dalam kamar, saking panasnya hawa di luar.
Kamis, si kecil dan mamanya ngungsi ke rumah opa, biar ada pergantian suasanya. Mika kembali membuat donatnya yang “terkenal” itu. Didampingi Mbak Tri, dia mencampur-campur terigu, kentang, susu bubuk, dan kali ini sedikit improvisasi: cokelat bubuk. Demi menghabiskan cokelat bubuk yang dibeli di Paris setahun yang lalu (gini nih kalo belanja laper mata). Sementara ini rumah opa masih kosong melompong, karena si opa, oma, dan oom pergi ke Bandung. Sementara oom yang satu lagi kerja. Jadilah Mika dan mamanya penguasa rumah... hohoho...
Jumat akan jadi hari ke panti asuhan yang baru, Sabtu dan Minggu ada acara keluarga, dan mari kita lihat apakah ada acara staycation yang lebih kreatif di minggu terakhir liburan ini. Ciao!
Si genjik mulai libur tanggal 14 Desember dan baru akan masuk lagi tanggal 9 Januari. Hiks, horor nggak tuh buat orangtua? Kegiatan apa yang harus diciptakan untuk mengisi waktu yang biasanya diisi dengan pergi ke sekolah?
Hari Jumat minggu pertama libur, ibu-ibu di sekolah mengorganisir playdate. Sasarannya adalah The Playground di Kemang Dalam. Meskipun sangat merekomendasikan tempat bermain sejenis ini, saya sebetulnya jarang-jarang main ke tempat-tempat seperti itu. Ternyata The Playground sangat oke untuk direkomendasikan. Tempat bermainnya outdoor (tapi ditudungi tenda) dan cukup luas. Ada mainan yang bisa dipanjat-panjat, meniti/keseimbangan, juga perosotan. Ada jungkat-jungkit dan ayunan. Dan the star of the day: flying fox. Waduh, anak-anak senang sekali naik flying fox ini, tapi mamah-mamahnya sampe gempor narikin tali dari bawah ke atas berulang-ulang. Lalu ada juga tempat main air yang terdiri atas semprotan air mancur, ember curah, dan perosotan (Mika takut naik perosotannya yang tinggi banget), juga kolam cetek tempat anak bisa melempar bola-bola plastik ke keranjang (seperti basket mini) dan pipa sedot, tempat anak bisa meletakkan bola yang akan tersedot lalu disemburkan di bagian atas pipa. Di hari kerja itu The Playground lumayan sepi, jadi anak-anak nggak sampai harus rebutan mainan. Harga tiket masuknya pun cukup masuk akal, Rp60.000 per anak dengan dua pendamping. Mainan variatif dan terawat. Minusnya mungkin kurangnya pengawas dari The Playground-nya sendiri (mungkin karena itu satu anak boleh bawa dua pendamping dewasa), dan makanan yang wajib dipesan dari kantin di situ---meskipun samosanya enak tenan sih... hehehe...
Minggu berikutnya terpaksa sebagian besar dihabiskan di rumah, karena si kecil batuk akibat kelamaan main air di The Playground (sementara teman-temannya kepalanya tetap kering, si Mika basah kuyup dari atas sampai bawah). Kebetulan saya sendiri juga ada urusan yang membuat harus ke kantor, plus ada acara ketemuan dengan teman-teman. Sementara teman-teman Mika di playgroup membuat playdate lagi, kali ini di Lollypop Gandaria City---yang berlangsung dari jam 12 siang sampai jam 5 sore!). Hari Natal diisi dengan ke gereja, lalu mencoba restoran beken yang belum pernah kami coba: Pepenero di Teras Kota. Wah, pilihan tepat untuk hari raya! Makanannya superenak, sementara harganya menengah. Setelahnya, Mika tentu mau main di Fun City, jadi kami mampir sebentar sebelum istirahat sejenak mengumpulkan tenaga untuk acara malamnya.
Kumpul keluarga sudah jadi kewajiban di hari raya. Keluarga besar kami kumpul di rumah sang buyut di Pamulang. Nyaris komplet, hanya kurang oom nomor tiga dan tante nomor sepuluh yang bernatalan di daerah. Selain makan-makan enak, kami juga sedikit gila-gilaan saat merekam pesan untuk sepupu yang akan menikah di luar negeri. Apa lagi yang paling menyenangkan selain terbahak-bahak bersama keluarga besar?
