<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891</id><updated>2012-02-16T16:57:45.429-08:00</updated><category term='traveling'/><category term='fun with kids'/><category term='editing and publishing'/><category term='book'/><category term='book related'/><category term='thoughts'/><title type='text'>A Jar Full of Honey</title><subtitle type='html'>Life is sweet, as sweet as a jar full of honey...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-6668044633005514275</id><published>2012-02-02T01:02:00.001-08:00</published><updated>2012-02-02T01:20:46.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='thoughts'/><title type='text'>Blessings</title><content type='html'>Dalam dua hari ini dua kali saya mendapat pesan yang nyaris sama, yang sayang kalau tidak dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama begini: rezeki itu kakinya sepuluh, kita kakinya dua. Mau sampai kapan kita ngejar rezeki, nggak bakalan kekejar. Mendingan kita diam saja, bikin diri kita semenarik mungkin, nanti rezeki yang datang sendiri ke kita. (www.manislegit.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mungkin versi "bisnis" dan "modern"-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya dapat versi "biblis"-nya: Kita mengikuti berkat (versi di atas: mengejar rezeki) atau berkat mengikuti kita (versi di atas: membuat diri menarik sehingga rezeki datang). Kalau kita ngotot mengikuti berkat, dalam artian kita berdoa hanya untuk hal-hal duniawi, kita akan mati dan jauh dari Tuhan. Tapi kalau kita "diam saja", dalam artian berdoa untuk menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan, maka berkat akan datang sendiri bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, versi pertama lebih mudah dimengerti kali yaaa... hehehe... Tapi kedua versi ini punya makna yang sama dan menurut saya sih benar. Menurut saya, kita harus berusaha 101% untuk menjadi the best we can do, lalu everything else will follow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saya sebagai ibu rumah tangga, selama ini kebanyakan whining dan minta pengertian orang-orang "ih, gue kan gak punya pembantu blablabla". So what? Orang lain juga nggak punya pembantu kok, just live it! Saya merasa karena saya kebanyakan mengasihani diri sendiri, justru akhirnya saya tidak 101% sebagai ibu, males ini, males itu, minta dimengerti ini dan itu. Padahal seharusnya kalau saya bisa put my heart in to it, maka saya bisa mendapat hasil yang lebih baik, rumah yg lebih rapi, makanan yang lebih sehat, anak yang lebih berkembang, dll dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tidak 101% ini rupanya sudah jadi penyakit saya sejak kecil. Saya masih ingat guru-guru SD saya yang memberi nasihat supaya lebih rajin setiap acara penerimaan rapor. Tapi ya itulah... Kayaknya selalu saja ada hal lain yang lebih menarik untuk dilakukan ketimbang belajar (waktu kecil dulu). Khawatirnya, sekarang meskipun sudah dewasa dan mengerti ini-itu, saya tetap selalu berhasil mendapat pengalih perhatian dari hal-hal lain yang seharusnya lebih utama untuk saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan paragraf di atas: untuk jadi 101% kita harus fokus... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Betapa menulis blog ini membawa pencerahan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, anyway, kembali ke masalah berkat dan rezeki. Berkat memang tidak harus dikejar, tapi tetap harus diusahakan. Diusahakan dengan... fokus dan berjuang 101%. Semangat!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-6668044633005514275?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/6668044633005514275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=6668044633005514275' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6668044633005514275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6668044633005514275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2012/02/blessings.html' title='Blessings'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-278935925916267131</id><published>2012-01-29T04:40:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T04:44:05.244-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Just Keep Swimming!</title><content type='html'>“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just keep swimming! Just keep swimming!&lt;/span&gt;” Itu kata Dory si ikan Napoleon dalam film “Finding Nemo”. Pernah nonton, kan? Dalam film itu Dory menyemangati Marlin yang selalu pesimis dan punya aura “Gue pasti gagal! Gue pasti gagal!” Intinya nyanyian si Dory, ayo, jangan patah semangat, jangan berhenti, terus lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuah si Dory bisa juga diaplikasikan ke kegiatan menulis (dan banyak hal lain dalam hidup ini); jangan berhenti, terus lakukan, jangan patah semangat! Dalam hal menulis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;just keep writing &lt;/span&gt;menjadi jauh lebih penting daripada sekadar membakar semangat kita, para penulis. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just keep writing &lt;/span&gt;membuat kita jadi semakin luwes, ide-ide kita semakin berkembang dan bermunculan, pilihan kata kita juga jadi makin variatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So&lt;/span&gt;, luangkan waktu untuk menulis tiap hari! Jangan malas! Jangan malu! Disiplin! Disiplin! Disiplin! (Sejujurnya, ini teriakan-teriakan untuk diri sendiri.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling mudah dari kegagalan menulis sedikit setiap harinya adalah... ta-daaa... Saya sendiri. Tentu saja sebagai ibu rumah tangga banyak urusan, saya ya... banyak urusan yang membuat saya jadi bisa mencari-cari alasan untuk tidak menulis, misalnya... anak rewel, anak merebut komputer, anak minta ditemenin, setelah anak tidur, ibunya capek, ibunya ngantuk, saat nemenin tidur ikut ketiduran dll dsb dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti banyak hal lain di dunia ini, alasan-alasan itu bisa dinulifikasikan asalkan ada niat dan semangat untuk melakukannya. Argh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So, step one: &lt;/span&gt;niat untuk membuang semua alasan dan mulai menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Step two: &lt;/span&gt;memilih media menulis. Bagi saya mudah, saya sudah punya blog ini. Jadi tinggal mendisiplinkan diri untuk mengisinya dengan tulisan. Bagi orang lain bisa saja dia memilih buku tulis, diary cantik, atau ketak-ketik di komputernya, baik di-share dengan orang lain ataupun tidak. Media sosial seperti facebook atau twitter bisa membantu juga. Tapi saya pribadi merasa twitter tidak membantu seseorang menjadi penulis, karena ruang yang disediakannya hanya cukup untuk lontaran pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Step three: &lt;/span&gt;mengisi media itu dengan tulisan. Mulailah kita menghadapi masalah pertama... Mau nulis apa? Semua orang yang mulai menulis pasti menghadapi ini. Mau dia itu penulis andal dan berbakat, mau dia penulis pemula. Maka muncullah pertanyaan standar bagi para pengarang: Idenya datang dari mana? Dan jawaban standar (tapi benar) pun muncul: dari mana-mana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mind mapping &lt;/span&gt;seperti yang diajarkan oleh Tony Buzan sangat membantu. Sayang saya agak gaptek sehingga tidak bisa memasang gambarnya di sini, tapi moga-moga saya bisa menjelaskan dengan cukup baik. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mind mapping &lt;/span&gt;seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;brain storming, &lt;/span&gt;menuliskan segala hal yang berkaitan dengan topik yang ingin kita tulis, tetapi dengan lebih rapi. Misalnya kita ingin menulis soal kamar tidur, apa yang muncul dalam kepala kita saat mendengar kata kamar tidur? Tempat tidur, lemari, nakas. Apa yang terpikir saat mendengar kata tempat tidur? Bantal, seprai, kasurnya latex atau kapuk, letaknya di tengah ruangan atau dekat jendela, ukurannya dobel atau singel, pencahayaan yang mengenai tempat tidur itu terang atau remang-remang. Apa yang terpikir saat mendengar kata bantal? Jumlahnya berapa, sarung bantalnya motifnya apa... Dst dst. Itu baru satu topik kamar tidur (tempat tidur) yang dipecah-pecah. Nah, bayangkan betapa banyak yang bisa “dipecah-pecah” lagi dari topik kamar tidur. Jadi, teknik mind map adalah salah satu teknik menarik untuk mencari ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Just keep writing &lt;/span&gt;juga membuat kita lebih luwes dalam mencari ide. Soalnya begini, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita menyinggung berbagai topik, semakin luas kita bereksplorasi dengan pengetahuan kita, otomatis makin banyak juga ide yang muncul. Itulah gunanya latihan dan tidak berhenti menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So, &lt;/span&gt;mari kita kembali ke &lt;span style="font-style:italic;"&gt;step one: &lt;/span&gt;niat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, niat saja tidak cukup. Untuk membakar niat dan semangat kita, terus terang harus ada semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward. &lt;/span&gt;Sesungguhnya, bisa membuat tulisan yang baik itu sudah membawa kepuasan yang bisa menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward &lt;/span&gt;bagi kita. Tapi bisa juga kita menciptakan reward yang lain. Salah satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward &lt;/span&gt;yang menyenangkan bagi saya adalah... ternyata tulisan saya dibaca orang! Yay! Ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;follower &lt;/span&gt;blog saya! Yay! Biarpun masih sedikit, gak papa... tapi ya, itu salah satu contoh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;So... ayo rajin... ayo rajin... disiplin... jangan setengah-setengah... AYO!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-278935925916267131?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/278935925916267131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=278935925916267131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/278935925916267131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/278935925916267131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2012/01/just-keep-swimming.html' title='Just Keep Swimming!'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-2011900176003465537</id><published>2012-01-19T06:37:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T06:40:38.973-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book related'/><title type='text'>Blink!</title><content type='html'>Awal Desember tahun lalu, saya mendapat kejutan yang lumayan membuat ge-er: Blink! Clothes meminta saya jadi pembicara dalam acara launching produknya. Idiiiih... Antara mau-mau-tak-mau, ya ge-er ya malu. Ceritanya saya diminta kesediaannya ini gara-gara buku-buku saya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Traveling with Tots &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Traveling with Kids&lt;/span&gt;, temanya cocok dengan produk yang akan mereka launching yaitu pakaian khusus traveling untuk ibu dan anak putri balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat bingung nih, apa ya yang mau dibicarakan dalam kesempatan itu? Akhirnya saya memilih memberi ringkasan isi buku saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Traveling with Tots&lt;/span&gt;, mengingat audience yang dituju adalah ibu beranak balita. Presentasi yang coba saya buat tentu payah banget, mengingat ini pertama kalinya membuat presentasi dan menggunakan program power point (yang sebenarnya sangat mudah itu), sekaligus nyaris tidak mungkin mereka-reka poin-poin yang keren juga ilustrasi foto yang tepat saat ada kurcaci yang selalu teriak, “Ma, mau liat Lego City!!!” setiap kali laptop saya keluar dari peraduannya. Anyway, syukurlah punya adik yang sudah sering berpresentasi, sehingga presentasi bapuk saya akhirnya dipercantik dengan bantuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, setelah beberapa kali ngomong sendiri kayak orang gila, pura-puranya di depan audience, berangkatlah saya ke venue di Birdcage, Wijaya 9. OMG! Taunya tempat ini dulu bekas TK saya! Sungguh, dulu saya menjalani satu tahun ajaran TK kecil (dulu TK B) di sana! Saya langsung memuaskan hasrat masa kecil saya untuk naik hingga ke lantai 3 bangunan ini. Dulu saya selalu merasa lantai 3 yang pas berada di bawah atap miring ini pasti cantik banget. Katanya dulu ada guru yang tingal di lantai 3 ini. Saya membayangkan ruang tinggalnya dihias dengan renda-renda dan jendela kayu menjorok seperti rumah-rumah di pegunungan Swiss (hint: bacaan masa kecil, Heidi). Tentu sekarang lantai 3 ini juga difungsikan sebagai restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, sama pentingnya dengan memeriksa khayalan masa kecil, saya diperkenalkan juga dengan beberapa jurnalis dari dunia maya maupun nyata: Ninit Yunita dari Urban Mama, Karmenita dari Mom's Guide, dan Inge dari V Radio. Senangnya dapat teman baru, membangun jejaring itu kan perlu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya pengunjung acara kok sepi banget. Sudah ngobrol ngalor-ngidul pun acara tidak dimulai-mulai, sehingga kantuk mulai menyerang. Tapi, ternyata perlahan pengunjung berdatangan. Para mommy muda yang classy beserta para anak kecil yang sering sekali digodain sama kedua MC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tibalah giliran saya maju. Setelah berdoa-doa, saya pun duduk di panggung dan mulai bla-bla-bla. Kedua MC yang sebenarnya adalah dua pemuda yang benar-benar muda dan pasti belum pada punya anak, sangat membantu dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sepanjang saya presentasi. Lucu juga sih, karena sebelumnya yang ada di pikiran saya adalah MC-nya bakalan mami-mami juga. Tapi, poinnya adalah mereka sangat membantu menghidupkan presentasi saya, dan I thank them for that. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, mungkin saking gugupnya (meskipun rasanya gak gugup-gugup amat juga sih) atau saking kakunya saya, justru ada beberapa hal yang ingin saya bagi malah nggak kesampean. Misalnya tip soal kantong plastik saat packing itu. Agak sayang juga ya, soalnya itu tip yang justru tidak ada di buku, dan baru saya dapatkan belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MC juga mengarahkan supaya saya sedikit memaparkan dan menjelaskan bedanya jalan-jalan sama balita dan jalan-jalan sama anak SD, which is quite different loh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, all in all, rasanya acara ini berjalan cukup baik. Sayangnya karena waktu mulainya yang agak molor, saya memilih untuk pulang duluan seusai tampil karena merasa sudah meninggalkan anak terlalu lama. Tapi, melihat dari media online yang meliput, sepertinya acara berlangsung lancar sampai akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang meminta jadi pembicara lagi... hmm... ayoooo... (Lho?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-2011900176003465537?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/2011900176003465537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=2011900176003465537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2011900176003465537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2011900176003465537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2012/01/blink.html' title='Blink!'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-966612885221549968</id><published>2012-01-16T16:43:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T16:45:05.359-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Do the Talk</title><content type='html'>Haaaaiii... Sudah lama ya saya tidak sempat menulis blog, ada beberapa pekerjaan kejar tayang selain tentu saja liburan akhir tahun (Nggak... saya nggak ke mana-mana, bahkan staycation pun gagal memberi suatu pengalaman yang lumayan menarik, karena kami hanya ke mal, ke mal, dan ke mal lagi... Very not inspiring as a self-claimed travel writer). Selama masa-masa tidak sempat menulis itu, sebenarnya ada beberapa pengalaman yang ingin saya share di blog ini. Salah satunya adalah MENULIS PERCAKAPAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Masalahnya begini, kemarin-kemarin ini saya kebetulan mengedit naskah novel pengarang Indonesia. Kebetulan naskah ini punya masalah yang sama dengan banyak naskah lain yang pernah saya tangani: adegan percakapannya parah banget. Maksudnya parah bukan percakapannya bolong-bolong, atau tokoh A bertanya tokoh B tidak menjawab, tapi nyaris tidak ada keterangan apa pun tentang nuansa, situasi, latar belakang, perasaan-perasaan si tokoh-tokoh yang terlibat dalam percakapan itu. Jadi percakapan dalam novel hanya terdiri atas kalimat-kalimat dalam tanda petik yang sambung-menyambung berderetan ke bawah. Ini menyebalkan saya sebagai editor, karena saya jadi harus memoles banyak sekali (atau mengembalikan naskah ke pengarang, yang artinya memperlama waktu penerbitan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bingung? Begini contohnya (contoh ini murni karangan saya, bukan mengutip dari novel mana pun):&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.&lt;br /&gt;“Hai, Ani!”&lt;br /&gt;“Hai, Budi. Selamat pagi...”&lt;br /&gt;“Kamu sudah buat PR fisika belum?”&lt;br /&gt;“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...”&lt;br /&gt;“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?”&lt;br /&gt;“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?”&lt;br /&gt;“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?”&lt;br /&gt;“Belum tuh...”&lt;br /&gt;“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!”&lt;br /&gt;“Hei, ikut dooong!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah “Hai, Ani” dan “Hai, Budi” sebenarnya jelas nggak sih siapa yang ngomong? Nggak jelas, kan... Apalagi setelah tokoh ketiga, si Cici, memasuki arena percakapan dan percakapan menjadi panjang. Gawat, gawat, gawat. Semakin nggak jelas. Itu masih percakapan pendek, bagaimana percakapan dalam novel yang sering kali panjangnya berhalaman-halaman? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang sering kali merasa sudah cukup memaparkan dan menjelaskan adegan-adegan yang ada di dalam kepalanya. Padahal belum cukup. Pembaca bukanlah pengarang, pembaca tidak tinggal dalam kepala pengarang, dan pembaca buku bukanlah pembaca pikiran. Dengan demikian pengarang yang ingin naskahnya dinikmati pembaca punya kewajiban untuk menggambarkan sejelas mungkin adegan-adegan dan percakapan-percakapan dalam novelnya. Pendeknya, jangan membuat bingung pembaca. Bermurah-hatilah dengan kata-kata dan huruf-huruf, buatlah deskripsi sebaik mungkin dan sejelas mungkin. Ajaklah pembaca masuk ke alam pikiranmu, wahai Pengarang! Ajak mereka ikut merasakan terik matahari atau sepoi angin, buat mereka ikut merasakan kemarahan dan kekesalan si tokoh, buat mereka juga tersipu-sipu saat si tokoh melirik pujaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, coba bandingkan adegan si Ani, si Budi, dan si Cici kalau sudah dipermak seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.&lt;br /&gt;“Hai, Ani!” sapa Budi dengan mata berbinar nakal.&lt;br /&gt;“Hai, Budi. Selamat pagi...,” jawab Ani sambil duduk di bangkunya. Wajahnya datar-datar saja.&lt;br /&gt;“Kamu sudah buat PR fisika belum?” tanya Budi sambil nangkring di meja Ani. Sikapnya sih sok cuek, tapi sebenarnya dadanya berdebar-debar. Budi bahkan merasa wajahnya agak menghangat, padahal pagi berhujan ini lumayan dingin.&lt;br /&gt;“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...,” jawab Ani, tetap dengan datar.&lt;br /&gt;“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?” seru Budi gembira. Seruannya mengisi kelas yang baru berisi beberapa murid saja.&lt;br /&gt;“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?” Kali ini Ani melirik Budi, bahkan sedikit mendelik. Dia memang pintar, tapi pelit meminjamkan pekerjaannya. Bukannya pelit sih, tapi Ani merasa tiap murid harus berusaha mengerjakan PR-nya sendiri, kalau tidak kapan pintarnya?&lt;br /&gt;“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?” Budi cemberut dan melorot turun dari meja Ani, langsung mengalihkan perhatiannya pada Cici yang baru masuk kelas.&lt;br /&gt;“Belum tuh...,” jawab Cici santai.&lt;br /&gt;“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!” Budi berbalik dan berjalan ke pintu kelas.