Senin acara liburan dalam kota dilanjutkan ke mal berikut: PIM yang nggak ada matinya. Mika dan tiga tante, satu oom, plus satu teman, dan dua oma, serta tentu saja si mama, nonton Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked di PIM 1. Meski disebut tante dan oma, jangan salah, mereka masih muda-muda loh. Tante-tante dan oom ini umurnya paling tua kelas 1 SMA saja. Maklum, karena keluarga besar, akhirnya si mama hanya terpaut tiga tahun dari tante yang paling kecil, sementara si Mika hanya terpaut dua tahun dari oom yang paling kecil. Sementara itu, belum ada tanda-tanda bakal ada cucu/cicit lain sebagai teman si Mika, jadilah dia main sama tante-tante dan oom-oomnya saja. Acara nonton diawali dengan makan dulu di Es Teler 77 (yang kehabisan nyaris semua makanan dan tidak menyediakan es teler, es nangka, dll, kecuali es kelapa muda... Aneh sekali...). Mika mogok makan, jadi akhirnya Mama terpaksa membelikan kentang goreng waffle Wendy's, yang untungnya dihabiskannya sambil nonton bioskop. Usai nonton, kami ke Gramedia lumayan lama. Emang dasar ya, udah mendarah daging kesukaan baca di keluarga kami. Dan setelahnya, kami makan es krim di Mama's Gelato di dekat pintu belakang mal. Selesai? Belum... si Mika masih kepengin mampir ke rumah Tante Alice, jadilah kami ke Pamulang, bukannya pulang.
Hari berikutnya jadi hari bongkaran rumah. Segala macam buku yang sudah tidak mau dibaca, pakaian yang sudah tidak muat, dll dsb, kami kumpulkan untuk disumbangkan ke panti asuhan. Mika sibuk ikut menyedot debu. Dia excited sekali menemukan fungsi alat penyedot debu, yang jarang-jarang saya keluarkan. Lumayan, dengan tumpukan sumbangan yang menggunung, rumah mini kami jadi kelihatan agak lega sedikit, debu-debu juga keluar dari persembunyiannya.
Rabu, tadinya hari ini akan jadi hari pergi ke panti asuhan, eh... si oom yang janjinya mengantar malah membuat janji lain dengan orang lain. Jadilah, si kecil dan mamanya menghabiskan seharian penuh di rumah saja. Kami bahkan tidak jalan-jalan sore ke taman karena tidur siang yang kesorean. Hari diisi dengan nonton film dan main dalam kamar, saking panasnya hawa di luar.
Kamis, si kecil dan mamanya ngungsi ke rumah opa, biar ada pergantian suasanya. Mika kembali membuat donatnya yang “terkenal” itu. Didampingi Mbak Tri, dia mencampur-campur terigu, kentang, susu bubuk, dan kali ini sedikit improvisasi: cokelat bubuk. Demi menghabiskan cokelat bubuk yang dibeli di Paris setahun yang lalu (gini nih kalo belanja laper mata). Sementara ini rumah opa masih kosong melompong, karena si opa, oma, dan oom pergi ke Bandung. Sementara oom yang satu lagi kerja. Jadilah Mika dan mamanya penguasa rumah... hohoho...
Jumat akan jadi hari ke panti asuhan yang baru, Sabtu dan Minggu ada acara keluarga, dan mari kita lihat apakah ada acara staycation yang lebih kreatif di minggu terakhir liburan ini. Ciao!
Rabu, 30 November 2011
Day 4 Belitung November 2011
Bagian 4 dari 4 tulisan
Day 4: Last Day
Yaaah... hari terakhir liburan pun tiba. Rasanya masih pengin banget guling-gulingan lagi di pantai, tapi kami tidak sempat kembali ke Tanjung Kelayang.
Usai sarapan di hotel (tiap malam petugas hotel mengetuk kamar dan menanyakan pilihan sarapan kami: mi goreng, nasi goreng, atau roti), kami belanja kerupuk, terasi, dll di toko Keluarga. Pilihan oleh-oleh di toko Keluarga ini pun beragam banget jenisnya dan harganya pun tidak mencekik, terutama bagi kami yang keluarganya besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar sekali sehingga yang mesti diberi oleh-oleh banyaaaaaaaaaaaaaak sekali. Berbagai jenis kerupuk (ikan, cumi, udang) dalam kantongan ukuran SML dengan harga sesuai ukuran bisa dipilih. Kalau mau ngasih banyak orang, bisa dipilih kantong ukuran S atau M, jadi harganya pun tidak terlalu mencekik. Selain oleh-oleh, saya juga beli terasi untuk konsumsi sendiri dan rusip. Rusip ini adalah teri yang sudah difermentasi, terbayang nikmatnya makan rusip dengan kucuran jeruk nipis plus irisan cabai, sebagai teman nasi hangat. Nyam! Para petugas di toko Keluarga ini juga rupanya sudah piawai menghadapi pelanggan yang kalap belanja, dan sudah menyiapkan kardus bekas sebagai tempat belanjaan. Saya pun menitipkan manggis yang dibeli kemarin dalam kardus. Kardus dipak rapat dengan selotip dan diikat tali plastik keras. Tak lupa diberi nama dan alamat biar tidak diambil orang. Oya, belanja di sini juga bisa dilakukan dengan debit BCA (dan kartu debet lain yang biasa dengan mesin EDC BCA), sehingga sangat memudahkan.