&lt;br /&gt;“Hei, ikut dooong!” Tak diduga, Ani bangkit dari bangkunya dan mengejar Budi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Percakapan yang sudah ditambah-tambahi ini lebih “seru”, kan? Pembaca bisa menangkap bahwa si Budi sebenarnya mungkin ada hati pada si Ani, dan mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Nuansa kelas di pagi hari saat murid-murid mulai berdatangan lumayan ada, dan perasaan-perasaan tokoh-tokoh juga digambarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa membayangkan dalam alam pikiran pengarang percakapan Ani dan Budi ini memang terjadi begitu saja. Pagi yang hujan, suasana kelas yang masih sepi, semua mengabur menjadi latar belakang, yang penting adalah dua tokoh utama si Ani dan si Budi. Dalam alam pikiran pengarang, Ani dan Budi berbalasan kata-kata secara langsung. Dan perasaan si Budi yang berdebar-debar, wah, itu kan sudah jelas banget... (dalam pikiran si pengarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu memang sudah jelas bagi si pengarang, tapi belum tentu pembaca bisa menangkap dan mengertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perlu latihan dan latihan serta kejelian untuk menangkap “bolong” ini. Selain itu, tentu saja pembaca awal sangat membantu untuk memberitahu di mana saja letak “bolong” pada naskah. Orang-orang dekat biasanya mau menyediakan waktu untuk menjadi pembaca awal. Mintalah para pembaca awal ini untuk mencermati “bolong” seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga obrolan pagi ini lumayan berguna ya... Sampai nanti!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-966612885221549968?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/966612885221549968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=966612885221549968' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/966612885221549968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/966612885221549968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2012/01/do-talk.html' title='Do the Talk'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-8029267478973849415</id><published>2011-12-29T03:47:00.000-08:00</published><updated>2011-12-29T03:50:46.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fun with kids'/><title type='text'>We're on Staycation!</title><content type='html'>Inilah sedihnya pilihan berlibur saat orang lain bekerja: saat masa liburan tiba, ya kami di rumah saja. Atau tepatnya, kami tidak keluar kota. Sesuai namanya yang lucu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;staycation &lt;/span&gt;yang adalah penggabungan dua kata; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stay &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;vacation; &lt;/span&gt;berarti berlibur di rumah. Tapi, apa saja ya yang bisa dilakukan biar liburan di rumah tidak membuat bosan setengah mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si genjik mulai libur tanggal 14 Desember dan baru akan masuk lagi tanggal 9 Januari. Hiks, horor nggak tuh buat orangtua? Kegiatan apa yang harus diciptakan untuk mengisi waktu yang biasanya diisi dengan pergi ke sekolah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat minggu pertama libur, ibu-ibu di sekolah mengorganisir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;playdate. &lt;/span&gt;Sasarannya adalah The Playground di Kemang Dalam. Meskipun sangat merekomendasikan tempat bermain sejenis ini, saya sebetulnya jarang-jarang main ke tempat-tempat seperti itu. Ternyata The Playground sangat oke untuk direkomendasikan. Tempat bermainnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;outdoor &lt;/span&gt;(tapi ditudungi tenda) dan cukup luas. Ada mainan yang bisa dipanjat-panjat, meniti/keseimbangan, juga perosotan. Ada jungkat-jungkit dan ayunan. Dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the star of the day: flying fox. &lt;/span&gt;Waduh, anak-anak senang sekali naik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;flying fox &lt;/span&gt;ini, tapi mamah-mamahnya sampe gempor narikin tali dari bawah ke atas berulang-ulang. Lalu ada juga tempat main air yang terdiri atas semprotan air mancur, ember curah, dan perosotan (Mika takut naik perosotannya yang tinggi banget), juga kolam cetek tempat anak bisa melempar bola-bola plastik ke keranjang (seperti basket mini) dan pipa sedot, tempat anak bisa meletakkan bola yang akan tersedot lalu disemburkan di bagian atas pipa. Di hari kerja itu The Playground lumayan sepi, jadi anak-anak nggak sampai harus rebutan mainan. Harga tiket masuknya pun cukup masuk akal, Rp60.000 per anak dengan dua pendamping. Mainan variatif dan terawat. Minusnya mungkin kurangnya pengawas dari The Playground-nya sendiri (mungkin karena itu satu anak boleh bawa dua pendamping dewasa), dan makanan yang wajib dipesan dari kantin di situ---meskipun samosanya enak tenan sih... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu berikutnya terpaksa sebagian besar dihabiskan di rumah, karena si kecil batuk akibat kelamaan main air di The Playground (sementara teman-temannya kepalanya tetap kering, si Mika basah kuyup dari atas sampai bawah). Kebetulan saya sendiri juga ada urusan yang membuat harus ke kantor, plus ada acara ketemuan dengan teman-teman. Sementara teman-teman Mika di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;playgroup &lt;/span&gt;membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;playdate &lt;/span&gt;lagi, kali ini di Lollypop Gandaria City---yang berlangsung dari jam 12 siang sampai jam 5 sore!). Hari Natal diisi dengan ke gereja, lalu mencoba restoran beken yang belum pernah kami coba: Pepenero di Teras Kota. Wah, pilihan tepat untuk hari raya! Makanannya superenak, sementara harganya menengah. Setelahnya, Mika tentu mau main di Fun City, jadi kami mampir sebentar sebelum istirahat sejenak mengumpulkan tenaga untuk acara malamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpul keluarga sudah jadi kewajiban di hari raya. Keluarga besar kami kumpul di rumah sang buyut di Pamulang. Nyaris komplet, hanya kurang oom nomor tiga dan tante nomor sepuluh yang bernatalan di daerah. Selain makan-makan enak, kami juga sedikit gila-gilaan saat merekam pesan untuk sepupu yang akan menikah di luar negeri. Apa lagi yang paling menyenangkan selain terbahak-bahak bersama keluarga besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin acara liburan dalam kota dilanjutkan ke mal berikut: PIM yang nggak ada matinya. Mika dan tiga tante, satu oom, plus satu teman, dan dua oma, serta tentu saja si mama, nonton &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked &lt;/span&gt;di PIM 1. Meski disebut tante dan oma, jangan salah, mereka masih muda-muda loh. Tante-tante dan oom ini umurnya paling tua kelas 1 SMA saja. Maklum, karena keluarga besar, akhirnya si mama hanya terpaut tiga tahun dari tante yang paling kecil, sementara si Mika hanya terpaut dua tahun dari oom yang paling kecil. Sementara itu, belum ada tanda-tanda bakal ada cucu/cicit lain sebagai teman si Mika, jadilah dia main sama tante-tante dan oom-oomnya saja. Acara nonton diawali dengan makan dulu di Es Teler 77 (yang kehabisan nyaris semua makanan dan tidak menyediakan es teler, es nangka, dll, kecuali es kelapa muda... Aneh sekali...). Mika mogok makan, jadi akhirnya Mama terpaksa membelikan kentang goreng waffle Wendy's, yang untungnya dihabiskannya sambil nonton bioskop. Usai nonton, kami ke Gramedia lumayan lama. Emang dasar ya, udah mendarah daging kesukaan baca di keluarga kami. Dan setelahnya, kami makan es krim di Mama's Gelato di dekat pintu belakang mal. Selesai? Belum... si Mika masih kepengin mampir ke rumah Tante Alice, jadilah kami ke Pamulang, bukannya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya jadi hari bongkaran rumah. Segala macam buku yang sudah tidak mau dibaca, pakaian yang sudah tidak muat, dll dsb, kami kumpulkan untuk disumbangkan ke panti asuhan. Mika sibuk ikut menyedot debu. Dia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;excited &lt;/span&gt;sekali menemukan fungsi alat penyedot debu, yang jarang-jarang saya keluarkan. Lumayan, dengan tumpukan sumbangan yang menggunung, rumah mini kami jadi kelihatan agak lega sedikit, debu-debu juga keluar dari persembunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, tadinya hari ini akan jadi hari pergi ke panti asuhan, eh... si oom yang janjinya mengantar malah membuat janji lain dengan orang lain. Jadilah, si kecil dan mamanya menghabiskan seharian penuh di rumah saja. Kami bahkan tidak jalan-jalan sore ke taman karena tidur siang yang kesorean. Hari diisi dengan nonton film dan main dalam kamar, saking panasnya hawa di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, si kecil dan mamanya ngungsi ke rumah opa, biar ada pergantian suasanya. Mika kembali membuat donatnya yang “terkenal” itu. Didampingi Mbak Tri, dia mencampur-campur terigu, kentang, susu bubuk, dan kali ini sedikit improvisasi: cokelat bubuk. Demi menghabiskan cokelat bubuk yang dibeli di Paris setahun yang lalu (gini nih kalo belanja laper mata). Sementara ini rumah opa masih kosong melompong, karena si opa, oma, dan oom pergi ke Bandung. Sementara oom yang satu lagi kerja. Jadilah Mika dan mamanya penguasa rumah... hohoho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat akan jadi hari ke panti asuhan yang baru, Sabtu dan Minggu ada acara keluarga, dan mari kita lihat apakah ada acara staycation yang lebih kreatif di minggu terakhir liburan ini. Ciao!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-8029267478973849415?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/8029267478973849415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=8029267478973849415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8029267478973849415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8029267478973849415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/12/were-on-staycation.html' title='We&apos;re on Staycation!'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-8152963846912954621</id><published>2011-11-30T00:54:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T07:15:40.195-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Day 4 Belitung November 2011</title><content type='html'>Bagian 4 dari 4 tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 4: Last Day&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaaah... hari terakhir liburan pun tiba. Rasanya masih pengin banget guling-gulingan lagi di pantai, tapi kami tidak sempat kembali ke Tanjung Kelayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sarapan di hotel (tiap malam petugas hotel mengetuk kamar dan menanyakan pilihan sarapan kami: mi goreng, nasi goreng, atau roti), kami belanja kerupuk, terasi, dll di toko Keluarga. Pilihan oleh-oleh di toko &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keluarga &lt;/span&gt;ini pun beragam banget jenisnya dan harganya pun tidak mencekik, terutama bagi kami yang keluarganya besaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar sekali sehingga yang mesti diberi oleh-oleh banyaaaaaaaaaaaaaak sekali. Berbagai jenis kerupuk (ikan, cumi, udang) dalam kantongan ukuran SML dengan harga sesuai ukuran bisa dipilih. Kalau mau ngasih banyak orang, bisa dipilih kantong ukuran S atau M, jadi harganya pun tidak terlalu mencekik. Selain oleh-oleh, saya juga beli terasi untuk konsumsi sendiri dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rusip. Rusip &lt;/span&gt;ini adalah teri yang sudah difermentasi, terbayang nikmatnya makan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rusip &lt;/span&gt;dengan kucuran jeruk nipis plus irisan cabai, sebagai teman nasi hangat. Nyam! Para petugas di toko Keluarga ini juga rupanya sudah piawai menghadapi pelanggan yang kalap belanja, dan sudah menyiapkan kardus bekas sebagai tempat belanjaan. Saya pun menitipkan manggis yang dibeli kemarin dalam kardus. Kardus dipak rapat dengan selotip dan diikat tali plastik keras. Tak lupa diberi nama dan alamat biar tidak diambil orang. Oya, belanja di sini juga bisa dilakukan dengan debit BCA (dan kartu debet lain yang biasa dengan mesin EDC BCA), sehingga sangat memudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai belanja, kami mampir di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Musium Belitung&lt;/span&gt;. Museum yang lokasinya dekat pantai Tj. Pendam ini kecil saja, tapi koleksinya tertata rapi, bersih, dengan keterangan yang cantik. Penataan harta karun kapal karam sangat modern dan menarik. Di bagian belakang museum terdapat kebun binatang mini (yang agak kotor) dan beberapa mainan anak. Meskipun agak kotor, tapi binatang-binatang yang ada di sana lumayan menakjubkan seperti buaya superbesar dan kura-kura yang juga besar-besar, oh, dan lele yang besar-besar juga... hehehe.... Halaman depan museum memajang meriam dan ranjau bekas Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga sempat mampir di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;rumah Belanda &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;rumah adat &lt;/span&gt;(yang dibuat khusus seperti di Taman Mini) dan foto-foto di sana. Tentu tak lupa mengambil kepiting isi dan otak-otak yang kami pesan semalam dari Sari Laut. Kak Neli pun mengantar kami ke bandara, dan kami berpisah baik-baik serta berjanji akan kembali lagi ke Belitung suatu hari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya liburan sempurna ini ditutup dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay &lt;/span&gt;2 jam di bandara Hanandjoedin, yang membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mood drop &lt;/span&gt;banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belitung adalah tempat yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;worth visited &lt;/span&gt;banget. Tempatnya indah dan bersih. Harga-harganya masuk akal. Orang-orangnya ramah, jujur, dan sangat melayani. Mari ke sana, sebelum Belitung jadi terlalu ramai seperti Bali! Orang Belitung sendiri rupanya berharap pulaunya tidak akan terlalu ngetop, seperti kata bapak yang menyewakan kapal di Tj. Kelayang, “Aduh, Bu, segini aja, jangan lebih ramai lagi. Nanti rusak semuanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alamat-alamat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanjung Outlet&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(kaus, suvenir)&lt;br /&gt;Jl. Sudirman 48A, Tj. Pandan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(kerupuk, suvenir)&lt;br /&gt;Jl. Yos Sudarso 32, Tj. Pandan&lt;br /&gt;(0719) 22714&lt;br /&gt;0812-8128974&lt;br /&gt;uwe_n19@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rumah Batik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(kaus, suvenir)&lt;br /&gt;Jl. Tj. Kelayang&lt;br /&gt;Batu Itam, Sijuk&lt;br /&gt;0819 29085768&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hotel Pondok Impian 2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jl. Pattimura, Tj. Pandan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, budgeting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini dia pengeluaran untuk trip Belitung 4 hari 3 malam untuk satu orang (anak saya tetap hitung satu kepala, jadi semua harga total sudah saya bagi 3), tanpa belanja-belanja (yang jatuhnya bisa sejuta sendiri... eh, maksudnya tergantung seberapa banyak oleh-oleh yang mau dibawa... hehehe):&lt;br /&gt;pesawat pp: Rp890.000&lt;br /&gt;hotel: Rp350.000 (satu malam 350rb tapi krn nginep 3 malam, dibagi 3 kepala, jadi...)&lt;br /&gt;mobil: Rp400.000 (sama kasusnya kayak hotel, catatan tambahan, seharusnya mobil bisa @350rb per hari kalau pesan langsung ke rental, tidak via hotel)&lt;br /&gt;makan 7x: Rp150.000&lt;br /&gt;kapal: Rp120.000&lt;br /&gt;tip tukang kapal: Rp30.000&lt;br /&gt;tip driver: Rp50.000&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;total: Rp1.990.000&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-8152963846912954621?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/8152963846912954621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=8152963846912954621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8152963846912954621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8152963846912954621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/belitung-november-2011-day-4-last-day.html' title='Day 4 Belitung November 2011'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-7283920512652515051</id><published>2011-11-30T00:53:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T07:10:03.410-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Day 3 Belitung November 2011</title><content type='html'>Bagian 3 dari 4 tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 3: Laskar Pelangi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi kami berangkat ke Belitung Timur. Perjalanan memutar dulu ke utara, via Bukit Berahu yang belum sempat kami kunjungi kemarin. Di tengah jalan kami memotret pohon unik yang cabangnya membentuk siku-siku, sehingga pohon seperti trisula atau garpu. Kak Neli heran, apa lucunya memotret pohon begitu, tapi kami sih antusias melihat pohon unik seperti itu. Kami bahkan lebih antusias lagi saat diberitahu itu pohon durian. Sedang musim durian di Belitung, yihaaa!!! Sedang musim manggis dan rambutan juga. Sayangnya, sampai pulang akhirnya kami tidak sempat makan durian, karena tiap kali selesai makan rasanya kenyaaaaang sekali... Perut tidak muat lagi untuk disisipi durian. Tapi, saya sempat membeli 4 renteng manggis isi 10 buah untuk dibawa pulang ke Jakarta. Satu rentengnya Rp6.000 saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami juga sempat mampir di &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rumah Batik&lt;/span&gt;. Butik kecil ini menjual batik-batikan ala Jawa, jadi harapan kami menemukan tekstil asli Belitung pupus sudah. Ada batik print motif daun simpor, tapi itu kain modern hanya motifnya saja yang mengambil benda khas Belitung. Akhirnya kami membeli kaus saja (Rp60.000), gantungan kunci, dan kartu pos---yang fotonya dibuat oleh kakak si penjaga toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukit Berahu ternyata tidak terlalu cantik. Tapi teluk ini mempunyai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cottage &lt;/span&gt;yang lokasinya persis di depan pantai. Tapi pantainya sendiri ombaknya agak besar dan airnya dalam, jadi kurang seru juga buat main. Selain itu pohonnya rimbun, sehingga sampah meskipun hanya daun kering, rasanya agak mengganggu. Sebetulnya seru juga sih membayangkan menginap di sana (hanya Rp250rb per malam), tapi kata Kak Neli, pelayanan di cottage itu kurang bagus, ada tangga tinggi dan lumayan terjal yang menghubungkan barisan kamar dengan kantor dan restoran di atas tebing, dan pelayan katanya malas turun ke bawah sana. Utamanya karena masalah UMR juga sih, kata Kak Neli. Tante bilang, kalau tamu mau kasih tip tiap pesan sesuatu dari atas mungkin pelayan tidak malas turun-naik. Tapi saya bilang, kalo tiap pesan minum atau handuk saja mesti ngetip bisa bangkrut si tamu, bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan dari dan ke Bukit Berahu melewati kampung penduduk, tempat dibuat penganan oleh-oleh seperti kerupuk, pilus, dan terasi. Tapi kami tidak mampir. Jalanan ini juga melewati kampung nelayan Bugis. Selanjutnya perjalanan sungguh panjang dan agak monoton. Kami melewati hutan (Kak Neli menunjukkan pohon ini dan itu, termasuk pohon simpor yang daunnya untuk bungkus makanan, sukun, durian, dll. Kami juga ketemu monyet.), tambang timah yang masih aktif maupun yang sudah mati, kampung Bali yang komplet dengan pura dan para dewa yang gede-gede banget. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;On and on and on... &lt;/span&gt;Ditingkahi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;soundtrack&lt;/span&gt;, “Mika mau ke pantai... Mika mau ke pantai...” yang membuat perjalanan jadi terasa makin panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir jam satu siang, kami baru sampai di Manggar. Saya sudah hampir pengsan kelaparan. Kak Neli membawa kami makan di warung-restoran nasi ayam. Hidangan sederhana nan unik ini hanya terdiri atas nasi gurih diberi taburan ayam suwir dan bawang goreng serta acar, dengan pelengkap kuah isi 3 bakso ikan. Entah karena lapar, entah karena memang gurih banget, hap-hap-hap, nasi ayam yang nikmat itu pindah masuk perut dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu keliling-keliling Manggar. Kak Neli menunjukkan sekolahnya Yusril Ihza Mahendra, sekaligus rumahnya. Kami juga sampai ke Pantai Manggar, tapi karena Kak Neli bilang airnya dalam, dan kami tidak mau mengambil risiko anak jongkok di pasir lagi, kami tidak turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, sebelumnya kami sempat mampir di Vihara Dewi Kwan Im. Vihara ini sebenarnya biasa saja, dan kami bahkan tidak berhasil menemukan patung si dewi. Di belakang vihara juga terdapat pantai, dan kami juga tidak turun di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pantai Manggar, kami mendaki Bukit Satam. Di puncaknya, kata riset internet dan bacaan, ada rumah Belanda yang dijadikan restoran. Tapi saat sampai on the spot, rumah itu sudah tidak berbentuk rumah Belanda lagi. Gak seru ah! (Mungkin dalam hati Kak Neli bilang, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I told you so!&lt;/span&gt; Gak percaya seeh...” hehehe.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun bukit, kami langsung menuju Gantong, lokasi LP. Tiba di Gantong, Kak Neli membawa kami ke tempat bangunan sekolah Muhamadiyah yang untuk syuting (bangunan baru). Lahan luas di sekeliling bangunan sekolah rupanya diperuntukkan untuk tanam ulang atau reboisasi karena pohonnya masih muda-muda. Di lahan itu juga ada dua rumah kayu berbentuk rumah adat Belitung (nb: di mana-mana di Belitung masih ada rumah adat kayu ini loh...) yang kata Kak Neli diperuntukkan bagi perpustakaan yang janji Andrea Hirata akan didirikannya dengan royalti LP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah foto-foto, kami lanjut ke Bendungan Pice. Di bendungan bangunan Belanda ini, saya tidak ikut turun sampai ke bendungannya. Biasa, takut kecebur... hehehe... Foto-foto sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Kak Neli menunjukkan rumah Andrea Hirata, tapi kami tidak turun. Kami berhenti di lokasi bangunan sekolah Muhamadiyah LP yang asli. Bangunan ini pun sudah dipindahkan dari lokasi aslinya. Bangunan tampak doyong dan tidak terawat. Bahkan kotor. Sayang juga ya, kok tidak dirawat, padahal mungkin banyak fans LP yang pengin melihat sekolah LP yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama di sana, kami lanjut perjalanan pulang. Perjalanan pulang lebih cepat karena langsung menuju Tanjung Pandan, tidak memutar lagi. Sebagai catatan, jalanan seputar Pulau Belitung ini beraspal mulus, bahkan di wilayah yang supersepi sekalipun. Jalanan pun sepi dari kendaraan lain, jadi serasa pemilik pulau deeeeh... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Tanjung Pandan, memenuhi keinginan anak, kami singgah di Tanjung Pendam, pantai yang berada dalam kota Tj. Pandan. Sayangnya, ini satu-satunya pantai yang mengecewakan di Belitung. Pantainya kotor, banyak sampah, WC-nya bau. Dan meskipun airnya sedang surut, tapi luasan pantai dipenuhi lubang sarang kepiting-kepiting mungil. Saat saya melangkah ke arah air, kepiting-kepiting itu keluar semua dari liangnya dan berlarian panik di depan saya. Hiiii geliiii... Selain kepiting, banyak juga kerang kerucut dan gundukan sarang ulat. Hiiiii geliiiii...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sunset yang tidak terlalu spektakuler karena mendung, kami kembali ke hotel untuk mandi. Ealah, mendung berubah jadi hujan luar biasa besar. Sialnya, satu-satunya kekurangan hotel kami, tidak ada telepon di kamar! Sampai jam 7 lewat kami terjebak di kamar. Akhirnya saya benar-benar mau pengsan kelaparan lagi, dan Tante menelepon Kak Neli untuk minta tolong agar dipinjamkan payung dari hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ealah, begitu masuk mobil, hujan jadi rintik lalu berhenti. Karena saya ingin makan kepiting (yang terbayang sih kepiting rebus atau goreng mentega gitu...), Kak Neli membawa kami ke &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Diva&lt;/span&gt;, warung-restoran Cina yang menyediakan kepiting. Menunya sih standar rumah makan Cina di mana-mana, tumis-tumisan, goreng-gorengan. Akhirnya kami memesan sup jagung kepiting, pampi goreng kepiting, dan sapo tahu. Pampi ini unik, kata Kak Neli, pampi itu kwetiaw. Terbayang dong kwetiaw tipis-tipis seperti yang di Jakarta, taunya bentuknya adalah bakmi tebal seperti udon. Kepiting yang disertakan dalam pampi goreng ini masih dalam bentuk capit utuh, sehingga puas menggigitnya. Kokinya juga tidak pelit memberi capit kepiting ini, mungkin ada sekitar selusin capit dalam pampi goreng ini. Sayangnya, seperti umumnya resto Cina, ada sedikit aroma dan rasa gosong yang datang dari wajan yang digunakan memasak berbagai makanan bergantian tanpa dicuci bersih terlebih dulu. Sup jagung kepitingnya juga enak, segar, dan panas. Saya sama sekali tidak mencicipi sapo. Sekali ini pun makanan porsi raksasa ini tidak habis disantap 3 dewasa dan 1 anak, sehingga sapo mesti dibungkus bawa pulang, dan langsung diserahterimakan ke Kak Neli untuk dihibahkan ke tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu mampir ke &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tanjung&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;outlet &lt;/span&gt;oleh-oleh. Outlet ini oke banget karena menyediakan kaus mulai dari superkecil sampai superbesar (5L), desain dan bahannya pun oke. Harga pun oke, antara Rp20.000-60.000. Selain itu outlet ini juga menyediakan berbagai suvenir liburan standar lain seperti magnet kulkas, gantungan kunci, gelang-gelang pantai (biasa aja sih), tas pantai, dll. Saya memilih suvenir-suvenir yang ada tulisan Belitung-nya dong. Sesudah pilih kanan-kiri dan beli-beli, kami beranjak lagi. Sayangnya malam itu pusat oleh-oleh kerupuk dll sedang penuh, jadi kami ke Sari Laut untuk pesan kepiting isi dan otak-otak untuk dibawa pulang ke Jakarta. Lalu kami balik badan dan kembali ke hotel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-7283920512652515051?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/7283920512652515051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=7283920512652515051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7283920512652515051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7283920512652515051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/belitung-november-2011-day-3-laskar.html' title='Day 3 Belitung November 2011'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-4852164183588363807</id><published>2011-11-30T00:52:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T07:18:38.319-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Day 2 Belitung November 2011</title><content type='html'>Bagian 2 dari 4 tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 2: It's Islands Hoping Day&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti saran Pak Neli, kami menukar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;itinerary &lt;/span&gt;LP hari ini dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;islands hoping&lt;/span&gt;. Hari cerah, langit biru agak berawan. Kami kembali ke Tj. Kelayang, spot pemberangkatan untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;islands hoping&lt;/span&gt;. Pak Neli sudah memesankan kapal untuk kami sedari kemarin sore, tapi rupanya kami harus menunggu agak lama demi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life jacket &lt;/span&gt;kecil untuk anak saya. Bersama kami satu per satu rombongan berangkat, ada sekitar 5 rombongan yang menjelajah laut hari itu. Ada yang bersama anak-anak kecil juga. Ada juga yang membawa ibu hamil 7 bulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya si &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life jacket &lt;/span&gt;datang, dan kapal kami pun menepi. Kami diperkenalkan dengan Pak Taufik yang akan memandu perjalanan kami hari itu. Masuk kapal kayu bermesin diesel itu, anak saya langsung duduk di dasar kapal, berpegangan erat-erat pada bangku kayunya. Duileh, takut nih anak. Masalahnya, mamanya juga jeri! Hahaha... membayangkan mengarung laut dengan kapal kayu yang kayaknya ringkih aja udah sakit perut, apalagi melakukannya sendiri! Waktu naik tangga kayu ke atas kapal saja kapal sudah goyang-goyang teterpa ombak... Oh, no! Saya ikut duduk di dasar kapal dan berpegangan pada bangku dudukan. Kayaknya yang tetap semangat '45 cuma si tante... hehehe... Kapal mundur untuk keluar dari pantai, lalu maju. Wah, salah arah nih duduknya... Saya dan si kecil beringsut memutar pantat dan haluan duduk. Yak, brangkat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, kapal dilewatkan pada Batu Burung. Senyum! Cekrik! Senyum! Cekrik! Tante sibuk foto-foto, bahkan minta tolong difotokan oleh saya. Sambil mesem-mesem sakit perut takut, saya fotokan juga. Sambil tetap berpegangan erat-erat, saya mengagumi kebesaran Tuhan, kok bisa ya batu-batu sebesar-besar itu tumpuk-menumpuk kayak begitu? Ajaib banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kapal merapat ke pulau pertama; Babi Kecil. “Di sini ngapain nih, Pak?” tanya saya setelah susah payah turun ke pantai dari kapal yang oleng. “Foto-foto!” kata Pak Taufik santai. Di sini mulai terungkaplah rahasia Pak Taufik! Rupanya dia sering membawa rombongan fotografer, jadinya dia tahu spot-spot cantik untuk mengambil foto. Bukan hanya itu, rupanya dia piawai megang kamera. Kamera profesional saja pernah dipegangnya, jadi gak usah tanya kamera &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pocket digital &lt;/span&gt;kami... Ah, yang begini mah gampiiilll... Gitu kali, katanya... hehehe... Tante langsung memanfaatkan keterampilan plus-plus Pak Taufik ini dong untuk mengabadikan pemandangan yang hular bizaza itu. Anak saya? Jongkok di pasir lagi dong ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami naik kapal lagi untuk pindah ke Pulau Kepayang. Si kecil mulai santai dan tidak lagi berpegangan erat-erat. Mamanya masih. Turun di Pulau Kepayang, kami melihat peradaban... hehehe... Maksudnya, di situ ada warung/restoran sederhana, fasilitas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;outbound&lt;/span&gt;, tempat bilas/WC yang bersih dan sama sekali gak bau (Catatan: rata-rata WC di Belitung ini bersih dan gak bau loh! Ini penting banget! Kecuali yang di Pantai Tanjung Pendam, itu bener-bener hoeeeek dah!)). Di pulau ini juga disediakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cottage &lt;/span&gt;untuk penginapan, dan ada tempat penangkaran penyunya juga. Batu-batunya juga besar-besar dan cantik-cantik. Tante foto-foto lagi, sambil menggandeng Pak Taufik sebagai fotografer dadakan. Anak saya jongkok lagi di pasir, sementara saya agak garing jomblo soalnya bingung mau ngapain. Akhirnya, saya foto-foto juga pemandangannya (habis kalo foto diri sendiri akhirnya gayanya itu lagi-itu lagi), ikut bikin istana pasir, dan sekali-sekali masukin kaki ke ombak. Air di antara batu-batunya agak dalam (boong ding, palingan sepaha) jadi saya cuma berani maju selangkah-dua asal airnya kena mata kaki gitu... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dengan susah payah membujuk si kecil supaya mau pindah pulau dan membilas serta menggantikan baju dia, kami kembali naik kapal ke Pulau Lengkuas. Pulau Lengkuas pasirnya juga putih dan cantik, sayangnya agak kotor. Di pulau bermercusuar ini juga kami menyaksikan tragedi: rombongan si ibu hamil 7 bulan itu meninggalkan berbotol-botol Aqua yang masih setengah/tiga perempat berisi di atas meja yang disediakan di depan mercusuar. Padahal tempat sampah ada di samping meja itu!!! Botol-botol masih penuh air itu rasanya eman-eman banget! Minta ampun deh orang Indonesia! Akhirnya daripada eman-eman air bersih itu dan tidak ada yang memasukkannya ke tempat sampah, air itu kami gunakan untuk cuci tangan-kaki seusai makan. Botol air yang isinya sudah habis kami gunakan kami masukkan tong sampah. Apa susahnya sih jalan ke tong sampah? Huhuhu... menangiiiiis... Anak saya kembali jongkok ngorek-ngorek pasir, padahal meski putih pasir di P. Lengkuas ini kotor penuh sampah puntung rokok, potongan plastik dll. Kegembiraan si kecil makin bertambah saat teman-temannya kucing-kucing datang. Sayangnya di pulau ini tidak ada warung seperti di P. Kepayang tadi. Jadi kami harus puas dengan pop mie. (Sebenarnya tadi pagi sebelum brangkat, kami stop by di warung nasi uduk rekomendasi Pak Neli, sayangnya nasinya habis! Tinggal lauk-pauk. Terpaksalah kami hanya beli arem-arem dan sate ati-ampla serta sate telur puyuh di sana.) Usai sekadar mengganjal perut, Tante keliling-keliling pulau untuk foto-foto, sementara saya menemani si kecil. Lalu gantian, Tante menemani si kecil, dan saya keliling-keliling pulau. Ada beberapa plang penunjuk jalan seperti: kuburan Belanda, kolam bidadari, rumah tua, penangkaran penyu. Saya ikuti plang arah ke rumah tua. Rumah itu sebenarnya tidak tampak tua sama sekali karena sepertinya baru dicat. Tapi pemandangan di depan rumah... Ya Tuhanku dan Allahku, sungguh sepotong surga di bumi! Indah, indah, indah, dan damai. Langsung saya ceprat-cepret di sana. Pantai berpasir putih bersambungan dengan lapangan berumput hijau dengan aksen pohon kelapa menjulang. Luar biasa! Yap, tapi agak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;creepy &lt;/span&gt;juga sih karena sendirian, jadi usai ceprat-cepret, saya langsung kabuuuurrr! Saya masuk ke dalam mercusuar buatan tahun 1882 yang menjulang 18 tingkat. Naik sampai lantai 1, saya langsung turun lagi, baru satu lantai saja rasanya kok tinggi amat yak? Tapi, pasti seru kalau datang ke sana bawa Bos Ade Purnama dari Sahabat Museum. Pasti ceritanya banyak, dan kehidupan zaman Belanda di P. Lengkuas ini bisa terbayangkan lebih semarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut ke Pulau Burung. Sekali ini kami serasa punya pulau pribadi. Anak saya langsung duduk (bukan jongkok lagi) di pasir putih, dekat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;speedboat &lt;/span&gt;parkir dan sibuk dengan perangkat main pasirnya. Saya dan Tante menggunakan bakat terpendam Pak Taufik sebagai fotografer dadakan dan foto lompat-lompatan. Setelahnya, Tante ikut Pak Taufik melihat rumah pemilik pulau (yap, pulau yang ini memang pulau milik pribadi), sementara saya ikut main pasir dan celup-celup kaki. Lumayan lama juga kami di pulau “pribadi” yang ini. Di depan pantai tempat kami ngejogrok di pasir terdapat beberapa keramba. Sebetulnya saya tertarik juga ke sana. Tapi kata Pak Taufik, keramba ikan itu dijaga anjing galak. Terbukti saat ada rombongan kapal yang merapat di sana, gonggongan anjing langsung bergema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, naik kapal lagi. Oya, dari yang tadinya pegangan erat-erat, ibu dan anak sekarang sudah jadi anak laut. Mamanya sudah naik pangkat dari dasar kapal ke bangku kayu, sementara anaknya berkembang lebih cepat dengan menolak pakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life jacket&lt;/span&gt;. Ealah... Selain itu, yang patut diceritakan dan sering dilupakan adalah perjuangan si nakoda kapal. Tiap merapat di suatu pulau, Pak Taufik pertama-tama melempar jangkar di buritan. Jangkar nyangkut, mesin dipelankan. Lunas kapal mencium pasir. Byur! Pak Taufik lompat ke air, meraih jangkar haluan, jangkar dipancangkan ke pasir, kapal ditarik sampai lunasnya lebih masuk pasir. Pak Taufik lari lagi ke belakang, menyetir kapal sampai pas berhenti, lari lagi ke depan menurunkan tangga. Ngeliatnya aja capek, gimana ngelakuinnya? Apalagi seharian bisa ke 5-6 pulau coba... Oya, pas di Pulau Babi Kecil, kapal sempat kabur terbawa ombak. Tentu Pak Taufik ikut kabur mengejar kapalnya. Sementara saya sakit perut membayangkan yang tidak-tidak karena ransel berisi bekal (dan duit!!!) ada di kapal. Tapi, puji Tuhan, orang Belitung memang jujur-jujur, Pak Taufik ya balik lagi dong ah dan mengulangi lagi proses lempar jangkar, tarik kapal, dll dsb itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kali ini kapal membawa kami ke pulau pasir. Tempat ini lenyap bila air pasang, dan muncul bila air surut. Di gundukan pasir kecil ini merapat 3 kapal dan turun sekitar 20an turis---dan beberapa kapal lain yang datang dan pergi tanpa menurunkan penumpangnya. Semua berfoto narsis, juga berfoto sama bintang laut. Patrick di sini warnanya pink kecokelatan dengan tanduk-tanduk cokelat tua kehitaman. Baru kali ini saya lihat bintang laut begitu loh. Cantik banget. Atraksi paling afdol di pulau kecil ini adalah memiliki laut dan menikmati ombak. Kita bisa jalan ke tengah laut sampai cukup jauh karena pasirnya datar banget. Bisa juga cuma masuk laut beberapa langkah terus jongkok, duduk, atau tengkurap. Byur! Ombak menerpa dari kanan-kiri depan-belakang! Seru banget! Ombaknya pun nggak gede, jadi rasanya aman-aman saja. Saya dan anak saya sibuk main ombak. Sudahlah kami basah kuyup gak keruan. Rasanya ogah deh naik lagi begitu sudah masuk air. Rombongan lain pada ada yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;snorkeling &lt;/span&gt;di spot ini. Sebetulnya Pak Neli dan Pak Taufik mengusulkan supaya kami &lt;span style="font-style:italic;"&gt;snorkeling &lt;/span&gt;juga. Tapi saya ogah, takut sama air dalam soalnya... hehehe... jadi sejak dari Tj. Kelayang pun saya sudah bilang saya ogah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;snorkeling&lt;/span&gt;. Satu per satu kapal beranjak pergi. Kapal kami termasuk yang terakhir pergi. Saya sempat melihat rombongan yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;snorkeling &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;full &lt;/span&gt;berkostum selam memunguti lagi bintang-bintang laut yang dipakai foto-foto narsis tadi. Mereka dengan panduan seorang bapak berkaus seragam (gak tau seragam apa, pokoknya kayak seragam aja) memasukkan bintang-bintang laut itu ke air, menekan-nekan sana-sini. Mengetes apakah si bintang laut mengapung atau tenggelam. Setelah tenggelam, si bintang laut dilempar jauh-jauh ke tengah laut. Rupanya bintang laut itu kemasukan angin saat dipegang-pegang dan berada di luar air. Akibatnya mereka tidak bisa tenggelam ke dasar laut, melainkan mengapung menantikan kematian. Ah, kasihan... Selalu alam tak berdosa harus jadi korban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah dari pulau pasir, kami singgah di Pulau Kelayang. Di sana, kami hanya foto-foto dan main air lagi. Kami bahkan tidak berusaha menjelajah masuk hutan yang memagari teluk berpasir putih tempat kapal kami merapat. Tidak lama, rembang petang dan mendung makin menggantung, kami buru-buru kembali ke kapal untuk menuju pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Tj. Kelayang, si kecil kembali jongkok di pasir, ogah disuruh berbilas. Hmm... dasar anak-anak, kalau sudah ketemu kesukaannya saja, sulit sekali bergeming. Akhirnya kami berbilas juga. Tersedia kamar bilas dan wc sederhana yang relatif bersih dan tidak bau, tapi airnya berwarna merah meski tawar. Nafsu berbilas jadi agak lenyap. Dengan pikiran akan mandi di hotel saja, kami membersihkan diri sekadarnya. Cuma si kecil yang bersabun, itu pun tidak keramas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berbilas dan ganti pakaian, Tante menyambangi kios sewa perahu untuk membayar sewa. “Pak, mau bayar kapal pesanan Pak Neli,” kata si tante. “Hah? Siapa, Bu?” tanya bapak di kios. “Pak Neli,” tegas si tante. “Oh, gak papa, Bu. Dia senang kok dikira laki, pasti nanti dia bakal bangga deh,” kata si bapak sambil senyum-senyum. Haaa... langsung si tante merasa nggak enak. Di mobil, Tante langsung meng-SMS saya---emang deh, sekarang zamannya SMS-an, bukan tuker-tukeran potongan kertas kecil lagi... hehehe---”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the driver is female&lt;/span&gt;,” bunyi pesan singkatnya. Saya mesem-mesem saja. Jadi “Pak” Neli berganti menjadi “Kak” Neli deh... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali ke Tj. Tinggi untuk makan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;seafood&lt;/span&gt;. Kami memesan gangan kepala ikan ketarap---hidangan khas Belitung yang bentuknya seperti ikan masak nanas, cumi bakar (soalnya saya ngiler ngeliat pesanan orang di P.Lengkuas siangnya), sayur genjer, dan ikan terisi goreng kering. Gangannya ternyata pedas, jadi saya kurang suka. Cumi bakarnya enak tapi agak biasa aja. Ikan terisi goreng keringnya yang wokeh banget. Sayur genjer cah terasinya juga oke banget. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;All in all &lt;/span&gt;meskipun diawali dengan lapar sampai kalap, ternyata hidangan itu terlalu banyak untuk dihabiskan 3 dewasa dan 1 anak. Lauk yang sisa pun dibungkus dan dibawa pulang ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil lelap di mobil dan tidak terbangun lagi sampai esok paginya. Yang dewasa mandi lagi, cuci baju, lalu leyeh-leyeh. Saya ngemil cumi bakar sambil nonton TV, sebelum akhirnya bergabung dengan alam mimpi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-4852164183588363807?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/4852164183588363807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=4852164183588363807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4852164183588363807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4852164183588363807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/belitung-november-2011-day-2-its.html' title='Day 2 Belitung November 2011'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-7818301988470440627</id><published>2011-11-30T00:51:00.000-08:00</published><updated>2011-11-30T06:46:38.605-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Belitung November 2011</title><content type='html'>Bagian 1 dari 4 tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan trip keluarga yang mreteli satu per satu, kami---saya, anak saya, dan tante saya---akhirnya berangkat ke Belitung. Sudah sejak sekitar tahun 2004 saya ingin ke pulau yang satu ini. Waktu itu saya melihat foto-foto Mariana Renata di pulau ini dalam suatu majalah tamasya. Sekitar waktu itu juga iklan sabun yang dibintangi Dian Sastro mengambil lokasi di pulau ini. Jadi saya sudah naksir pantainya lumayan agak jauh sebelum demam Laskar Pelangi melanda. Setelah Laskar Pelangi, urmm... jadi makin pengin sih. Tapi kebetulan saya belum baca dan nonton Laskar Pelangi. Sampai sekarang. Sekarang, sepulang dari Belitung, dvd-nya sudah saya pinjam, tapiii entah kapan sempat menontonnya... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kisah Belitung saya bisa dimulai dari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Hassles of Preparation...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Yap, persiapan memang perlu. Mulai dari menentukan siapa saja yang ikut, sampai akhirnya hanya tersisa tiga nama itu saja prosesnya lumayan panjang. Berikutnya, menentukan mau ikut tur atau jalan sendiri. Ikut tur... Awalnya saya merasa tidak pede merambah daerah yang tidak dikuasai kalau tidak ikut tur. Tapi di sisi lain, tur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;customized &lt;/span&gt;untuk kami sendiri jatuhnya jadi mahal banget. Kalau mau yang agak murah, campur sama orang lain. Nah, dengan bawa anak kecil, kalau si anak rewel, capek, mogok, dll dsb yang menyebalkan itu, apa kami gak jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ruined other people's fun&lt;/span&gt;? Tapi awalnya kami toh mendaftar ke sebuah tur. Tapi, rupanya tante saya yang kreatif dan energik itu tiada pantang mundur untuk menghubungi juga beberapa hotel di Tanjung Pandan. Tak kurang dua hotel di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;booking&lt;/span&gt;-nya. Plus sewa mobil. Tentu saja si tante juga mem-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;book&lt;/span&gt; pesawat. Jadi, saya yang tadinya berpangkat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tour organizer &lt;/span&gt;tinggal ongkang-ongkang kaki lah. Sungguh boljug untuk jalan lagi sama tante yang satu ini... hehehe... Tentu karena Tante yang sibuk ini-itu dan telepon sana-sini, sampai detik akhir pun dia yang sibuk, dan saya akhirnya tinggal angkat ransel dan angkat si kecil, siap berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, setelah menimbang kanan-kiri, maju-mundur, telepon sana-sini, akhirnya kami memutuskan jalan sendiri tanpa tur. Jadi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;booking &lt;/span&gt;yang kami gunakan adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;hotel Pondok Impian 2&lt;/span&gt;, dan mobil pun di-book via hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Day 1: Tempat Syuting Laskar Pelangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya ke Belitung adalah hanya ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Tanjung Pandan pp. Dua-duanya (sebenarnya semua maskapai lokal seeeh) raja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay&lt;/span&gt;. Jadi akhirnya kami pilih raja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay &lt;/span&gt;yang lebih murah dan lebih mudah cara pemesanan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;online&lt;/span&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga raja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay&lt;/span&gt;, tentu saja keberangkatan kami tertunda satu setengah jam. Untunglah sekarang terminal 1C SHIA udah keren dengan jendela yang besar-besar, sehingga anak saya terhibur dengan pemandangan segala macam pesawat itu. Oya, patut dicatat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rennaisance&lt;/span&gt; terminal 1 ini lumayan terasa loh, bukan hanya di bagian fisik bangunan saja (terutama WC!!!), tapi juga di pelayanan dengan banyaknya petugas kebersihan dan petugas informasi. Dan mereka bekerja loh... Seringnya kan kita melihat petugas banyak tapi sibuk gosip, bukan kerja... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So&lt;/span&gt;, penerbangan lumayan lancar. Mendarat di Tj. Pandan hampir 13.30, kami serasa jadi punya bandara pribadi. Yang ada di landasan cuma pesawat kami. Bandara pun lengang, dengan hamparan pegunungan di belakang landasan. Hasrat foto-foto gila pun langsung tersalurkan, sampai ada panggilan, “Bu, Bu, cepetan! Penumpang ke Jakarta udah mau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boarding&lt;/span&gt;!” Hehehe... Keluar dari pintu kedatangan, kami (hampir) langsung ketemu sama penjemput kami. Mobil Avanza pesanan pun meluncur ke lobi bandara untuk mengangkut kami. Saat menanyakan nama sopir, saya jadi agak wagu. “Namanya siapa, Pak?” “Saya? Neli,” jawab si sopir. “Hah? Siapa?” tegas saya. “Neli!” Saya diam. Si sopir penampilannya cowok dengan rambut cepak, kemeja lengan pendek, plus rokok di sakunya. Suaranya pun berat-berat gimana gitu. Tapi kok namanya Neli? Saat mobil berhenti untuk isi bensin, saya bertanya pada tante saya, “Sopirnya cewek ya?” Tante saya membantah, “Ah, enggak ah! Gak mungkin!” Ya sudah, saya diam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti untuk beli mie Belitung yang diulas di mana-mana itu di warung &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mie Atep&lt;/span&gt;. lokasinya  di dekat bundaran tengah kota. Lalu langsung meluncur ke hotel. Sembari jalan Pak Neli bertanya-tanya tentang jadwal acara kami. Dari Jakarta, hasil riset internet dan baca sana-sini, saya sudah membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;itinerary &lt;/span&gt;hari pertama kami eksplorasi sekitar hotel saja (karena perhitungan saya kami akan tiba sore hari---menghitung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;delay &lt;/span&gt;*uhuk*), hari kedua ke Laskar Pelangi (LP) di Manggar-Gantong, lalu hari ketiga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;island hoping&lt;/span&gt;, dan hari keempat belanja oleh-oleh sebelum pulang ke Jakarta. Rupanya Pak Neli kurang setuju kami ke LP, “Gak ada apa-apa di sana, tapi yah, kalau Ibu mau...” Pak Neli juga mengusulkan kami langsung saja ke pantai sore itu. Akhirnya kami memutuskan merem aja deh, ngikut aja... hehehe... Puji Tuhan, itu keputusan yang benar. Karena ada kan ya yang merem aja ikut aja akhirnya malah gak senang atau gak puas. Tapi dalam kasus kami rupanya Pak Neli ini tidak menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, selama 4 hari saya di Belitung, saya melihat budaya mereka sangat menjunjung tinggi kejujuran dan sangat berusaha menjaga kepercayaan. Mau nangis kan, sementara di Jakarta orang sudah sangat sulit untuk tidak mencurigai orang lain. Di Belitung, kami mau kasih dp hotel, “Nanti aja, Bu, kita percaya kok.” Mau dp sewa kapal, “Nanti aja, Bu, kita percaya kok.” Tapi bukannya kejujuran dan kepercayaan warga Belitung ini tidak pernah disalahgunakan. Pak Neli cerita, pernah juga mobil sewaan dilarikan sampai Jakarta oleh si penyewa. Tapi katanya, “Itu kan emang niatannya udah nggak benar. Nggak semua orang begitu, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So, back to &lt;/span&gt;cerita Day 1. Kami makan si mie Belitung superlezat di kamar hotel. (Oya, kamar hotelnya pun sangat memuaskan, dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;twin bed &lt;/span&gt;yang ukurannya besar, AC yang sudah siap menyala, kamar mandi dalam ber-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;water heater&lt;/span&gt;. Memadai banget lah.) Mie ini unik banget karena dibungkus &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;daun simpor &lt;/span&gt;khas Belitung. Bentuknya adalah mie kering campur irisan tahu goreng, kentang goreng, bakwan udang, ketimun, dan dimakan dengan siraman kuah udang yang kental gurih manis udang. Kuah ini yang nendang banged. Top dah pokoknya! Kami juga membeli nasi tim ayam untuk ransum anak saya. Nasi tim ini pun dahsyat rasanya. Apalagi saya memakannya dengan diikuti sesuapan kuah udang dari mie. Slurufs, nyam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, sedikit bongkar bawaan dan ganti baju, kami siap berangkat. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;To the beach we go! &lt;/span&gt;Yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;indeed&lt;/span&gt;! Tanjung Tinggi yang pertama kami singgahi penuh batu granit raksasa. Mantap bana buat foto-foto. Saya dan Tante langsung sibuk jeprat-jepret. Anak saya? Dia langsung jongkok begitu melihat pasir! Yeah, pasir, yeah! Di Jakarta mana bisa dia main pasir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya, bagi Pak Neli, pantai yang ini kurang oke, lebih oke yang di sonoan dikit. Kebetulan yang sonoan dikit itu jadi tempat syuting film LP. Ada prasastinya segala loh, “Pantai ini pernah menjadi lokasi syuting film LP.” Pantainya juga berbatu-batu granit raksasa yang tumpang tindih membentuk labirin-labirin yang menggoda untuk dijelajahi. Puji Tuhan, ada Pak Neli! Anak saya kembali langsung jongkok begitu melihat pasir dan bergeming main pasir, ditemani Pak Neli. Saya dan Tante langsung foto-foto lagi dong ah! Hehehe... Saat kami kembali dari mblusukan di antara batu-batu, gundukan kue pasir sudah tercipta di depan kedua orang yang setia main pasir itu. Sayangnya gerimis mulai turun, jadi foto-foto di situ harus diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai? Tidak dong ah! Kami pindah pantai lagi ke Tanjung Kelayang. Pantai ini surga dunia banget dah! Kebetulan hujan juga stop, jadi kami bisa turun ke bibir air. Pasirnya luar biasa putih. Airnya biru. Dan ini yang terpenting: tidak ada sampah sama sekali. Catat! Tidak ada sampah! Yah, daun-daun kering gitu sih ada, tapi sama sekali tidak ada sampah bawaan manusia seperti puntung rokok atau bungkus permen. Jelang senja itu suasananya sepi, airnya pun tenang nyaris tidak berombak. Gileee... saya mau tuh tinggal di situ selamanya! Anak saya? Jongkok di pasir lagi dong ah! Habis makan sereal bekalnya, dia lalu kembali membuat istana pasir. Setengah mati saya minta dia turun ke air, dia tidak mau. Meskipun akhirnya mau juga siiih... Maklum, anak malang, baru lihat pantai sekali ini, belum kenal ombak dia... Begitu ombak kecil datang berdebur dan menyerbu mukanya, dia teriak-teriak, “Asin! Asin!” Oya, notabene lagi, air asin di perairan Belitung ini nggak amis sama sekali. Bau lautnya pun nggak amis. Mungkin karena semua masih bersih tanpa sampah. Semoga kondisi ini bisa terjaga selamanya, amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali ke hotel, mandi, lalu keluar lagi untuk makan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Restoran Sari Laut &lt;/span&gt;kayaknya wajib kunjung karena disebut di mana-mana. Pak Neli membawa kami ke sana, dan sepertinya sudah kenal sama semua orang di sana. (Kemudian hari terbukti tidak semua rekomendasi yang kami dapat dari internet maupun bacaan berkenan di hati Pak Neli. Bahkan ada beberapa spot yang langsung dia bilang, “Ah, di situ makanannya gak enak!” Tapi memang terbukti tempat yang menjadi rekomendasi dia memang enak-enak makanannya.) Kami memesan ikan ketarap bakar, kepiting isi (@5rb), otak-otak (@2rb), dan toge cah ikan asin. Minumnya es jeruk kunci. Rasa makanannya semua mantaf! Ikan ketarapnya tidak dibakar sampai kering, tapi masih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;moist&lt;/span&gt;. Rasanya gurih manis, kaldu ikannya itu yang enak banget karena bakarnya gak sampai kering. Kepiting isinya juga enak. Dan yang paling oke justru otak-otaknya, ikan semua, bow! Menurut Tante yang sudah coba otak-otak seluruh Indonesia, termasuk otak-otak Bangka dan Palembang, otak-otak Belitung inilah yang paling mantap. Sayang ukurannya sedang menuju mini, jadi dalam dua suap lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai makan kami masih belanja air minum dan susu. Lalu langsung pulang ke hotel. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;And that's it for today, nite-nite!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-7818301988470440627?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/7818301988470440627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=7818301988470440627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7818301988470440627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7818301988470440627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/belitung-november-2011.html' title='Belitung November 2011'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-1336111801751225071</id><published>2011-11-17T01:52:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T01:56:56.943-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Editor dan Pengarang</title><content type='html'>Suatu hari dulu, waktu saya masih bekerja penuh waktu di kantor penerbitan, saya pernah diminta tolong “mengajari” seorang mahasiswa. Bukan pekerjaan yang aneh sebetulnya, karena kantor kami sering menerima mahasiswa magang atau mahasiswa yang membuat skripsi. Jadi, sesekali para editor diminta mendampingi mahasiswa-mahasiswa seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak spesial, kali ini yang meminta bukan bos saya langsung, melainkan seorang rekan editor yang rupanya mendapat titah langsung potong kompas. “Mahasiswa ini anaknya temannya si bapak yang di lantai enam,” kata rekan saya itu. Oh, oke, bukan masalah (sedikit membuat sakit perut sih...). “Dia mahasiswa Harvard loh!” Oh, wow, &lt;em&gt;what an honor&lt;/em&gt;! Mahasiswa Harvard mau belajar sama saya? Oh, wow! Siapalah saya ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan datanglah si mahasiswa. Mungil, mungkin baru dua puluh tahun, kelihatan malu-malu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan penuh semangat memulai pembicaraan---tentu setelah basa-basi, sudah berapa lama di Harvard, senang nggak di Amerika, dll dsb---jadi, apa yang bisa saya bantu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mau jadi editor, Mbak,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menarik!” kata saya, tentu senang mendengar orang mau jadi editor seperti saya. Masalahnya, profesi editor kan bukan profesi yang ngetop seperti dokter, pilot, polisi, guru, atau presiden. Tapi, kalau ini bukan profesi ngetop, jadi, “Kenapa mau jadi editor?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya bisa marahin pengarang, Mbak! Kayaknya seru tuh,” katanya dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah, apa? Maaf, coba diulang? – Serius, saya mengatakan itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan santai si mahasiswa Harvard mengulanginya, “Supaya bisa marahin pengarang, Mbak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam. Segala semangat ingin mengajar (kalau naskah diterima di sini prosesnya gini, gini, terus diedit gini, gini, lalu kita desain cover gini, gini, blablabla dst dsb) lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooo... gitu ya?” Lalu percakapan jadi tersendat-sendat, dan kaku, dan aneh. Sampai akhirnya si mahasiswa Harvard dijemput oleh teman yang menitipkannya pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, ketika saya mulai mencari kerja di tahun 2000 duluuuu... cita-cita saya adalah menjadi pengarang. Kenapa saya ingin jadi pengarang? Karena saya sangat suka sekali banget membaca. Jadi, ketika kemudian terbuka kesempatan untuk menjadi editor—&lt;em&gt;which is&lt;/em&gt; sebenarnya waktu itu saya juga kurang mengerti apa pekerjaannya, selain bahwa saya akan membaca novel setiap hari—langsung saya meraihnya. Bukan pekerjaan tanpa minus. Yang pasti pekerjaan saya sebelumnya memberi saya gaji dua kali lipat daripada pekerjaan menjadi editor ini (capeknya juga dua kali lipat). Tapi rupanya panggilan hati itu tidak salah. Sebelas tahun kemudian saya tetap menjadi editor, dan terus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah saya menjadi editor tidaklah mulus. Benar saya lulus tes penerimaan, yang artinya penguasaan bahasa Indonesia saya lumayan lebih bagus daripada rekan-rekan pelamar lain. Tapi, saya sungguh belum memahami esensi mengedit. Tugas pertama saya yang diperiksa rekan senior mendapat bisik-bisik merdu ke telinga bos, “Kayak belum diedit saja!” Syukurlah bos saya bijaksana, “Namanya juga baru belajar. Kamu dong ngajarin dia.” Berkas naskah pertama dan kedua dan terus sepanjang tahun pertama selalu kembali ke tangan saya dengan penuh coretan. Mungkin bisa dibilang coretan para senior pada berkas naskah yang saya kerjakan baru agak sedikit berkurang di tahun keempat saya menjadi editor. Sedemikian sulitnya tugas seorang editor, sedemikian tingginya tuntutan akan ketelitian bagi seorang editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demikian saya tidak luput dari kesombongan. Dalam suatu rapat redaksi pernah saya berkomentar tentang para editor junior saya, “Yah, saya saja mencapai tahap ini, bisa seperti ini setelah sekian tahun!” Untunglah rekan editor, Hetih Rusli, cepat menyergah saya, “Dan kita masih terus belajar kan, Don?” Ehem. Benar. Saya masih harus terus belajar menajamkan mata melihat selipan-selipan huruf yang salah, menemukan kalimat-kalimat yang aneh. Saya juga masih harus terus mengikuti perkembangan bahasa (dulu memperhatikan, kemarin memerhatikan, dan hari ini kembali jadi memperhatikan!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;As for the editor-author relationship?&lt;/em&gt; Saya sungguh beruntung tahun 2005, kantor tempat saya bekerja mengadakan lomba novel remaja. Dari sanalah saya kemudian menjadi sangat terlibat dengan para pengarang lokal. Indahnya bekerja sama dengan pengarang lokal sangat banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya harus berhubungan langsung dengan mereka. Mulai dari yang manis, ramah, sopan, dan penurut, sampai yang sombong, bebal, dan hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh, ilmu kehidupan saya teruji saat harus berhubungan dengan aneka pengarang ini—terutama mereka yang karakternya sulit. Bila harus berhubungan dengan mereka-mereka yang sulit ini, terkadang saya menunda-nunda-nunda sampai tidak bisa ditunda lagi, dan akhirnya menghubungi mereka dengan sakit perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya bisa ikut membentuk naskah. Terkadang naskah yang tiba di tangah saya dari pengarang lokal masih mentah, masih harus dipoles kanan-kiri. Memikirkan usulan-usulan apa saja yang bisa diberikan untuk memperbagus suatu novel merupakan proses kreatif tersendiri yang sangat menarik dan membangkitkan semangat. Sungguh seru. Menemukan naskah rapi yang sudah jadi pun menjadi keasyikan tersendiri, karena sama seperti bos saya dulu menemukan Marga T. dan mengangkat Karmila, saya seolah menemukan mutiara terpendam pada novel-novel yang sudah rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, proses hubungan antara editor dan pengarang tidak berhenti pada urusan naskah. Proses berlanjut dengan bentuk setting dan tampilan cover, dan tentu juga proses promosi dan penjualan. Sering kali alasan menemani pengarang &lt;em&gt;talkshow &lt;/em&gt;di radio anu atau di mal itu jadi alasan yang tokcer untuk keluar kantor... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, masalah marahin pengarang, sesuai cita-cita si mahasiswa Harvard itu. Sepanjang sejarah saya menjadi editor, saya rasa saya belum pernah berkonfrontasi terbuka dengan pengarang. Alias saya belum pernah marahin para pengarang yang bekerja sama dengan saya. Sejauh ini saya masih berhasil mengomunikasikan apa yang saya inginkan, sehingga si pengarang bisa menerima dan mengerti. Ada memang beberapa pengarang yang... ya ampun, susahnya dihadapi. Saya pun pernah dimarahi pengarang senior akibat pekerjaan saya kurang sempurna. Tapi saya rasa sikap menghargai pengarang ini merupakan salah satu ajaran almarhum bos saya, Listiana Srisanti. Meskipun saat menghadapi pengarang yang sulit saya merasa “kenapa sih gak boleh balas marah ke pengarang ini, wong dia yang sombong kok!” tapi saya rasa dasar menghargai pengarang itu ada benarnya. Pertama, hukum emas: hargailah orang lain seperti kamu menghargai diri sendiri. Kedua, si pengarang yang punya ide dan tulisan. Ketiga, editor mungkin ensiklopedia berjalan atau menguasai empat bahasa, tapi tetap saja editor berfungsi membantu pengarang. Keempat, hubungan tanpa marah-marah pasti lebih enak, bukan? Sesungguhnya bukankah editor dan pengarang saling membutuhkan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-1336111801751225071?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/1336111801751225071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=1336111801751225071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1336111801751225071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1336111801751225071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/editor-dan-pengarang.html' title='Editor dan Pengarang'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-53248105560132284</id><published>2011-11-03T00:34:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T00:36:25.266-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Dalam Negeri? Hmmm...</title><content type='html'>Ngenes, ngenes, ngenes... Barusan di &lt;em&gt;Kompas &lt;/em&gt;hari ini (3 November 2011), saya melihat iklan pariwisata... Thailand! (!!!) Negara yang minggu-minggu belakangan ini tenggelam dalam banjir yang sampai merenggut ratusan korban jiwa. Dan dinas pariwisatanya masih bisa mengiklankan negerinya? Dalam iklan itu diinformasikan bahwa Bandara Suvarnabhumi tetap buka, transportasi tetap berjalan seperti biasa di Bangkok, dan oh, jangan lupa... Thailand kan bukan cuma Bangkok, tapi juga ada Chiang Mai, Phuket, Pattaya, dll dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, Dinas Pariwisata Indonesia... Indonesia kan bukan cuma Baliiiiiiiiiiiiiii... Plus, Indonesia juga tidak kebanjiran. (Paling tidak belum di musim banjir ini, kecuali yang di Pondok Labu itu... hehehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Dinas Pariwisata Thailand ini, saya juga pernah melihat contoh kegigihan dinas pariwisata negara lain: Turki. Beberapa bulan lalu, hampir semua majalah wisata menulis tentang satu hal: Turki. Tiba-tiba negara ini menjadi sangat hip, menjadi tujuan yang hot. Oke deh, Turki memang asyik. Lokasinya yang berada di dua benua itu eksotik banget. Tapi pada saat bersamaan semua majalah menulis tentang Turki? Mencurigakan gak siiiih???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang hampir sama dengan Turki ini berulang dengan India. Hampir pada saat bersamaan majalah-majalah mengulas tentang India. TV-TV kabel menayangkan ulasan tentang India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gencarnya promosi wisata luar negeri begitu, gimana kita nggak males berwisata di dalam negeri? Oh-oh, ditambah dengan sekarang banyak penerbangan murah, plus kemudahan-kemudahan lain sehingga mengatur perjalanan sehingga benar-benar customized sesuai keinginan kita sangat mungkin dilakukan. Plus-plus lagi bepergian ke seputaran Asia Tenggara ternyata lebih murah meriah dan hemat daripada bepergian dalam negeri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa dong yang kita dapat dengan bepergian dalam negeri? Mahal? Sudah pasti. Susah? Sudah hampir pasti. Pelayanan standar atau bahkan di bawah standar? Sudah hampir pasti jugaaa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhhh (menghela napas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya, ini yang kita dapat kalau bepergian dalam negeri: pengalaman otentik yang belum tentu sudah diperoleh orang lain. Tempat-tempat rahasia yang belum tentu diketahui orang lain. Ketabahan dan kesabaran. Cerita unik segudang yang bisa dibagikan untuk orang lain. Mau jadi backpacker? Taklukkan dulu Indonesia. Saking repotnya jalan-jalan dalam negeri, jalan-jalan ngere di luar negeri sudah hampir pasti bisa dilalui dengan tabah dan manis berbuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kuncinya jalan-jalan dalam negeri adalah jangan takut, jangan manja, buka mata, buka telinga, buka diri (tapi jangan telanjang, bo. Berabe!). Kebanyakan orang Indonesia kan penakut. Naik pesawat jelek, takut. Naik pesawat delay, manyun. Dapat hotel kutuan, enak aja wong udah bayar! Memang sih gak enak, tapi sebagai orang Indonesia mungkin kita mesti menerima ya beginilah keadaan pariwisata negara kita. Dan kalau bukan kita yang mulai jalan-jalan di negara kita, siapa lagi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-53248105560132284?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/53248105560132284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=53248105560132284' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/53248105560132284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/53248105560132284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/11/dalam-negeri-hmmm.html' title='Dalam Negeri? Hmmm...'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-1568198626247722441</id><published>2011-10-30T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-10-30T04:25:45.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Bahasa-bahasa</title><content type='html'>Daysann McLane, penulis &lt;em&gt;National Geographic Traveler&lt;/em&gt; versi Amerika, membuat artikel tentang pentingnya bahasa ketiga dalam perjalanan. Maksudnya bahasa ketiga adalah bahasa asing lain selain Inggris. Jadi kayak kita di Indonesia ini, bahasa pertama kita ya Indonesia, kedua Inggris (tapi bisa juga bahasa Jawa, Sunda, Melayu, dll, jadi dengan begitu bahasa Inggris jadi bahasa ketiga), dan ketiga (atau keempat) adalah bahasa asing lain itu. Dalam kasus saya, saya sungguh beruntung pernah kursus bahasa Prancis dan Spanyol. Jadi apes-apesnya saya bisa bilang “Saya lapar!” dalam kedua bahasa itu... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bahasa ketiga itu penting? Ternyata kadang-kadang di negara asing, kita tidak bisa bahasa lokal, penduduk lokal tidak bisa bahasa Inggris, tapi... ajaibnya terkadang kita bisa bahasa ketiga ini dan si penduduk lokal itu pun bisa bahasa tersebut! Komunikasi pun lancar terjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daysann McLane mengalaminya di Jepang. Kala berada dalam bus, dia berusaha mengobrol dengan cewek Jepang yang duduk di sebelahnya. Sialnya si cewek tidak bisa bahasa Inggris. Nyengir-nyengir kudalah mereka berdua. Entah bagaimana, tiba-tiba terlontar ungkapan bahasa Spanyol dari mulut si cewek Jepang. Lho kok pucuk dicinta ulam tiba, si Daysann pun aktif berbahasa Spanyol. Jadilah mereka bisa nyambung dan ngobrol seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama seperti pengalaman Daysann, wartawan senior &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; juga pengarang buku perjalanan berjudul &lt;em&gt;Sekali Merengkuh Dayung&lt;/em&gt;, Diah Marsidi, juga punya pengalaman bahasa ketiga (baginya) ini. Di Italia, dia bepergian ke daerah pegunungan. Di dalam bus yang penuh celoteh bahasa Italia, telinganya menangkap percakapan bahasa Spanyol. Tak ragu-ragu dia menyapa para remaja Spanyol yang sedang belajar di Italia itu. Para remaja itu senang sekali ada yang bisa berbahasa Spanyol, dan heran kok bisa-bisanya orang Asia yang menguasai bahasa itu. Sebenarnya mereka rindu juga berbahasa Spanyol, karena pada masa tinggal mereka di Italia itu, tidak ada yang bisa mereka ajak bicara bahasa Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman para remaja Spanyol yang senang betul mendengar bahasa negaranya di tanah asing itu pernah saya alami di Paris. Saat duduk di kolam di samping piramida Louvre yang kesohor itu, tiba-tiba saya mendengar suara-suara berbahasa Indonesia, “Foto juga dong di sebelah sini...” Tidak buang waktu, saya langsung nembak, “Dari Indonesia yaaaa...” Cowok-cowok yang sedang sibuk foto-foto itu tentu tergirang-girang ketemu orang awak. Ternyata mereka dikirim kursus oleh kantor mereka. Langsung kami bertukar tempat-tempat wisata mana saja yang pernah kami datangi. Lucunya, saya mengkhususkan diri ke Louvre saat itu karena tiketnya gratis, ternyata mereka yang sudah lebih lama berada di Paris, malah tidak tahu (mungkin karena fokus ikut kursus kali ya...). Jadi begitu saya beritahu hari itu tiket masuk museum gratis, mereka langsung kabur meninggalkan saya untuk memburu jam buka museum yang sudah akan tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menggunakan bahasa ketiga saya peroleh juga di Paris. Tentu saja dengan terbata-bata, menggunakan bahasa Prancis saya dengan para &lt;em&gt;native speakers&lt;/em&gt;-nya. Kata orang, Parisians dan orang Prancis pada umumnya ogah berbahasa Inggris. Kata saya, nggak tuh! Banyak kok orang Paris yang baik hati mau jawab kalau ditanya dengan bahasa Inggris. Tapi ada juga sih yang ogah berbahasa Inggris. “&lt;em&gt;Non, non, non, en francais, s'il vous plait!&lt;/em&gt;” Terbata-batalah saya menjelaskan saya ingin roti plus cokelat panas. Lain kalinya, dengan pede saya menanyakan judul DVD yang saya inginkan, “&lt;em&gt;Excusez-moi, s'il vous plait, vous savez 'Epouse-moi'?&lt;/em&gt;” Para penjaga toko DVD itu menatap saya dengan intens lalu membalas, “&lt;em&gt;C'est un proposition, Madam?&lt;/em&gt;” Lalu mereka meledak terbahak-bahak, sementara saya jadinya tersipu-sipu malu, soalnya judul DVD itu memang, “&lt;em&gt;will you marry me?&lt;/em&gt;” hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling pede jaya berbahasa Prancis (dikompori oleh sedikit kekesalan karena kena todong ibu-ibu Cina untuk menolong membelikan tas Louis Vuitton buat dia) adalah di gerai Louis Vuitton di Champs Elysees. Keren banget gak tuh? Louis Vuitton, Champs Elysees. &lt;em&gt;Trully on top of the world.&lt;/em&gt;  Sialnya saya cuma turis miskin yang tiket ke Eropa pun dibayarin kantor (tapi puji Tuhan, udah nyampe Eropa... hahaha...). Dengan pede jaya (dicampur sedikit kesel), saya berderap masuk gerai LV itu, langsung mendatangi manajernya yang menyapa dengan bahasa Inggris, “&lt;em&gt;May I help you?&lt;/em&gt;” dan saya jawab dengan bahasa Prancis (keren, gak tuh?), “&lt;em&gt;Oui, vous savez ce sac&lt;/em&gt; blablabla (jenis tasnya).” Langsung si manajer jadi lebih ramah, “&lt;em&gt;Oui, Madam.&lt;/em&gt;” Dia pergi mengambilkan tas itu. Saat transaksi, dia bertanya saya dari mana, saat saya bilang dari Indonesia, dia tidak percaya. “&lt;em&gt;Je pense-que, vous-etes Philipine, Madam,&lt;/em&gt;” katanya. Wah ya deketan sih. Tapi lebih sedih lagi pas dia gak percaya saya belajar bahasa Prancis di Jakarta. “Emangnya ada les Prancis di Jakarta?” tanyanya. Gak sopan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal bahasa ketiga, saya pernah gagal total memakainya---jelas saya tidak seberuntung si Daysann McLane. Di Bologna, Italia, saya ingin menanyakan jam keberangkatan kereta api. Masuklah saya ke konter informasi di stasiun, yang terdapat dalam suatu ruangan tersendiri. Bule-bule Italia di sana menatap dengan angker. “&lt;em&gt;No English!&lt;/em&gt;” kata salah satu di antara mereka. Gleks. Saya pikir bahasa Italia mirip bahasa Spanyol, jadi meskipun bahasa Spanyol saya celemotan, saya beranikan diri untuk menggunakannya. Masalahnya kalau kita tidak yakin bahwa diri kita akan dimengerti, kita cenderung bicara dengan suara keras dan penekanan pada tiap kata. Plus gugup, jadilah celemotan meningkat ke belepotan. “&lt;em&gt;Tengo que volver aqui&lt;/em&gt;...” Maksudnya, saya (tepatnya teman saya sih) mesti kembali ke Bologna situ setelah melawat ke Firenze beberapa jam, dan saya ingin menanyakan kereta balik dari Firenze jam berapa aja. Reaksinya, bapak-ibu Italia itu terdiam beberapa detik, lalu meledak terbahak-bahak. Reaksi saya? Merasa terhina, terhina, terhina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, meskipun bahasa ketiga itu kayaknya perlu, apalagi kalau sampai kita ketemu situasi seperti yang dihadapi si Daysann McLane, tapi ada lho bahasa universal yang laku di mana-mana: nyengir kuda dan senyum manis. Asal sudah tersenyum manis, orang-orang yang kita ajak bicara pasti berusaha membantu. Selain itu, jangan lupa bahasa universal lain yang juga laku di mana-mana: bahasa Tarzan! Auooooooooooooo...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-1568198626247722441?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/1568198626247722441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=1568198626247722441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1568198626247722441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1568198626247722441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/10/bahasa-bahasa.html' title='Bahasa-bahasa'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3405283546419925051</id><published>2011-10-27T01:37:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T01:38:11.108-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fun with kids'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Nikmatnya jalan-jalan bersama batita</title><content type='html'>Jalan bareng batita tuh cihui banget loh! Soalnya mayoritas orang suka anak kecil. Anak kecil cukup tersenyum atau bersikap malu-malu, orang-orang langsung meleleh hatinya. Keuntungan dari hati yang meleleh itu banyak banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling sederhana aja, senyum lebar dan hangat dari orang-orang yang kita temui di jalan. Tangan-tangan yang terulur ingin bersalaman dengan anak kita. Ooo... bagaimana kita sebagai ibu si anak tidak ikut hangat hatinya? Mulai dari pramugara-pramugara ganteng sampai opa-opa gendut, semua jatuh cinta pada Mika dalam perjalanan kami ke Eropa dulu. (Sebenernya sih, mamanya yang pengin ikut salaman sama pramugara-pramugara ituuuuhh...) Mulai dari sekadar salaman, tiba-tiba Mika punya opa baru saat audiensi Paus di Vatikan. Mika bisa sampai tidur-tiduran di perut gendut si opa brewok. “Opa!” kata Mika. Si opa manggut-manggut senang, dan dengan bahasa Inggris terbata-bata berkata, “Yes, I'm Opa!” Maklum, si opa cuma bisa bahasa Jerman, dan tentu saja waktu itu Mika baru bisa bahasa bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan-bantuan yang tidak diminta pun berdatangan. Saat audiensi Paus itu misalnya, seorang gadis Italia tiba-tiba mendekati saya dan bertanya, “Do you want an umbrella? For your baby?” Dipinjami payung saat matahari terik di atas kepala? Mau lah yaw! Di Paris lain lagi, dalam stasiun Metro, Mika tertidur dalam gendongan saya, sementara saya sendiri sudah capek dan ribet dengan bawaan lain. Tiba-tiba seorang noni Prancis yang baru saja melewati kami dengan langkah terburu-buru balik badan, lalu menjajari kami (juga dengan langkah terburu-buru). “Wait!” Dia memegang kaki Mika, lalu memperbaiki posisi kaus kakinya yang hampir copot. Lalu dia balik badan lagi dan berlalu begitu saja (tetap dengan terburu-buru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan hati ini merambah ke hal-hal yang menyangkut profesionalitas. Dalam antrean imigrasi di Dubai, petugas langsung memanggil saya, “Madam with the baby and the family!” Yes! Gak perlu antre panjang-panjang, kami langsung lewat imigrasi dengan mulus. Antrean lain yang kami potong juga adalah antrean peziarah di depan Gua Maria di Lourdes. “Madam with the baby!” Ahh... senangnya mendengar kata-kata wasiat itu! Di kantor pos di Roma kata-kata wasiat itu juga sempat terdengar, “Madam with the baby!” Dari segi profesional mungkin para petugas sudah dilatih untuk mendahulukan ibu-ibu dengan anak kecil, supaya si anak tidak rewel dan mengganggu orang lain, tapi dari hati... pasti para petugas itu juga tidak tega melihat si baby ikut mengantre lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kebaikan hati yang benar-benar membuncah adalah saat pemilik toko bunga kering di Lourdes tiba-tiba berlari keluar dari tokonya yang baru kami tinggalkan sambil membawa boneka beruang. “Madam! Wait! It's for your baby!” Oooo... Padahal kami baru saja membuat dia terlambat menutup tokonya karena berbelanja begitu malam. Padahal kami cuma membeli dua kantong lavender. Hati bapak itu pasti selembut boneka beruang yang dia berikan untuk Mika. Semoga tokonya laris manis terus dan suatu hari nanti kami bisa bertemu kembali dengannya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3405283546419925051?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3405283546419925051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3405283546419925051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3405283546419925051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3405283546419925051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/10/nikmatnya-jalan-jalan-bersama-batita.html' title='Nikmatnya jalan-jalan bersama batita'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-8137915469638065368</id><published>2011-10-27T01:34:00.000-07:00</published><updated>2011-10-27T01:37:17.607-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Makanan Surga</title><content type='html'>Omong-omong soal makanan... Makanan yang nggak pernah saya lupakan dalam perjalanan adalah burger. Sepotong burger jalanan yang kalau di Jakarta dijual oleh abang-abang dengan gerobak. Burger dahsyat ini sebenarnya bukan jatah saya, tapi suami saya, alhasil saya cuma kebagian segigit-dua gigit. Tapi, segigit itu sudah cukup untuk membuat saya ingin kembali ke Penang, Malaysia, sampai sekarang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Malam itu kami baru kembali dari Gurney Drive, yang digadang-gadang jadi pusatnya food stalls di Penang. Sayangnya, aneka makanan di sana kurang mengundang selera kami. Lokasi yang cukup jauh dari pusat kota tempat kami menginap, plus kondisi yang menurut selera kami agak jorok membuat makan di sana kurang nyaman. Apalagi ternyata porsi makanan yang kami pilih ternyata kurang besar. (Hehehe... jujur...)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu turun dari taksi di depan hotel, suami melihat gerobak penjual burger itu, dan langsung memutuskan untuk memesan. Ada beberapa pilihan burger, tapi yang suami saya pilih adalah menu yang paling komplet, terdiri atas burger, telur, dan keju.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka mulailah abang burger menyiapkan hidangannya, sambil terus mengobrol seru dengan teman-temannya. Sebenarnya kalau di Jakarta menemukan abang jualan melayani kita sambil tetap mengobrol seru dengan teman-temannya, saya sering sebal. Rasanya si abang tidak melayani kita dengan sepenuh hati, gitu... hehehe... Tapi, cara si abang menyiapkan burgernya rupanya berhasil menghipnotis kami, sampai kami merasa obrolan si abang dengan teman-temannya sama sekali tidak mengganggu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daging burger yang dikeluarkan dari boks penyimpanan berbungkus plastik seperti daging burger di Jakarta. Tapi saat daging burger di Jakarta biasanya bulat tipis seperti ham (meski tidak setipis ham), daging di Penang ini gemuk, terbuat dari daging giling yang dicampur bumbu. Daging mulai digoreng di penggorengan dengan mentega banyak (membuat ngiler), langsung diberi bumbu kecap Inggris cukup banyak (semakin ngiler). Sementara menunggu bagian daging yang menyentuh penggorengan matang, si abang mengocok telur untuk telur dadar. Daging dipinggirkan dan di bagian penggorengan yang tersisa, telur dadar dibuat tipis seperti crepes. Daging lalu dibalik, dan kembali dikucuri kecap Inggris, garam, dan lada (aaaa... aromanya...). Daging yang matang lalu diletakkan di atas dadar, ditambahi keju, rajangan selada dan tomat, saus tomat dan sambal, lalu telur dadar dilipat menutup. Roti juga dipanggang sampai bagian putihnya menjadi kecokelatan. Lalu telur isi daging burger diletakkan di antara roti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepanjang acara memasak dengan &lt;em&gt;backsound &lt;/em&gt;obrolan itu, saya dan suami saya ngiler habis-habisan. Setelahnya, sambil tersenyum lebar, suami saya membawa kantong isi burgernya, menikmatinya sambil sengaja menggoda saya, dan pura-pura pelit waktu saya minta jatah. Tentu saja, saya jadi menyesal juga kenapa tidak sekalian memesan satu porsi tadi. Apalagi malam itu malam terakhir kami di Penang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasa burgernya? Kalau proses memasaknya belum cukup untuk membayangkan rasa burgernya... Rasanya... surgaaaa... Dagingnya empuk, dengan gurih kaldu daging, sementara kecap Inggris-nya pas menambah rasa tidak berlebihan. Dadar telurnya tentu juga gurih dan nikmat. Mungkin satu-satunya masalah adalah burger ini benar-benar jatah makan besar, yang mengenyangkan. Nikmat dan mengenyangkan. Sayang juga, malam itu kami sudah makan lebih dulu di Gurney Drive...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-8137915469638065368?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/8137915469638065368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=8137915469638065368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8137915469638065368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8137915469638065368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/10/makanan-surga.html' title='Makanan Surga'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-6533228988156353773</id><published>2011-10-15T17:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T17:02:29.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fun with kids'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Makan Balita dalam Perjalanan</title><content type='html'>Salah satu penghambat utama saat mengajak anak balita jalan-jalan adalah makanan. Tidak semua lokasi wisata menyediakan makanan yang cocok bagi perut dan selera balita. Lebih repot lagi, tidak semua balita---kalaupun ada makanan yang cocok---mau makan! Bukan hanya si picky eater, tapi balita yang biasanya pemakan segala pun bisa saja mogok makan karena terlalu excited melihat tempat baru atau karena perjalanan yang lama dan jauh demi mencapai tempat wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya lebih sering sulit makan karena terlalu excited itu tadi. Saat bepergian, saya mengusahakan membawa beberapa macam roti dan biskuit, alias kering-keringan yang bisa dipegang tangan kecilnya. Jadi sambil melihat-lihat ini-itu, tangannya terus bergerak ke mulut dan mulutnya terus mengunyah. Pemberian snack begini memberi dilema, karena saat jam makan besar, si anak jadi ogah makan karena perutnya penuh snack. Tapi... kita lagi liburan, kan? Yang penting perutnya ada isinya... hehehe...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Membawa perbekalan snack komplet pernah menyelamatkan liburan saya saat ternyata makanan yang tersedia di lokasi sama sekali tidak cocok buat anak kecil. Puji Tuhan, saya membawa sereal favorit si kecil, plus susunya sekalian. Jadilah acara makan anak di kamar hotel, bukan di ruang makan. Justru kebetulan yang pas, karena si kecil jadi bisa duduk diam makan sambil menonton acara TV kabel anak-anak, yang tidak ada di rumah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbekalan ini juga jadi resep beberapa bunda yang saya wawancarai untuk buku-buku saya, Traveling with Tots (panduan untuk jalan-jalan bersama balita) dan Traveling with Kids (panduan untuk jalan-jalan bersama anak SD). Bunda yang “nekat” masih mau membawa kompor dan panci untuk memasak sendiri bagi anaknya. Tapi bunda yang lebih praktis juga membawa segala macam minuman sehat dalam kemasan, serta snack kecil dan berat. Utamanya agar perut si kecil tidak kosong. Dan kembali lagi, jangan terlalu keukeuh bahwa si kecil harus makan pada jam-jam tertentu. Longgarkan sedikit aturan di rumah, yang penting perut si kecil ada isinya! (Penting banget nih, sudah diulang sampai tiga kali... hehehe...)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikutnya, soal makanan sehat. Kalau di rumah mungkin kita punya aturan harus makan buah, harus ada sayur, dll dsb. Kembali ke “yang penting perut ada isinya”, sekali-sekali saat liburan izinkan anak menikmati junk food. Biar bagaimanapun itu jenis makanan yang paling mudah ditemukan di tempat wisata. Bila meragukan junk food sembarangan, ya kembalilah ke gerai junk food yang sudah tepercaya seperti burger A atau piza B. Salah satu bunda yang saya wawancarai pasrah memberi makan anak-anaknya piza saat liburan. Sebetulnya si bunda sedih juga tidak bisa wisata kuliner dan mencoba menu-menu unik daerah yang dia sambangi, tapi mau apa lagi... mau membiarkan anak kelaparan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila ternyata tidak ada gerai junk food, justru pilihlah restoran rumahan. Atau pokoknya restoran yang kelihatan memasak makanannya langsung begitu dipesan. (Ada kan restoran prasmanan yang menyajikan makanan siap santan tinggal sendok.) Ada dua keuntungan restoran jenis ini: 1. Makanan disajikan fresh dari atas kompor, bukan entah dimasak kapan, 2. Kita bisa minta tolong dibuatkan menu sederhana khusus untuk anak. Menu sederhana ini bisa berupa sekadar telur dadar, pasta rebus, atau kentang goreng. Pengalaman saya paling keren saat makan di kawasan St. Germain di Paris. Waiter yang guaaaanteeeng dengan dagu biru itu mengangguk antusias, “It can be done!” (coba bahasa Inggris dengan aksen Parisian... aaaah), saat saya bertanya bisa nggak mereka membuatkan pasta rebus plus keju saja untuk anak saya. Sepiring (besar) pasta kerang muncul, ditambah saus tomat buatan sendiri, lagi! Membuat saya jadi merasa agak bersalah saat ternyata pasta itu nggak habis. (Iyalah... piring ukuran besaaaaar... sementara anak saya paling cuma makan tiga sendok!)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terakhir, jangan lupa soal kebersihan! Bawa selalu hand sanitizer dan biasakan si kecil memakainya sebelum makan. Ingat, tempat wisata belum tentu menyediakan lokasi untuk bersih-bersih yang memadai (sering kali lokasi bersih-bersihnya justru kotor), belum tentu juga tersedia air bersih yang mengalir. Kalau hand sanitizer tidak ada, bisa juga gunakan tisu basah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oya, selain snack, jangan lupa juga selalu sediakan air putih, entah dalam botol yang dibawa sendiri (lebih ramah lingkungan) atau air mineral kemasan. Selain untuk diminum, air putih ini juga bisa untuk cuci tangan, sekiranya tidak tersedia air di lokasi wisata.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;So, all in all tip-tip untuk memberi makan anak saat jalan-jalan:&lt;br /&gt;* jangan maksa, tema utamanya adalah... Yang Penting Perut Ada Isinya&lt;br /&gt;* bawa snack kecil dan besar&lt;br /&gt;* bawa air minum&lt;br /&gt;* jangan anti junk food&lt;br /&gt;* minta tolong restoran untuk membuatkan menu sederhana&lt;br /&gt;* jangan lupakan kebersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Happy traveling and eating with your kids!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-6533228988156353773?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/6533228988156353773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=6533228988156353773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6533228988156353773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6533228988156353773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/10/makan-balita-dalam-perjalanan.html' title='Makan Balita dalam Perjalanan'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-681839362303593604</id><published>2011-10-06T16:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T17:15:41.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Referensi Liburan</title><content type='html'>Buku-buku yang baik bisa jadi teman yang paling oke untuk mencari ilmu tentang liburan, tentu selain ranah maya yang sekarang ini telah menyediakan segalanya. Belakangan saya sempat membaca tiga buku tentang jalan-jalan yang meskipun gaya jalan-jalannya agak tidak mungkin untuk diterapkan dengan membawa anak-anak, tapi bisa juga memberi inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Flashpacking Keliling Indonesia&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Deedee Caniago&lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berisi cerita sang penulis keliling Indonesia, gaya buku ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hip&lt;/span&gt;, gaul, dan modern banget. Deedee banyak menghadapi kesulitan saat bepergian, tapi rupanya bukan Deedee kalau lalu menyerah dan tidak bisa melihat sisi menyenangkan dari petualangannya. Sayangnya, pantai-pantai cantik yang diuraikan dalam buku ini agaknya memiliki jalan yang terlalu menantang bagi ibu beranak balita seperti saya. Pantai-pantai itu rata-rata dicapai dengan perjalanan berjam-jam dengan kondisi jalan yang ajaib, dan dengan fasilitas yang minim. Meskipun saya penganut “jalan-jalan minim”, tapi tingkat keminiman pun ada batasannya bila membawa anak. Tapi buku ini tetap sangat berguna bagi saya dari segi: 1) cerita yang seru dan lucu, membuat ngiler pengin pergi ke tempat-tempat yang dikisahkan Deedee, 2) ada bagian referensi penyedia tur yang cukup lengkap di bagian belakang buku yang bisa saya hubungi untuk menanyakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;customized tour &lt;/span&gt;bagi keluarga dengan anak kecil 3) bagi destinasi yang terlalu ekstrem tingkat kesulitannya, saya jadi tetap mempunyai impian dan harapan suatu hari nanti saat anak saya sudah lebih besar, lebih dewasa dalam cara pikir, dan lebih kuat secara fisik, dia mau diajak ke sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meraba Indonesia&lt;br /&gt;Ahmad Yunus&lt;br /&gt;Serambi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada unsur mau meniru Che Guevara keliling Amerika Selatan dengan sepeda motornya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Motorcycle Diaries&lt;/span&gt;, sudah difilmkan juga dengan bintang *oh* Gael Garcia Bernal *keterangan ini penting gak seh?*) dua wartawan, satu senior---Farid Gaban, dan satu setengah senior---Ahmad Yunus, berangkat keliling Indonesia naik dua sepeda motor tua. Diawali dari Jakarta ke arah barat ke Sumatera lalu melingkar ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, lalu berakhir di Nusa Tenggara, mereka berdua berusaha mencari titik-titik paling terpencil dan paling sulit dicapai di negara ini. Perjalanan kurang-lebih setahun ini (diselingi beberapa kali kembali ke Jakarta untuk mencari tambahan biaya), mereka menyisiri pelosok paling jauh di negeri ini, bertemu orang-orang yang paling kesulitan, menggunakan alat-alat transportasi yang paling merakyat (selain sepeda motor), menjumpai pemandangan yang paling indah dan pengalaman yang paling murni. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The grand scheme&lt;/span&gt;-nya luar biasa. Siapa pun harus cukup gila untuk menjalani petualangan ini. Sayang sekali Ahmad kurang detail bercerita. Sering kali Ahmad hanya menyebutkan “kami menginap di rumah tetua kampung A, mengobrol, lalu tidur.” Saya sebagai pembaca merasa, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;What? What's the fun of that? &lt;/span&gt;Di mana asyiknya? Di mana serunya? Ngobrol terus tidur mah di rumah juga bisa.” Ahmad kurang mengeksplorasi kekayaan pengalamannya. Demikian pula saat bercerita tentang pemandangan tertentu di pulau terpencil mana, Ahmad kurang mengeksplorasi tulisannya. Padahal  bila digambarkan dengan lebih detail mungkin bisa membuat orang lebih terpacu untuk mengunjungi pulau itu, dus lebih mengenal Indonesia. Dan terakhir, maafkan saya bila naluri editor muncul, tapi ya ampun... buku ini banyak sekali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;miss&lt;/span&gt;-nya! Mulai dari tipo sampai ke kalimat yang nggak nyambung. Jadi ya sudah, mari kita berfokus pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the grand scheme&lt;/span&gt;-nya saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wonderful Europe&lt;br /&gt;Aloys Budi Nugroho &lt;br /&gt;Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersusah-susah keliling Indonesia, meskipun yang pertama sambil hura-hura dan bersenang-senang tiada tara, sementara yang kedua susah beneran dengan idealisme tinggi, mari kita melongok ke negeri seberaaaaaaaaaaaang sono. Saya tertarik dengan buku ini karena tempat-tempat yang didatangi si romo (penulis buku ini adalah seorang pastor Katolik) nyaris tepat sama dengan tempat-tempat yang saya datangi dalam perjalanan Eropa saya tahun lalu, yaitu Paris, Lourdes, Roma. Tentu dengan variasinya. Buku ini mengulas tentang perjalanan si romo menjadi pembimbing rohani sebuah tur. Senangnya membaca perjalanan dengan menggunakan jasa tur, saya makin yakin memang gaya perjalanan yang paling pas bagi saya adalah mengatur sendiri. Dengan demikian saya bisa puas menikmati apa pun yang ingin saya nikmati saat jalan-jalan itu. Sedihnya, tentu saja saya jadi tahu ada lumayan banyak juga yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;miss &lt;/span&gt;dengan gaya jalan saya yang independen itu. Misalnya di Roma saja saya tidak sempat ke tiga basilika besar selain Basilika St. Petrus. Saya juga tidak sempat berputar mengunjungi biara St. Bernadet di Nevers. Meskipun demikian saya lumayan bangga bisa sampai ke Kapel Medali Wasiat di Paris, meski sambil menggendong anak dan pakai jalan 1,5 km, hohoho... Pelajaran dari buku ini bagi saya: sebelum berangkat ke satu tempat, riset riset riset riset lagi. Pastikan tempat-tempat menarik mana yang mau didatangi biar nanti pas pulang tidak menyesal!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-681839362303593604?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/681839362303593604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=681839362303593604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/681839362303593604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/681839362303593604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/10/referensi-liburan.html' title='Referensi Liburan'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-2291972509597332682</id><published>2011-09-08T01:11:00.000-07:00</published><updated>2011-09-08T01:13:58.430-07:00</updated><title type='text'>Ciater</title><content type='html'>Ini cerita perjalanan bulan Oktober 2010 lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya suami saya akhirnya memutuskan untuk cuti sejenak dari kantornya. Pilihannya, menginap dua malam di Ciater Resort &amp; Spa. Pikirannya, enak toh semua sudah ada, baik taman rekreasi sampai ke kolam air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai perjalanan bermobil dari Jakarta sudah cukup siang, sekitar pukul 08.00. Si kecil duduk aman dalam carseat-nya, dan lumayan menikmati pemandangan. Sekitar pukul 11.00, kami berhenti di rest area dan brunch di salah satu restoran Padang di sana. Enak juga, meskipun mahal. Si kecil makan cukup banyak. Setelahnya si kecil tidur di carseat-nya, jadi perjalanan berlangsung aman terkendali. Masuk Bandung, kami mulai bingung mencari jalan. Suami selalu mengandalkan saya untuk jadi navigator di Bandung, dengan tuduhan saya kan sejak kecil bolak-balik ke sana. Penjelasan bahwa saya tinggal duduk enak dalam mobil tante/sepupu/adik, tidak pernah diterima suami * sigh *. Untung papan penunjuk jalan berwarna hijau itu masih bisa cukup diandalkan untuk memberi arah ke Lembang, lalu Ciater. Meskipun lebih banyak menunjukkan arah ke FO ini atau tempat outbound itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, kami berhasil mencapai hotel sekitar pukul 14.30. Setelah meletakkan bawaan dalam kamar (kamar suite dengan tempat tidur queen, TV kabel, dan kamar mandi dalam---bersih meskipun agak basah), kami mengeksplorasi tempat. Tujuan utama ke Ciater adalah berendam air panas, jadi yang utama kami cari adalah lokasi kolam-kolamnya. Salah satu kolam (Cinangka) berhubungan dengan restoran tempat kami mendapat welcome drink. Jadi sembari menikmati welcome drink itu, kami menyusun rencana. Sempat juga si kecil (dan emaknya) naik kuda dulu keliling sampai ke resort sebelah. Sayangnya, rupanya si kecil (emaknya juga) agak takut juga naik kuda yang tinggi di jalanan yang kurang rata, jadi dia ribut minta kembali “ke papa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai naik kuda dan istirahat, kami langsung nyebur ke kolam Cinangka tersebut. Bwah, enaknya mencelupkan diri ke kolam berair panas alami itu! Otot dan tulang langsung lemas semua. Si kecil sibuk main mobil-mobilan (lampu mobil polisinya sempat pecah, untung bisa minta selotip ke resepsionis hotel!). Tapi tak lama kemudian si kecil mulai ribut. Rupanya matanya pedas kemasukan air berbelerang. Sibuklah mamanya menyuruh dia tidak mengusap mata. Sia-sia, wong mata perih kok nggak boleh dikucek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan malam di restoran di dekat kolam tersebut, sayangnya kurang memuaskan. Antara rasa dan ukuran porsi sama sekali tidak sebanding dengan harga yang selangit. Untung kembali ke kamar, Mama bawa sereal dan susu berkotak-kotak. Jadi, si kecil duduk manis makan sereal sambil nonton saluran TV Jim-Jam. Cuaca kurang bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi setelah sarapan di restoran tersebut lagi (kembali sarapan gagal, dan si kecil makan perbekalan dari rumah), kami mengeksplorasi taman rekreasi. Sayangnya hujan rintik kembali turun. Akhirnya si kecil cuma naik kereta-keretaan. Kami lalu memilih naik mobil untuk mencari makan siang di luar hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waks! Si kecil muntah habis-habisan! Mungkin karena jalanan gunung yang meliuk-liuk. Mungkin juga karena perutnya kurang diisi dengan benar sejak semalam. Gawatnya, karena merasa hanya pergi sebentar, mamanya tidak bekal banyak baju ganti! Di restoran ayam goreng di Lembang pun, si kecil masih muntah-muntah. Setelah itu juga dalam perjalanan kembali ke hotel. Huaaaaaa... kasian kau, nak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, karena hujan terus, rencana kembali berendam di kolam air panas pun batal. Huaaa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, kami mengisi perut si kecil kembali dengan sereal bekal dari rumah. Setelah itu, kami masih menyempatkan diri untuk kembali berendam di kolam. Rugi dong jauh-jauh ke Ciater kalau cuma berendam sekali! Sayangnya, cuaca yang justru panas membuat berendam rasanya jadi berbeda dengan waktu berendam sore-sore pertama datang itu. Berendam siang-siang ini panas dan kurang nyaman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pulang, si kecil kembali muntah-muntah di jalan. Perut dan kaki sudah digosok minyak kayu putih, tapi rupanya tidak banyak membantu kondisinya. Saat akhirnya kami berhenti di rest area untuk makan, si kecil bisa makan. Tapi, kembali muntah begitu kami melanjutkan perjalanan. Huaaa... sedihnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, rasanya malah jadi capek. Trip kali ini membuktikan kata orang: pergi dengan anak kecil malah membuat orangtuanya merasa butuh liburan lagi begitu sampai di rumah. Huaaaaaaaa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Road trip singkat bersama balita:&lt;br /&gt;* Anak balita lebih baik naik kuda poni saja. Kalau yang tersedia kuda “biasa” yang tingginya sekitar 1,5 meter, lebih baik beri pengertian anak untuk tidak naik. Atau kalau anak memaksa atau menangis minta naik kuda, mintalah trayek yang singkat, tidak usah jauh-jauh. Atau pastikan mereka memang pemberani!