Usai belanja, kami mampir di Musium Belitung. Museum yang lokasinya dekat pantai Tj. Pendam ini kecil saja, tapi koleksinya tertata rapi, bersih, dengan keterangan yang cantik. Penataan harta karun kapal karam sangat modern dan menarik. Di bagian belakang museum terdapat kebun binatang mini (yang agak kotor) dan beberapa mainan anak. Meskipun agak kotor, tapi binatang-binatang yang ada di sana lumayan menakjubkan seperti buaya superbesar dan kura-kura yang juga besar-besar, oh, dan lele yang besar-besar juga... hehehe.... Halaman depan museum memajang meriam dan ranjau bekas Belanda.
Kami juga sempat mampir di rumah Belanda dan rumah adat (yang dibuat khusus seperti di Taman Mini) dan foto-foto di sana. Tentu tak lupa mengambil kepiting isi dan otak-otak yang kami pesan semalam dari Sari Laut. Kak Neli pun mengantar kami ke bandara, dan kami berpisah baik-baik serta berjanji akan kembali lagi ke Belitung suatu hari nanti.
Sayangnya liburan sempurna ini ditutup dengan delay 2 jam di bandara Hanandjoedin, yang membuat mood drop banget.
Belitung adalah tempat yang worth visited banget. Tempatnya indah dan bersih. Harga-harganya masuk akal. Orang-orangnya ramah, jujur, dan sangat melayani. Mari ke sana, sebelum Belitung jadi terlalu ramai seperti Bali! Orang Belitung sendiri rupanya berharap pulaunya tidak akan terlalu ngetop, seperti kata bapak yang menyewakan kapal di Tj. Kelayang, “Aduh, Bu, segini aja, jangan lebih ramai lagi. Nanti rusak semuanya!”
Alamat-alamat
Tanjung Outlet
(kaus, suvenir)
Jl. Sudirman 48A, Tj. Pandan
Keluarga
(kerupuk, suvenir)
Jl. Yos Sudarso 32, Tj. Pandan
(0719) 22714
0812-8128974
uwe_n19@yahoo.com
Rumah Batik
(kaus, suvenir)
Jl. Tj. Kelayang
Batu Itam, Sijuk
0819 29085768
Hotel Pondok Impian 2
Jl. Pattimura, Tj. Pandan
Last but not least, budgeting
Ini dia pengeluaran untuk trip Belitung 4 hari 3 malam untuk satu orang (anak saya tetap hitung satu kepala, jadi semua harga total sudah saya bagi 3), tanpa belanja-belanja (yang jatuhnya bisa sejuta sendiri... eh, maksudnya tergantung seberapa banyak oleh-oleh yang mau dibawa... hehehe):
pesawat pp: Rp890.000
hotel: Rp350.000 (satu malam 350rb tapi krn nginep 3 malam, dibagi 3 kepala, jadi...)
mobil: Rp400.000 (sama kasusnya kayak hotel, catatan tambahan, seharusnya mobil bisa @350rb per hari kalau pesan langsung ke rental, tidak via hotel)
makan 7x: Rp150.000
kapal: Rp120.000
tip tukang kapal: Rp30.000
tip driver: Rp50.000
total: Rp1.990.000
Day 4: Last Day
Yaaah... hari terakhir liburan pun tiba. Rasanya masih pengin banget guling-gulingan lagi di pantai, tapi kami tidak sempat kembali ke Tanjung Kelayang.
Usai sarapan di hotel (tiap malam petugas hotel mengetuk kamar dan menanyakan pilihan sarapan kami: mi goreng, nasi goreng, atau roti), kami belanja kerupuk, terasi, dll di toko Keluarga. Pilihan oleh-oleh di toko Keluarga ini pun beragam banget jenisnya dan harganya pun tidak mencekik, terutama bagi kami yang keluarganya besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar sekali sehingga yang mesti diberi oleh-oleh banyaaaaaaaaaaaaaak sekali. Berbagai jenis kerupuk (ikan, cumi, udang) dalam kantongan ukuran SML dengan harga sesuai ukuran bisa dipilih. Kalau mau ngasih banyak orang, bisa dipilih kantong ukuran S atau M, jadi harganya pun tidak terlalu mencekik. Selain oleh-oleh, saya juga beli terasi untuk konsumsi sendiri dan rusip. Rusip ini adalah teri yang sudah difermentasi, terbayang nikmatnya makan rusip dengan kucuran jeruk nipis plus irisan cabai, sebagai teman nasi hangat. Nyam! Para petugas di toko Keluarga ini juga rupanya sudah piawai menghadapi pelanggan yang kalap belanja, dan sudah menyiapkan kardus bekas sebagai tempat belanjaan. Saya pun menitipkan manggis yang dibeli kemarin dalam kardus. Kardus dipak rapat dengan selotip dan diikat tali plastik keras. Tak lupa diberi nama dan alamat biar tidak diambil orang. Oya, belanja di sini juga bisa dilakukan dengan debit BCA (dan kartu debet lain yang biasa dengan mesin EDC BCA), sehingga sangat memudahkan.