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan pernah lupa bawa selotip. Multifungsi banget! Sama seperti tisu basah---errr... dengan fungsi-fungsi yang berbeda, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kalau kurang yakin dengan kualitas makanan yang disajikan hotel atau kemungkinan bisa kesulitan mencari makan, bawa bekal banyak-banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Selalu sedia minimal dua stel baju ganti anak balita di mobil untuk road trip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biskuit kering, air putih, dan minyak hangat-hangat untuk anak yang muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan paksakan untuk langsung melanjutkan perjalanan selesai makan. Jalan-jalanlah dulu sebentar untuk menurunkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kalau perlu beri anak obat antimual seperti Antimo Anak atau Tolak Angin Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Cuaca, cuaca, cuaca. Selidiki betul cuaca yang akan dihadapi di tempat liburan. Hujan bisa merusak segalanya dan memaksa kita tinggal terus dalam kamar hotel. Hiks.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-2291972509597332682?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/2291972509597332682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=2291972509597332682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2291972509597332682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2291972509597332682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/09/ciater.html' title='Ciater'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-5520625908913973953</id><published>2011-09-07T03:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-07T03:49:57.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fun with kids'/><title type='text'>Bersama anak di rumah</title><content type='html'>Libur Lebaran baru lewat. Apa saja kegiatan Anda bersama anak selain mengunjungi dan bersilaturahmi ke keluarga besar? Ke mal? Ke mal lagi? Absen mal di Jakarta? Memang sih sudah jutaan orang yang menyesali lanskap Jakarta yang tidak menyisakan ruang terbuka hijau atau hiburan murah-meriah bagi penduduknya, sehingga orangtua sering bingung mau membawa anaknya ke mana lagi selain ke mal. Bukan hanya saat libur Lebaran, tapi juga di tiap week-end. Tapi kalau tidak bisa keluar rumah, kenapa tidak di rumah saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti terus membiarkan anak njogrok di depan TV bersama saluran kabel, film DVD, ataupun game. Bukan juga terus membiarkan hidung anak menancap pada Ipod, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih orangtua yang bekerja sering kali penginnya anak duduk diam dan tidak ngerecokin. Tapi, bukan berarti terus anak jadi diberi Ipod/TV dan dibiarkan diam saja, kan? Anak itu senang sekali kok kalau orangtuanya berkegiatan bersama dia, apa pun kegiatannya. Kalau kegiatan itu berbentuk bermain bersama dia dengan mainan dia, kesenangannya pasti berlipat-lipat. Tapi, bukan berarti anak tidak bisa diajak berkegiatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut beberapa kegiatan di rumah yang mungkin agak aneh, tapi bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama anak, terutama saat liburan dan di akhir pekan:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membersihkan rumah. &lt;/span&gt;Pembantu mudik dan tidak dapat infal? Jangan mau jadi upik abu sendirian, berdayakan anak! Kegiatan favorit anak adalah yang berhubungan dengan air, jadi ajari dia mencuci sepatunya sendiri (sandal/sepatu karet yang lagi ngetren sangat mudah dibersihkan dengan air dan sedikit sabun) atau ajak dia mencuci mobil. Berikutnya anak juga bisa diajari mencuci piring (mungkin mulai dengan piring melamin atau piring makannya sendiri dulu, bila takut perangkat makan pecah). Lalu ajak dia mencuci jendela. Kegiatan mencuci jendela dengan seember air dan koran bekas sangatlah menyenangkan. Biarkan anak mencuci jendela sebelah bawah, sementara Anda membersihkan sebelah atas. Masih bermain air, minta anak menyiram tanaman di halaman. Anak juga bisa diajari mengepel lantai. Bila kuatir hasilnya kurang bersih, bisa beri dia jatah “sepetak pel”, misalnya pojok kamar bermainnya sendiri. Mulailah dengan gaya ringan dan “bermain”, misalnya, “Hari ini kita main rumah-rumahan yok! Bantuin Mama cuci piring ya!” sehingga anak merasa kegiatan mengurus rumah menyenangkan. Jangan mulai dengan “Duh, kerjaan kok nggak ada habisnya sih! Ayo, sekarang tugas kamu bantuin Mama!” Siapa pun pasti malas bila ajakannya seperti itu. Pujilah hasil pekerjaan anak, sehingga dia senang serta bangga, dan lain kali tidak ragu-ragu untuk diminta bantuannya. Anak belajar soal kebersihan dan keteraturan rumah, tanggung jawab, dan harga diri serta kepercayaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membuat kue. &lt;/span&gt;Carilah resep kue yang mudah dan tidak membutuhkan banyak alat, terutama untuk anak yang masih balita. Takutnya bila menggunakan peralatan seperti blender atau mixer, anak bisa terluka, padahal anak paling senang ikut mencampur bahan kue. Orangtua bisa saja melakukan mixing ini, tapi anak pasti kecewa. Jadi, carilah resep yang bisa dicampur dengan tangan atau dengan sendok/spatula. Salah satunya adalah resep bola-bola cokelat (biskuit marie dihancurkan, dicampur susu kental manis, dipadatkan lalu digulingkan pada meses) dan donat (mencampur bahan tidak perlu dengan alat, tapi diuleni dengan tangan saja, selain itu anak bisa mencetak bentuk-bentuk donat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bubur kertas. &lt;/span&gt;Berdayakan kertas bekas seperti tagihan kartu kredit, struk belanja, koran dan majalah bekas menjadi bubur kertas. Anak diminta merobek-robek kertas dan meremas-remasnya dalam air hingga menjadi bubur. Anak mengembangkan motorik halusnya lho. Hasilnya bisa dibuat kertas daur ulang (dicampur dengan lem) yang bisa digunakan sebagai kertas kado atau dibentuk bola-bola atau bentuk lain yang lucu sebagai mainan. (Ingat waktu SD pernah buat prakarya peta Indonesia dari bubur kertas dan cat minyak.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menata foto. &lt;/span&gt;Foto-foto liburan keluarga kemarin belum disusun? Ajak anak menempel foto pada album atau scrapbook dan menambahkan komentar-komentar atau cerita singkat pada foto itu. Anda melatih ingatan anak dan mengembangkan kecerdasan visual-spatial serta matematikanya (kronologi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kataloging. &lt;/span&gt;Masih soal menata dan merapikan, ajak anak menata buku-buku atau DVD yang dimilikinya, mencatat judul/pengarangnya dan menyimpannya dalam urutan tertentu, alias membuatkan katalognya. Kegiatan ini bisa terasa membosankan bagi anak yang aktif, jadi Anda harus mengira-ngira mood anak dan mengganti kegiatan bila si kecil terlihat bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Piknik. &lt;/span&gt;Piknik di rumah, kenapa tidak? Sepetak kecil halaman atau carport pun bisa jadi lahan piknik yang asyik. Tidak usah belanja, tapi berdayakan isi kulkas dan sisa makanan. Hangatkan makanan sisa tadi malam dan masukkan dalam wadah-wadah lucu atau bila ada piring/gelas kertas. Tidak punya sirop? Buat saja es teh manis. Tidak punya tikar? Gunakan koran bekas sebagai alas duduk. Sambil piknik, orangtua bisa mengobrol santai bersama anak, atau memainkan permainan tanpa alat seperti cerita bersambung yang santai sampai petak umpet atau lompat tali yang lebih menguras tenaga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-5520625908913973953?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/5520625908913973953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=5520625908913973953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5520625908913973953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5520625908913973953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/09/bersama-anak-di-rumah.html' title='Bersama anak di rumah'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-1601606134328507711</id><published>2011-08-24T16:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-24T16:17:01.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Ke Museum Bareng Balita</title><content type='html'>Bisa kok! Tapi dengan catatan... hehehe... seperti biasa selalu ada udang di balik bakwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang temanya apa dulu nih? Ibunya mau menikmati karya seni dan benda sejarah atau anaknya mau diajak senang-senang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau temanya adalah “acara Ibu”, ya pilihlah saat pergi ke museum pas anak sudah beres semua. Artinya anak sudah makan, sudah tidur, dan kemungkinan besar tidak akan cranky dalam museum. Siapkan juga stroller atau gendongan untuk anak batita, sehingga si kecil gak keluyuran ke mana-mana dan ibunya bisa menikmati museum. Siapkan juga snack dan minuman buat si kecil, dengan catatan dinikmati di luar ruangan pajang museum, karena siapa tahu makanan yang dimakan di dalam ruang meninggalkan ceceran kue yang bisa membuat benda-benda pajang di sana jadi rusak. Siapkan juga kertas gambar dan pensil warna atau buku cerita, yang bisa menyibukkan si kecil sementara ibunya menyimak koleksi museum. Dan, biar bagaimanapun, mengajak balita ke museum tidak bisa lama-lama. Balita cepat bosan, dan belum bisa mengerti betul apa bagusnya sih keramik tua di pojokan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau temanya “acara anak”, ini dia serunya! Ibunya bisa mencari museum ramah anak. Artinya museum yang temanya menarik bagi anak, menyediakan pajangan yang bisa disentuh, juga menyiapkan kegiatan interaktif yang menarik. Jelas bukan jenis museum yang sekadar datang dan melihat saja. Anak balita kan senang untuk praktik langsung, dan memegang ini-itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mika sudah memasuki beberapa museum, termasuk dua mahamuseum di dunia ini, Louvre dan Musei Vatikani (err... yang satu dia lari-larian di lapangannya, yang lain dia tidur di sepanjang museum). Tapi, dia justru paling gembira di dua museum di Jakarta ini: Museum Polisi dan Museum Layang-Layang. (Dia juga senang di Museum Bank Mandiri, tapi karena ada kuda-kudaan dan perosotan di halaman museum, jadi irelevan dengan tema museumnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah Juni 2011 lalu kami ke Museum Polisi. Begitu masuk halaman parkir Mabes Polri-nya saja Mika sudah heboh karena ada mobil polisi di mana-mana. Begitu sampai di depan museumnya, ada helikopter! Helikopter! Helikopter polisi asli, sodara-sodara! Bayangkan betapa pentingnya benda itu bagi anak laki-laki umur tiga tahun. Langsunglah si kecil naik untuk memegang langsung helikopter itu. Setelah memasuki ruang museum, kehebohan belum berakhir. Pertama-tama, kami ketemu sama ibu-ibu polisi yang ramah-ramah (polisi sungguhan, wow!), lalu ada mobil polisi yang boleh dimasuki! Mika langsung masuk mobil polisi itu dan memegang-megang semua peralatannya. Asyik! Di lantai dua, ternyata ada pojok khusus yang disediakan untuk anak-anak. Isinya permainan detektif-detektifan, mobil-mobilan (seperti mobil yang di kereta belanja Carrefour dan Giant), juga perangkat komputer. Akhirnya kami nguplek di sudut itu, karena Mika tidak mau turun dari mobil-mobilannya. So, dari sudut tema oke, pajangan boleh sentuh oke, kegiatan interaktif... mungkin anak umur tiga tahun belum bisa main detektif-detektifan, tapi tersedia, jadi oke. Yap, Museum Polisi adalah museum ramah anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah Agustus 2011, kami ke Museum Layang-Layang. Penasaran dengan promosi dan cerita yang gencar, dan tidak sabar kalau harus menunggu ikut kunjungan sekolah, saya memutuskan berangkat sendiri bersama Mika. Jadi sepulang sekolah kami mampir ke sana. Begitu masuk, ternyata kami disuguhi dulu film tentang layang-layang. Mika tidak terlalu excited dan bolak-balik mengajak “lihat layang-layang”. Setelah masuk ke bangunan museum yang berupa rumah Jawa, Mika mulai gembira melihat-lihat berbagai bentuk layangan. Tapi tentu saja dia tidak sabar mendengarkan keterangan dari bapak guide. Jadi acara melihat-lihat bagian dalam museumnya hanya terjadi sekilas pandang saja. Mika baru benar-benar gembira saat praktik membuat layangan. Kertas yang sudah dicetak gambar bisa diwarnai oleh Mika, lalu si bapak guide yang baik hati itu memasangkan benang layangan dan rusuk layangan dari batang lidi. Mika juga diajari menerbangkan layangan kertas kecil itu. Senang sekali dia lari kian kemari di halaman museum yang lumayan luas. So, untuk museum ini untuk tema menarik bagi anak oke. Pajangan boleh sentuh... errrm... meskipun layangan yang tersedia boleh disentuh, tapi saya tetap melarang Mika pegang-pegang, takut badan layangan yang rata-rata dari kertas tipis itu jadi sobek, mengingat dia belum bisa mengukur tenaganya. Dan kegiatan interaktif... berhasil banget! Mika senang sekali membuat layangan dan mencoba menerbangkannya. Meskipun kecil dan terbuat dari kertas HVS yang cukup tebal, ternyata layangan praktik ini bisa terbang lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All in all, bisa kan anak-anak balita diajak ke museum? Yang penting pilih museum yang tepat, supaya si anak bisa menikmatinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Polri: Mabes Polri Blok M, gratis&lt;br /&gt;Museum Layang-Layang: Jl. H. Kamang, Pd. Labu, Rp10.000 (nonton film, guide, praktik membuat layangan. Terdapat berbagai paket menarik lain seperti membatik, membuat keramik, dll dengan harga bervariasi)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-1601606134328507711?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/1601606134328507711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=1601606134328507711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1601606134328507711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1601606134328507711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/08/ke-museum-bareng-balita.html' title='Ke Museum Bareng Balita'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-8629122550914601260</id><published>2011-08-15T16:14:00.000-07:00</published><updated>2011-08-15T16:17:46.539-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Anak ilang</title><content type='html'>Nightmare semua orangtua: anaknya ilang. Bener loh, terkadang kalo si anak lagi berulah kita pengin banget anak itu ilang sekalian. Kalo ada orang lewat mau ngambil silahkeun, sumonggo, jangan malu-malu... Tapi, kalo ilang beneran? Wuih, nangis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bikin buku “Traveling with Kids” (will be out soon, yay!) bareng Rully Larasati, tiap berapa alinea, gue menulis “dan jangan lupa lirik tip supaya anak nggak ilang di Bab 6”. Alhasil info tentang tip anak ilang ada di Bab 6 muncul di tiap bab, dan akhirnya supaya nggak bikin boring beberapa info ini dipangkas... hehehe... Tapi, kesimpulan kami (gue dan Rully) adalah kami takut banget anak kami ilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat memang banyak kejadian aneh bin mengerikan seperti anak yang udah cukup besar lagi nunggu di depan wc tempat mamanya pipis kok ya bisa ilang juga, anak yang lagi-lagi udah cukup besar ternyata dikerjain di dalem wc padahal papanya nunggu di pintu wc, anak yang ilang lalu ketemu lagi ginjalnya udah raib... dan semua itu terjadi di tempat-tempat wisata yang cukup kondang, gimana caranya kita jadi nggak males berwisata, coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, buat orang jenis gue, gimana gak berwisata, coba? Kalo udah lama gak jalan-jalan badan rasanya gimana gituuu... Di otak adanya cuma “pengin pergi, pengin pergi, pengin pergi...” (meskipun sering kali gak keturutan juga). Waktu diwawancara Cosmo itu, tip terakhir gue adalah “orangtua mesti berani dan fleksibel”. Tapi pas mendengar soal kehilangan anak-kehilangan anak ini, nyali siapa juga yang nggak ciut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariii kita pompa lagi keberanian kita dengan pertama-tama berdoa! Kayaknya simpel, tapi masalah culik-menculik, hipnotis-menghipnotis, dan hal-hal jelek lainnya cuma bisa kita pasrahkan pada Tuhan. Tujuan kita jalan-jalan kan baik (bersenang-senang dong tentu saja! Tentu plus-plus mempererat tali kasih dalam keluarga, menambah pengetahuan, memberi pada masyarakat sekitar, menambah devisa negara, dsb dsb dll dll), pasti gak mau yang jelek-jelek dong. Jadi, asal kita udah well prepared, serahkanlah semuanya pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan well prepared-nya? Berikut beberapa tip yang lengkapnya bisa dilihat di “Traveling with Tots” dan “Traveling with Kids”. Pertama-tama (seneng amat sih gue pake kata ini...) kita mesti udah riset soal tempat yang mau kita datangi. Tahu lokasinya kayak apa dan situasi kayak apa yang bakal kita temui di sana. Misalnya mau mengunjungi Dufan, kita mesti udah punya gambaran kira-kira luasnya bagaimana, syukur-syukur udah pernah ke sana dan bisa mengira-ngira petugas yang bisa dimintai bantuan ada di mana aja. Demikian pula kalau mau ke tempat wisata lain, misalnya pantai atau rumah ibadah. Kalau sukanya pergi ke off the beaten track, misalnya ke pantai yang sepi dan gak ada orang yang tahu, tetap sih kita udah mesti prepare kira-kira gambaran situasi yang bakal kita temui di sana gimana, siapa yang kira-kira bisa dimintai tolong. Soalnya pergi bawa anak, bo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kembangkan bakal narsis anak sejak dini: fotolah dia begitu sampai di tempat wisata itu. Jadi kita punya fotonya yang paling update hari itu, sehingga sekiranya dia terpisah dari kita, foto itu bisa ditunjukin ke orang lain untuk minta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, untuk anak yang masih kecil (balita), boleh dipakaikan baju yang spesifik banget, misalnya warnanya norak atau kaus yang ada namanya. Kan sekarang banyak tuh tukang bordir nama atau jait kain felt di ITC. Bisa juga dipakaikan name tag, kalung, atau penanda lain yang berisi informasi nama anak dan ortu serta alamat. Atau kalau anak ogah dipakaikan benda-benda itu, kata Lonely Planet, tulis aja info tersebut di tangan atau perut si anak dengan spidol. Gue pribadi kurang setuju sih sama pemberian info detail ini, soalnya kalo ndilalah si anak beneran diculik, (knock on wood!!!) jangan-jangan info malah digunakan si orang jahat. Tapi, kembalilah ke step awal banget tadi kali ya: pasrah sama Tuhan dan ingat niatan kita baik... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga, jangan pernah lepaskan anak dari pandangan kita, dan suruh dia gak boleh jauh-jauh. Bagi tugas sama pasangan (atau siapa pun yang pergi sama kita) untuk menjaga anak. Jangan dua-dua orang dewasa sama-sama antre tiket atau beli makan dan si anak pecicilan ke mana-mana. Demikian pula kalau anak tiba-tiba ilang, bagi tugas dengan pasangan untuk mencari. Dan jangan dua-duanya mencari, tapi satu tunggu di meeting point, yang lain keliling. Kalau ada tempat berbahaya (jurang, sungai, kandang singa) carilah ke tempat-tempat itu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat, perhatikan keinginan anak dan sebisa langsung penuhi. Masalahnya gini, orangtua tuh sering ya bilang ke anak, “De, kalo mau pipis bilang Mama ya, nanti langsung Mama anterin ke wc.” Eh, pas si anak pengin pipis, mamanya lagi seru milih suvenir dan nyuruh anak nunggu. Padahal anak kecil biasa bilang mau pipis kalo udah kebelet banget, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri ke wc dan meninggalkan mamanya yang lama. Kalo takut si anak (balita) pergi sendiri, baik kenakanlah child safety harness kepadanya, jadi dia gak bisa ke mana-mana karena tali anjingnya dipegang si mama. Tapi, kalo takut dibilang gak berperi keanakan di Indonesia, yasud, lupakan dulu si suvenir dan antar si anak ke wc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, untuk anak yang sudah besar terutama, tapi bisa juga untuk balita, kalau terpisah dari ortu, minta mereka menemui orang berseragam. Bisa seragam pelayan, bisa juga satpam. Biasanya mereka orang “benar” dan mau dimintai tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh-oh-oh, dan ingat saran ortu kita dari jaman dulu yang mesti kita sampaikan ke anak-anak: jangan pernah ngomong sama orang asing!!! Kenalan sama orang asing itu asyik, tapi nanti kalau si anak udah punya KTP sendiri ya, alias sudah 18 tahun ke atas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari kita pompa keberanian kita, berdoa, dan selamat jalan-jalan!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-8629122550914601260?