Usai belanja, kami mampir di Musium Belitung. Museum yang lokasinya dekat pantai Tj. Pendam ini kecil saja, tapi koleksinya tertata rapi, bersih, dengan keterangan yang cantik. Penataan harta karun kapal karam sangat modern dan menarik. Di bagian belakang museum terdapat kebun binatang mini (yang agak kotor) dan beberapa mainan anak. Meskipun agak kotor, tapi binatang-binatang yang ada di sana lumayan menakjubkan seperti buaya superbesar dan kura-kura yang juga besar-besar, oh, dan lele yang besar-besar juga... hehehe.... Halaman depan museum memajang meriam dan ranjau bekas Belanda.
Kami juga sempat mampir di rumah Belanda dan rumah adat (yang dibuat khusus seperti di Taman Mini) dan foto-foto di sana. Tentu tak lupa mengambil kepiting isi dan otak-otak yang kami pesan semalam dari Sari Laut. Kak Neli pun mengantar kami ke bandara, dan kami berpisah baik-baik serta berjanji akan kembali lagi ke Belitung suatu hari nanti.
Sayangnya liburan sempurna ini ditutup dengan delay 2 jam di bandara Hanandjoedin, yang membuat mood drop banget.
Belitung adalah tempat yang worth visited banget. Tempatnya indah dan bersih. Harga-harganya masuk akal. Orang-orangnya ramah, jujur, dan sangat melayani. Mari ke sana, sebelum Belitung jadi terlalu ramai seperti Bali! Orang Belitung sendiri rupanya berharap pulaunya tidak akan terlalu ngetop, seperti kata bapak yang menyewakan kapal di Tj. Kelayang, “Aduh, Bu, segini aja, jangan lebih ramai lagi. Nanti rusak semuanya!”
Alamat-alamat
Tanjung Outlet
(kaus, suvenir)
Jl. Sudirman 48A, Tj. Pandan
Keluarga
(kerupuk, suvenir)
Jl. Yos Sudarso 32, Tj. Pandan
(0719) 22714
0812-8128974
uwe_n19@yahoo.com
Rumah Batik
(kaus, suvenir)
Jl. Tj. Kelayang
Batu Itam, Sijuk
0819 29085768
Hotel Pondok Impian 2
Jl. Pattimura, Tj. Pandan
Last but not least, budgeting
Ini dia pengeluaran untuk trip Belitung 4 hari 3 malam untuk satu orang (anak saya tetap hitung satu kepala, jadi semua harga total sudah saya bagi 3), tanpa belanja-belanja (yang jatuhnya bisa sejuta sendiri... eh, maksudnya tergantung seberapa banyak oleh-oleh yang mau dibawa... hehehe):
pesawat pp: Rp890.000
hotel: Rp350.000 (satu malam 350rb tapi krn nginep 3 malam, dibagi 3 kepala, jadi...)
mobil: Rp400.000 (sama kasusnya kayak hotel, catatan tambahan, seharusnya mobil bisa @350rb per hari kalau pesan langsung ke rental, tidak via hotel)
makan 7x: Rp150.000
kapal: Rp120.000
tip tukang kapal: Rp30.000
tip driver: Rp50.000
total: Rp1.990.000
Day 3 Belitung November 2011
Bagian 3 dari 4 tulisan
Day 3: Laskar Pelangi
Pagi-pagi kami berangkat ke Belitung Timur. Perjalanan memutar dulu ke utara, via Bukit Berahu yang belum sempat kami kunjungi kemarin. Di tengah jalan kami memotret pohon unik yang cabangnya membentuk siku-siku, sehingga pohon seperti trisula atau garpu. Kak Neli heran, apa lucunya memotret pohon begitu, tapi kami sih antusias melihat pohon unik seperti itu. Kami bahkan lebih antusias lagi saat diberitahu itu pohon durian. Sedang musim durian di Belitung, yihaaa!!! Sedang musim manggis dan rambutan juga. Sayangnya, sampai pulang akhirnya kami tidak sempat makan durian, karena tiap kali selesai makan rasanya kenyaaaaang sekali... Perut tidak muat lagi untuk disisipi durian. Tapi, saya sempat membeli 4 renteng manggis isi 10 buah untuk dibawa pulang ke Jakarta. Satu rentengnya Rp6.000 saja!
Kami juga sempat mampir di Rumah Batik. Butik kecil ini menjual batik-batikan ala Jawa, jadi harapan kami menemukan tekstil asli Belitung pupus sudah. Ada batik print motif daun simpor, tapi itu kain modern hanya motifnya saja yang mengambil benda khas Belitung. Akhirnya kami membeli kaus saja (Rp60.000), gantungan kunci, dan kartu pos---yang fotonya dibuat oleh kakak si penjaga toko.
Bukit Berahu ternyata tidak terlalu cantik. Tapi teluk ini mempunyai cottage yang lokasinya persis di depan pantai. Tapi pantainya sendiri ombaknya agak besar dan airnya dalam, jadi kurang seru juga buat main. Selain itu pohonnya rimbun, sehingga sampah meskipun hanya daun kering, rasanya agak mengganggu. Sebetulnya seru juga sih membayangkan menginap di sana (hanya Rp250rb per malam), tapi kata Kak Neli, pelayanan di cottage itu kurang bagus, ada tangga tinggi dan lumayan terjal yang menghubungkan barisan kamar dengan kantor dan restoran di atas tebing, dan pelayan katanya malas turun ke bawah sana. Utamanya karena masalah UMR juga sih, kata Kak Neli. Tante bilang, kalau tamu mau kasih tip tiap pesan sesuatu dari atas mungkin pelayan tidak malas turun-naik. Tapi saya bilang, kalo tiap pesan minum atau handuk saja mesti ngetip bisa bangkrut si tamu, bukan begitu?
Jalan dari dan ke Bukit Berahu melewati kampung penduduk, tempat dibuat penganan oleh-oleh seperti kerupuk, pilus, dan terasi. Tapi kami tidak mampir. Jalanan ini juga melewati kampung nelayan Bugis. Selanjutnya perjalanan sungguh panjang dan agak monoton. Kami melewati hutan (Kak Neli menunjukkan pohon ini dan itu, termasuk pohon simpor yang daunnya untuk bungkus makanan, sukun, durian, dll. Kami juga ketemu monyet.), tambang timah yang masih aktif maupun yang sudah mati, kampung Bali yang komplet dengan pura dan para dewa yang gede-gede banget. On and on and on... Ditingkahi soundtrack, “Mika mau ke pantai... Mika mau ke pantai...” yang membuat perjalanan jadi terasa makin panjang.
Hampir jam satu siang, kami baru sampai di Manggar. Saya sudah hampir pengsan kelaparan. Kak Neli membawa kami makan di warung-restoran nasi ayam. Hidangan sederhana nan unik ini hanya terdiri atas nasi gurih diberi taburan ayam suwir dan bawang goreng serta acar, dengan pelengkap kuah isi 3 bakso ikan. Entah karena lapar, entah karena memang gurih banget, hap-hap-hap, nasi ayam yang nikmat itu pindah masuk perut dengan cepat.
Kami lalu keliling-keliling Manggar. Kak Neli menunjukkan sekolahnya Yusril Ihza Mahendra, sekaligus rumahnya. Kami juga sampai ke Pantai Manggar, tapi karena Kak Neli bilang airnya dalam, dan kami tidak mau mengambil risiko anak jongkok di pasir lagi, kami tidak turun.
Oya, sebelumnya kami sempat mampir di Vihara Dewi Kwan Im. Vihara ini sebenarnya biasa saja, dan kami bahkan tidak berhasil menemukan patung si dewi. Di belakang vihara juga terdapat pantai, dan kami juga tidak turun di sana.
Setelah pantai Manggar, kami mendaki Bukit Satam. Di puncaknya, kata riset internet dan bacaan, ada rumah Belanda yang dijadikan restoran. Tapi saat sampai on the spot, rumah itu sudah tidak berbentuk rumah Belanda lagi. Gak seru ah! (Mungkin dalam hati Kak Neli bilang, “I told you so! Gak percaya seeh...” hehehe.)
Turun bukit, kami langsung menuju Gantong, lokasi LP. Tiba di Gantong, Kak Neli membawa kami ke tempat bangunan sekolah Muhamadiyah yang untuk syuting (bangunan baru). Lahan luas di sekeliling bangunan sekolah rupanya diperuntukkan untuk tanam ulang atau reboisasi karena pohonnya masih muda-muda. Di lahan itu juga ada dua rumah kayu berbentuk rumah adat Belitung (nb: di mana-mana di Belitung masih ada rumah adat kayu ini loh...) yang kata Kak Neli diperuntukkan bagi perpustakaan yang janji Andrea Hirata akan didirikannya dengan royalti LP.
Setelah foto-foto, kami lanjut ke Bendungan Pice. Di bendungan bangunan Belanda ini, saya tidak ikut turun sampai ke bendungannya. Biasa, takut kecebur... hehehe... Foto-foto sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Kak Neli menunjukkan rumah Andrea Hirata, tapi kami tidak turun. Kami berhenti di lokasi bangunan sekolah Muhamadiyah LP yang asli. Bangunan ini pun sudah dipindahkan dari lokasi aslinya. Bangunan tampak doyong dan tidak terawat. Bahkan kotor. Sayang juga ya, kok tidak dirawat, padahal mungkin banyak fans LP yang pengin melihat sekolah LP yang asli.
Tidak lama di sana, kami lanjut perjalanan pulang. Perjalanan pulang lebih cepat karena langsung menuju Tanjung Pandan, tidak memutar lagi. Sebagai catatan, jalanan seputar Pulau Belitung ini beraspal mulus, bahkan di wilayah yang supersepi sekalipun. Jalanan pun sepi dari kendaraan lain, jadi serasa pemilik pulau deeeeh... hehehe...
Tiba di Tanjung Pandan, memenuhi keinginan anak, kami singgah di Tanjung Pendam, pantai yang berada dalam kota Tj. Pandan. Sayangnya, ini satu-satunya pantai yang mengecewakan di Belitung. Pantainya kotor, banyak sampah, WC-nya bau. Dan meskipun airnya sedang surut, tapi luasan pantai dipenuhi lubang sarang kepiting-kepiting mungil. Saat saya melangkah ke arah air, kepiting-kepiting itu keluar semua dari liangnya dan berlarian panik di depan saya. Hiiii geliiii... Selain kepiting, banyak juga kerang kerucut dan gundukan sarang ulat. Hiiiii geliiiii...
Usai sunset yang tidak terlalu spektakuler karena mendung, kami kembali ke hotel untuk mandi. Ealah, mendung berubah jadi hujan luar biasa besar. Sialnya, satu-satunya kekurangan hotel kami, tidak ada telepon di kamar! Sampai jam 7 lewat kami terjebak di kamar. Akhirnya saya benar-benar mau pengsan kelaparan lagi, dan Tante menelepon Kak Neli untuk minta tolong agar dipinjamkan payung dari hotel.
Ealah, begitu masuk mobil, hujan jadi rintik lalu berhenti. Karena saya ingin makan kepiting (yang terbayang sih kepiting rebus atau goreng mentega gitu...), Kak Neli membawa kami ke Diva, warung-restoran Cina yang menyediakan kepiting. Menunya sih standar rumah makan Cina di mana-mana, tumis-tumisan, goreng-gorengan. Akhirnya kami memesan sup jagung kepiting, pampi goreng kepiting, dan sapo tahu. Pampi ini unik, kata Kak Neli, pampi itu kwetiaw. Terbayang dong kwetiaw tipis-tipis seperti yang di Jakarta, taunya bentuknya adalah bakmi tebal seperti udon. Kepiting yang disertakan dalam pampi goreng ini masih dalam bentuk capit utuh, sehingga puas menggigitnya. Kokinya juga tidak pelit memberi capit kepiting ini, mungkin ada sekitar selusin capit dalam pampi goreng ini. Sayangnya, seperti umumnya resto Cina, ada sedikit aroma dan rasa gosong yang datang dari wajan yang digunakan memasak berbagai makanan bergantian tanpa dicuci bersih terlebih dulu. Sup jagung kepitingnya juga enak, segar, dan panas. Saya sama sekali tidak mencicipi sapo. Sekali ini pun makanan porsi raksasa ini tidak habis disantap 3 dewasa dan 1 anak, sehingga sapo mesti dibungkus bawa pulang, dan langsung diserahterimakan ke Kak Neli untuk dihibahkan ke tetangganya.
Kami lalu mampir ke Tanjung, outlet oleh-oleh. Outlet ini oke banget karena menyediakan kaus mulai dari superkecil sampai superbesar (5L), desain dan bahannya pun oke. Harga pun oke, antara Rp20.000-60.000. Selain itu outlet ini juga menyediakan berbagai suvenir liburan standar lain seperti magnet kulkas, gantungan kunci, gelang-gelang pantai (biasa aja sih), tas pantai, dll. Saya memilih suvenir-suvenir yang ada tulisan Belitung-nya dong. Sesudah pilih kanan-kiri dan beli-beli, kami beranjak lagi. Sayangnya malam itu pusat oleh-oleh kerupuk dll sedang penuh, jadi kami ke Sari Laut untuk pesan kepiting isi dan otak-otak untuk dibawa pulang ke Jakarta. Lalu kami balik badan dan kembali ke hotel.
Day 3: Laskar Pelangi
Pagi-pagi kami berangkat ke Belitung Timur. Perjalanan memutar dulu ke utara, via Bukit Berahu yang belum sempat kami kunjungi kemarin. Di tengah jalan kami memotret pohon unik yang cabangnya membentuk siku-siku, sehingga pohon seperti trisula atau garpu. Kak Neli heran, apa lucunya memotret pohon begitu, tapi kami sih antusias melihat pohon unik seperti itu. Kami bahkan lebih antusias lagi saat diberitahu itu pohon durian. Sedang musim durian di Belitung, yihaaa!!! Sedang musim manggis dan rambutan juga. Sayangnya, sampai pulang akhirnya kami tidak sempat makan durian, karena tiap kali selesai makan rasanya kenyaaaaang sekali... Perut tidak muat lagi untuk disisipi durian. Tapi, saya sempat membeli 4 renteng manggis isi 10 buah untuk dibawa pulang ke Jakarta. Satu rentengnya Rp6.000 saja!
Kami juga sempat mampir di Rumah Batik. Butik kecil ini menjual batik-batikan ala Jawa, jadi harapan kami menemukan tekstil asli Belitung pupus sudah. Ada batik print motif daun simpor, tapi itu kain modern hanya motifnya saja yang mengambil benda khas Belitung. Akhirnya kami membeli kaus saja (Rp60.000), gantungan kunci, dan kartu pos---yang fotonya dibuat oleh kakak si penjaga toko.
Bukit Berahu ternyata tidak terlalu cantik. Tapi teluk ini mempunyai cottage yang lokasinya persis di depan pantai. Tapi pantainya sendiri ombaknya agak besar dan airnya dalam, jadi kurang seru juga buat main. Selain itu pohonnya rimbun, sehingga sampah meskipun hanya daun kering, rasanya agak mengganggu. Sebetulnya seru juga sih membayangkan menginap di sana (hanya Rp250rb per malam), tapi kata Kak Neli, pelayanan di cottage itu kurang bagus, ada tangga tinggi dan lumayan terjal yang menghubungkan barisan kamar dengan kantor dan restoran di atas tebing, dan pelayan katanya malas turun ke bawah sana. Utamanya karena masalah UMR juga sih, kata Kak Neli. Tante bilang, kalau tamu mau kasih tip tiap pesan sesuatu dari atas mungkin pelayan tidak malas turun-naik. Tapi saya bilang, kalo tiap pesan minum atau handuk saja mesti ngetip bisa bangkrut si tamu, bukan begitu?
Jalan dari dan ke Bukit Berahu melewati kampung penduduk, tempat dibuat penganan oleh-oleh seperti kerupuk, pilus, dan terasi. Tapi kami tidak mampir. Jalanan ini juga melewati kampung nelayan Bugis. Selanjutnya perjalanan sungguh panjang dan agak monoton. Kami melewati hutan (Kak Neli menunjukkan pohon ini dan itu, termasuk pohon simpor yang daunnya untuk bungkus makanan, sukun, durian, dll. Kami juga ketemu monyet.), tambang timah yang masih aktif maupun yang sudah mati, kampung Bali yang komplet dengan pura dan para dewa yang gede-gede banget. On and on and on... Ditingkahi soundtrack, “Mika mau ke pantai... Mika mau ke pantai...” yang membuat perjalanan jadi terasa makin panjang.
Hampir jam satu siang, kami baru sampai di Manggar. Saya sudah hampir pengsan kelaparan. Kak Neli membawa kami makan di warung-restoran nasi ayam. Hidangan sederhana nan unik ini hanya terdiri atas nasi gurih diberi taburan ayam suwir dan bawang goreng serta acar, dengan pelengkap kuah isi 3 bakso ikan. Entah karena lapar, entah karena memang gurih banget, hap-hap-hap, nasi ayam yang nikmat itu pindah masuk perut dengan cepat.
Kami lalu keliling-keliling Manggar. Kak Neli menunjukkan sekolahnya Yusril Ihza Mahendra, sekaligus rumahnya. Kami juga sampai ke Pantai Manggar, tapi karena Kak Neli bilang airnya dalam, dan kami tidak mau mengambil risiko anak jongkok di pasir lagi, kami tidak turun.
Oya, sebelumnya kami sempat mampir di Vihara Dewi Kwan Im. Vihara ini sebenarnya biasa saja, dan kami bahkan tidak berhasil menemukan patung si dewi. Di belakang vihara juga terdapat pantai, dan kami juga tidak turun di sana.
Setelah pantai Manggar, kami mendaki Bukit Satam. Di puncaknya, kata riset internet dan bacaan, ada rumah Belanda yang dijadikan restoran. Tapi saat sampai on the spot, rumah itu sudah tidak berbentuk rumah Belanda lagi. Gak seru ah! (Mungkin dalam hati Kak Neli bilang, “I told you so! Gak percaya seeh...” hehehe.)
Turun bukit, kami langsung menuju Gantong, lokasi LP. Tiba di Gantong, Kak Neli membawa kami ke tempat bangunan sekolah Muhamadiyah yang untuk syuting (bangunan baru). Lahan luas di sekeliling bangunan sekolah rupanya diperuntukkan untuk tanam ulang atau reboisasi karena pohonnya masih muda-muda. Di lahan itu juga ada dua rumah kayu berbentuk rumah adat Belitung (nb: di mana-mana di Belitung masih ada rumah adat kayu ini loh...) yang kata Kak Neli diperuntukkan bagi perpustakaan yang janji Andrea Hirata akan didirikannya dengan royalti LP.
Setelah foto-foto, kami lanjut ke Bendungan Pice. Di bendungan bangunan Belanda ini, saya tidak ikut turun sampai ke bendungannya. Biasa, takut kecebur... hehehe... Foto-foto sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Kak Neli menunjukkan rumah Andrea Hirata, tapi kami tidak turun. Kami berhenti di lokasi bangunan sekolah Muhamadiyah LP yang asli. Bangunan ini pun sudah dipindahkan dari lokasi aslinya. Bangunan tampak doyong dan tidak terawat. Bahkan kotor. Sayang juga ya, kok tidak dirawat, padahal mungkin banyak fans LP yang pengin melihat sekolah LP yang asli.
Tidak lama di sana, kami lanjut perjalanan pulang. Perjalanan pulang lebih cepat karena langsung menuju Tanjung Pandan, tidak memutar lagi. Sebagai catatan, jalanan seputar Pulau Belitung ini beraspal mulus, bahkan di wilayah yang supersepi sekalipun. Jalanan pun sepi dari kendaraan lain, jadi serasa pemilik pulau deeeeh... hehehe...
Tiba di Tanjung Pandan, memenuhi keinginan anak, kami singgah di Tanjung Pendam, pantai yang berada dalam kota Tj. Pandan. Sayangnya, ini satu-satunya pantai yang mengecewakan di Belitung. Pantainya kotor, banyak sampah, WC-nya bau. Dan meskipun airnya sedang surut, tapi luasan pantai dipenuhi lubang sarang kepiting-kepiting mungil. Saat saya melangkah ke arah air, kepiting-kepiting itu keluar semua dari liangnya dan berlarian panik di depan saya. Hiiii geliiii... Selain kepiting, banyak juga kerang kerucut dan gundukan sarang ulat. Hiiiii geliiiii...
Usai sunset yang tidak terlalu spektakuler karena mendung, kami kembali ke hotel untuk mandi. Ealah, mendung berubah jadi hujan luar biasa besar. Sialnya, satu-satunya kekurangan hotel kami, tidak ada telepon di kamar! Sampai jam 7 lewat kami terjebak di kamar. Akhirnya saya benar-benar mau pengsan kelaparan lagi, dan Tante menelepon Kak Neli untuk minta tolong agar dipinjamkan payung dari hotel.
Ealah, begitu masuk mobil, hujan jadi rintik lalu berhenti. Karena saya ingin makan kepiting (yang terbayang sih kepiting rebus atau goreng mentega gitu...), Kak Neli membawa kami ke Diva, warung-restoran Cina yang menyediakan kepiting. Menunya sih standar rumah makan Cina di mana-mana, tumis-tumisan, goreng-gorengan. Akhirnya kami memesan sup jagung kepiting, pampi goreng kepiting, dan sapo tahu. Pampi ini unik, kata Kak Neli, pampi itu kwetiaw. Terbayang dong kwetiaw tipis-tipis seperti yang di Jakarta, taunya bentuknya adalah bakmi tebal seperti udon. Kepiting yang disertakan dalam pampi goreng ini masih dalam bentuk capit utuh, sehingga puas menggigitnya. Kokinya juga tidak pelit memberi capit kepiting ini, mungkin ada sekitar selusin capit dalam pampi goreng ini. Sayangnya, seperti umumnya resto Cina, ada sedikit aroma dan rasa gosong yang datang dari wajan yang digunakan memasak berbagai makanan bergantian tanpa dicuci bersih terlebih dulu. Sup jagung kepitingnya juga enak, segar, dan panas. Saya sama sekali tidak mencicipi sapo. Sekali ini pun makanan porsi raksasa ini tidak habis disantap 3 dewasa dan 1 anak, sehingga sapo mesti dibungkus bawa pulang, dan langsung diserahterimakan ke Kak Neli untuk dihibahkan ke tetangganya.
Kami lalu mampir ke Tanjung, outlet oleh-oleh. Outlet ini oke banget karena menyediakan kaus mulai dari superkecil sampai superbesar (5L), desain dan bahannya pun oke. Harga pun oke, antara Rp20.000-60.000. Selain itu outlet ini juga menyediakan berbagai suvenir liburan standar lain seperti magnet kulkas, gantungan kunci, gelang-gelang pantai (biasa aja sih), tas pantai, dll. Saya memilih suvenir-suvenir yang ada tulisan Belitung-nya dong. Sesudah pilih kanan-kiri dan beli-beli, kami beranjak lagi. Sayangnya malam itu pusat oleh-oleh kerupuk dll sedang penuh, jadi kami ke Sari Laut untuk pesan kepiting isi dan otak-otak untuk dibawa pulang ke Jakarta. Lalu kami balik badan dan kembali ke hotel.
Langganan:
Entri (Atom)