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/8629122550914601260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=8629122550914601260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8629122550914601260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/8629122550914601260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/08/anak-ilang.html' title='Anak ilang'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-4978535814549389357</id><published>2011-08-12T11:03:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T11:05:35.769-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='traveling'/><title type='text'>Guide</title><content type='html'>Oke deh... oke... setelah beberapa hari berusaha mengumpulkan niat dan menguatkan hati untuk kembali nge-blog, akhirnya subuh ini mulailah daku mengetik ini-itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nge-blog itu sebenarnya asyik. Dan bisa jadi latihan menulis yang tokcer. Soalnya, kalo kita berkomitmen nge-blog, kita akan memaksa diri kita untuk menulis dan mencari ide terus-menerus. Iya gak? Iya gak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, ada sih ide yang terus berputar di kepala gue seminggu ini. Tepatnya setelah pulang dari on-air di Cosmopolitan Radio (taelah, promosi sih tapi telat, kalo gini mah namanya pamer doang!), Sabtu minggu lalu (6 Agustus 2011). Pas on-air itu, gue bertutur bahwa lebih baik nyewa guide kalo ke Kebun Raya Bogor, lalu tuturan itu mendapat tanggapan di twitter-nya Cosmo, ngapain juga nyewa guide kalo yang diliat itu-itu aja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loh, justru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru itu kita butuh guide, supaya yang dilihat gak itu-itu aja! Terus terang, tanggapan gue pas on-air itu agak memalukan. Gue cuma bilang bahwa guide itu perlu biar kita bisa bedain jenis-jenis pohon. Tapi, sebenarnya it's more... waiii... more than that, sodara-sodara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guide bisa membuat perjalanan kita jadi lebih bermakna. Guide yang baik dan mengenal seluk-beluk topik yang dibawakannya akan membuat kita pulang dari jalan-jalan dengan perasaan bahagia, bertambah cerdas, dan jelas puas. Serius! Guide yang baik bisa membuat perjalanan kita mempunya nilai lebih dan tentu jadi bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya ya, kembali ke Kebun Raya Bogor. Gue dan keluarga pernah mengantar seorang bapak Jerman ke KRB. Di pintu masuk kami menyewa guide, maksudnya tentu biar gak repot ya kalo si bapak Jerman nanya-nanya ke kita, gimana juga jawabnya, coba? Eh, ternyata, si guide itu lulusan IPB juga, bo! Jadi seru banget dia cerita ini-itu, ngasih tahu tumbuhan ini-itu, dan spot-spot lucu di KRB, misalnya tempat si bapak Jerman bisa gelantungan di sulur-suluran ala Tarzan (fotonya terus dicetak dan dibingkai, buat suvenir si bapak Jerman... hehehe). Bayangin gimana kalo kita keliling-keliling KRB tanpa guide? Yang ada ceritanya cuma, “Errm... ini pohon... itu juga pohon... hehehe...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di KRB, waktu gue masih enam tahun, keluarga gue mengantar sekeluarga Belanda (bapak-ibu-anak 3 tahun) ke sana. Tentu keluarga gue menggunakan guide juga. Dan percaya gak, gue masih ingat betapa amazed-nya gue sama KRB karena di situ ada pohon kelapa sawit yang umurnya udah seratus tahun lebih, karena ada bunga bangkai yang bau, dan karena ada teratai yang daunnya luebaaar... buangeeed. Serius, ini kenangan masa kecil gue, bukan karena gue baca di mana, dan bukan karena kunjungan bersama si bapak Jerman yang edisinya udah tahun 2000-an. Ini ingatan dari masa kecil gue. Dan kalo gak nyewa guide, gue rasa sih gue gak akan punya kenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyinggung museum, gue adalah pecinta museum, biarpun museum di Indonesia kondisinya masih yah... (eh, tapi tahun-tahun terakhir ini museum-museum di Indonesia makin cantik loh!). Tapi, sayangnya gue jarang-jarang pakai guide di Jakarta. Lain halnya pas ke Bali, gue langsung dipepet guide saking dikira orang Jepang (wakarimasen! Wakarimasen!). Akibatnya, meskipun gue selalu terkagum-kagum sama koleksi Museum Gajah, tapi gue baru benar-benar jatuh cinta sama museum ini saat mengunjunginya bareng guru sejarah SMA gue. Guru sejarah gue itu piawai banget cerita ini-itu tentang patung-patung di dalam museum. Kecintaan dan kekaguman gue sama koleksi Museum Gajah makin bertambah waktu main ke sana pas Pameran Majapahit dengan narasumber Pak Dwi dari Malang yang diundang Sahabat Museum. Wow, keren! Terutama ceritanya tentang arca Bima yang perkasa... hehehe... Tuh,kan, kalo guide-nya oke, biarpun udah lewat bertahun-tahun tetap inget ceritanya apa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di museum-museum lain (di Indonesia) yang gue kunjungi, gue tidak pernah menggunakan jasa guide. Akibatnya, ya lempeng dot com aja deh. Cuma lihat-lihat, terus foto-foto (atau bahkan gak foto-foto karena gue gak segitu narsisnya) lalu pulang deh kita. Eh, kecuali pas ke museum di Bali itu... yang pas gue dikira orang Jepang itu... hehehe... Kadang keterangan yang disematkan pada barang koleksi museum sudah cukup memuaskan rasa ingin tahu, tapi kadang tulisannya cuma “Piring, tahun 1600-an”. Thanks... garing amat keterangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal guide-nya sendiri, kadang ada guide yang helpful banget dan seru bercerita ini-itu. Tapi kadang ketemu juga guide yang sama garingnya dengan keterangan “Piring, tahun 1600-an” itu. Alias si guide cuma membaca ulang keterangan yang ada. Woi, Pak, kalo baca doang mah saya juga bisa! Tapi, kata salah satu sumber yang bisa dipercaya, kita sebagai pengguna jasa guide juga mesti rajin nanya, biar ceritanya keluar semua. Masalahnya terkadang mau nanya apa juga bingung yak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, tanpa guide, barang-barang di museum mungkin jadi sekadar barang pajangan dan pohon-pohon serta anggrek cantik di KRB cuma jadi sekadar pohon dan anggrek yang cantik. Mereka bukan mangkuk gerabah yang digunakan di zaman Majapahit serta bunga yang persilangannya diawasi sendiri oleh Megawati yang presiden itu. Dan yang pasti, selain menambah poin pada perjalanan kita, kalo ada guide kita bisa minta tolong buat difoto serombongan komplet dong ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-4978535814549389357?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/4978535814549389357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=4978535814549389357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4978535814549389357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4978535814549389357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2011/08/guide.html' title='Guide'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-4085317372352453413</id><published>2010-12-21T08:09:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T08:53:56.469-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>My 2010 Book List</title><content type='html'>Seribu juta maaf, jadi pekerja lepas sekaligus fulltime mom ternyata tidak menyediakan waktu lebih untuk membuat posting. Tapi saya tetap mencuri waktu untuk membaca, dan senangnya... tahun ini bacaan saya lebih beragam, tidak melulu novel dan roman. Beberapa bahkan sangat menggoda untuk diresensi, meskipun akibat minimnya kesempatan, jadi niatan ini tidak bisa terlaksana. So, sementara saya buat saja list buku-buku memorable yang saya baca tahun 2010 ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Family Traveler by Agnes Tri Harjaningrum&lt;br /&gt;Menarik sekali membaca bagaimana Bunda Agnes berinteraksi dengan anak-anaknya, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perjalanan. Yang kurang cocok dengan saya rasanya cara Bunda Agnes packing dan makan... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Manjali dan Cakrabirawa by Ayu Utami&lt;br /&gt;Jelas membuat pengin jadi mahasiswa lagi, lalu kemping bareng temen-temen... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Daughter of Fortune by Isabel Allende&lt;br /&gt;Enak sekali dinikmati. Sudah lama nggak ketemu epik sejarah dengan tokoh perempuan yang kuat begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The Short Second Life of Bree Tanner by Stephenie Meyer&lt;br /&gt;Lebih indah daripada Breaking Dawn. Sayang sekali Bree mesti mati begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Shiver by Maggie Stiefvater&lt;br /&gt;Di antara begitu banyak buku fantasi belakangan ini, Shiver lumayan menghibur. Tapi serigalanya masih "kalah" dibanding serigalanya Jacob Black.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Recipes for Perfect Marriage by Kate Kerrigan&lt;br /&gt;Indah. Membuat saya jadi lebih menghargai pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Glee The Beginning by ???&lt;br /&gt;Ya... ya... ngaku, saya juga kena demam Glee. Tapi novel ini oke banget gak terjebak dengan cerita sinetronnya, malah bisa memberi perspektif baru tentang kisah yang sudah kita tonton dalam sinetronnya. Kekurangannya? Kertas dan tinta tidak bisa menyanyi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The Pillars of the Earth by Ken Follet&lt;br /&gt;Salah satu epik paling bagus yang pernah saya baca. Terpaksa dan harus membacanya lagi seusai menonton serinya yang seru banget. Jatuh cinta lagi pada Jack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Hidup Hirau Hijau by Rudy Badil dkk&lt;br /&gt;Mengerikan membaca buku ini. Kiamat tinggal 30 tahun lagi! Gosh! Anak saya baru 32 tahun saat itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Travel with Children by Lonely Planet&lt;br /&gt;A must read for a traveling parent with kid(s). Very handy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dropsie Avenue by Will Eisner&lt;br /&gt;Tidak sekuat A Contract with God, tapi yah... satu seri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* A Contract with God by Will Eisner&lt;br /&gt;Baca ulang dan ulang dan ulang lagi. Sejak punya versi Inggris-nya di tahun 2001, sudah berpuluh kali saya baca, dan selalu terpesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* A Life Force by Will Eisner&lt;br /&gt;Komentar sama dengan Dropsie Avenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Naked Traveler 2 by Trinity&lt;br /&gt;Rasanya buku ini lebih bagus daripada buku pertamanya. Tapi cakupan tempat yang didatanginya lebih sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Around the World in 80 Dinners by ???&lt;br /&gt;Setelah hidangan yang kesekian, semua makanan itu kok tampaknya sama aja. Yang pasti asal dibuat dari bahan yang segar, makanan pasti enak. Sempat sebal kenapa makanan Indonesia kurang banyak diulas, dan kenapa si penulis memuji-muji pisang goreng di Singapura. Cis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tersesat di Byzantium by Duo Hippo Dinamis/Sheila Rooswitha&lt;br /&gt;Lucu banget! Gambar-gambarnya oke dan bisa menghidupkan cerita, meskipun ceritanya udah pernah muncul di Naked Traveler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kidstuff by Tita Larasati&lt;br /&gt;Lucu-lucu banget ceritanya. Sayangnya tulisan tangan Tita suka semrawut, jadi suka susah bacanya. Resep2 ajaibnya menginspirasi saya untuk menirunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Good Omens by Neil Gaiman&lt;br /&gt;Ngakak depan-belakang. Hebat banget Neil Gaiman bermain-main dengan konsep malaikat dan setan, baik dan jahat. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Catching Fire by Suzanne Collins&lt;br /&gt;Lanjutan Hunger Games. Rasanya seruan buku 1-nya, tapi ending menjanjikan buku 3 yang juga seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jurnal Jo 2: Online by Ken Terate&lt;br /&gt;Novel remaja yang segar soal dunia online. Seru dan membumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Lovasket 2 by Luna Torashyngu&lt;br /&gt;Pertandingan-pertandingannya lebih padat daripada buku 1. Sayangnya jarak dengan buku 1 cukup jauh, sehingga agak sulit mengingat karakter2 di buku 1-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Eurotrip by Matatita&lt;br /&gt;Lumayan banyak tips yang bisa diambil dari buku ini. Tapi yang paling memorable bagi saya malah: kok bisa ya dia ninggal anak batita buat jalan-jalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Paris, Lumiere D'Amour by ???&lt;br /&gt;Cerita tentang muslimah yang menikah dengan orang Prancis. Banyak tips yang berguna bagi Muslim yang mau jalan-jalan ke Paris seperti tempat makan halal, tempat bisa shalat, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Amsterdam Surprise by Ekky Imanjaya&lt;br /&gt;Gak terlalu suka... hehehe... Artikelnya pendek-pendek dan agak garing. Mungkin topiknya gak sesuai selera aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Surat dari Bude Ochie by Rosie Indira&lt;br /&gt;Agak garing dan politis, tapi overall lumayan untuk pengenalan Amerika Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Madras on Rainy Days by Samina Ali&lt;br /&gt;Sekali lagi buku yang mengulas budaya India yang masih sangat tradisional di dunia modern ini. Nilai-nilai yang dipegang kukuh sama orang India itu sering membuat saya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perfect Match by Jodi Picoult&lt;br /&gt;Cerita ini agak mengerikan. Jodi Picoult sendiri juga aneh, dia bilang dia tidak suka pada tokoh utamanya. Jadi, kenapa dia menuliskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Rembulan Gading by Sari Safitri Mohan&lt;br /&gt;Angan asyik anak-anak angkatan saya banget. Tokohnya wartawan, seniman, fotografer... hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bridesmaid's Story by Irene&lt;br /&gt;Up town girl banget. Bagi yang suka cerita yang lebih membumi, this definitly not it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mr Commitment by Mike Gayle&lt;br /&gt;Oke, ternyata cowok itu bener-bener susah dibuat berkomitmen. Atau cowok barat aja yang begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Wisata Kota Tua by Edi Dimyati&lt;br /&gt;Lumayan asyik mengulas Kota Tua Jakarta. Bisa jadi panduan keliling wilayah itu, meskipun mungkin masih ada cerita-cerita yang seharusnya bisa digali lebih jauh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Chicken Soul for Preschoolers' Moms' Soul by Jack Canfield dkk&lt;br /&gt;Seperti biasa chicken soup, menyentuh. Ada beberap tips yang bisa diambil juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Finishing Touch by Deanna Kizis&lt;br /&gt;Dibanding buku Deanna Kizis lain yang pernah saya baca, buku ini sangat menyentuh dan bisa membuat berurai air mata juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* From Paris to Eternity by Clio Freya&lt;br /&gt;Sambungan Eiffel, Tolong! Seru juga, meskipun buku 1-nya tetap lebih bagus. Anyway, senang sekali melihat pengarang Indonesia bisa berangan-angan demikian hidup dan menuangkannya dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urrrmmm... apa lagi ya? Masih ada lagi mestinya, tapi lupa. Anyway, kalau dilupakan berarti mungkin dia tidak sepenting itu... hehehe... Kejam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-4085317372352453413?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/4085317372352453413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=4085317372352453413' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4085317372352453413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4085317372352453413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2010/12/my-2010-book-list.html' title='My 2010 Book List'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-5876712329321867919</id><published>2010-04-23T08:26:00.000-07:00</published><updated>2010-04-23T08:40:40.746-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Family Traveler~Agnes Tri Harjaningrum</title><content type='html'>Ini dia buku yang pas banget buat saya! Pas karena isinya info-info soal traveling di Eropa dan lebih pas lagi karena banyak tips tentang gimana mengajak balita traveling. Gaya bertuturnya pun enak dibaca. Highly recomended buat orangtua yang pengin ngajak jalan-jalan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips-tips yang dibagi Bunda Agnes dalam buku ini sebenarnya dia sontek juga dari buku lain yang pernah dia baca, tapi yang patut dicontoh adalah kegigihan dan kreatifitasnya menerapkan isi buku-buku yang dia baca itu dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan jalan-jalannya. Jujur aja, sebagai seorang pembaca kelas kakap saya melahap sekitar seratus buku setiap tahun (angka agak menurun sejak punya anak), dan setelah punya anak bacaan tentu bergeser juga pada topik-topik bagaimana membesarkan anak dengan baik, menu makan anak, permainan anak, strategi parenting, dll. Tapi... seberapa persen dari hasil bacaan itu yang saya praktikkan saat mengasuh anak? Hmm... begitu menghadapi dunia nyata, teori-teori yang sebenarnya membantu itu langsung lenyap semua! Sementara Bunda Agnes rupanya cukup keukeuh untuk mempraktikkan apa yang dia baca. Hasilnya seperti yang dia tuturkan dalam buku ini, rupanya sangat membantu dalam menciptakan keceriaan dalam keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya beberapa minggu sebelum bepergian Bunda Agnes sudah mengondisikan anak-anaknya untuk membangun antusiasme akan tempat yang akan mereka datangi dengan cara mencari informasi tentang lokasi, membuat games tentang tempat tersebut, sampai merapikan koper. Anak-anak belajar, mengembangkan imajinasi, sekaligus bersenang-senang. Begitu sampai di tujuan, anak-anak diberi games juga, sehingga tidak keberatan mengunjungi tempat-tempat yang sebenarnya belum tentu menarik bagi anak usia balita. Saat terjepit, misalnya anak lapar atau harus bepergian pada jam yang tidak pas, Bunda Agnes juga bisa kreatif menciptakan bujukan-bujukan bagi anak-anaknya. Sesuatu yang bisa disontek saat mengajak jalan balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata tidak bisa bepergian ke luar kota, Bunda Agnes juga kreatif menciptakan "coach traveling" bagi anak-anaknya. Misalnya dengan main sekolah-sekolahan, atau main mengarang cerita. Keakraban keluarga pun makin terjalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memuat banyak tips yang bisa disontek bagi para orangtua yang ingin mengajak jalan-jalan anaknya, buku ini juga memuat tips-tips praktis misalnya cara booking hotel atau tiket, atau cara menghindari copet. Tapi yang saya rasa paling penting disimak adalah, jangan putus asa jadi orangtua, be creative, dan... (bagi para pembaca) jangan ragu untuk mempraktikkan bacaan atau informasi yang kita gali dari berbagai sumber!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-5876712329321867919?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/5876712329321867919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=5876712329321867919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5876712329321867919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5876712329321867919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2010/04/family-traveleragnes-tri-harjaningrum.html' title='Family Traveler~Agnes Tri Harjaningrum'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-9072938497402421551</id><published>2009-11-26T08:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-26T08:45:56.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Tentang Plagiarisme</title><content type='html'>Wah! Ini topik yang lumayan berat, tapi biarlah jadi sekadar curhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini, sekitar 2 minggu yang lalu saya mendapati buku yang sebenarnya lebih tepat disebut biografi, tapi oleh penulis dan penerbitnya disebut novel. Okelah. Tokohnya sudah saya kenal dari artikel majalah Intisari tahun 1980-an (artinya saya baca waktu saya masih SD, jadi maaf-maaf kalau ternyata ingatan saya sudah banyak bolongnya). Saya masih ingat tokoh ini pasti karena waktu saya membaca soal dirinya dulu kisah hidupnya menarik sekali. Sebut inisialnya OHL. Dia putri OTH, orang terkaya di Indonesia zaman Belanda dulu. Pastinya kisah hidupnya membuat silau saya dulu, saking dia punya segala macam yang tidak dipunyai saya yang masih kecil dulu (sampai sekarang juga sih... hehehe...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisnya yang mencantumkan embel-embel penulis pilihan, blogger pilihan, dll dsb pun menarik bagi saya. Apakah tulisan orang pilihan ini benar-benar oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... waktu saya mulai membaca, insting editor saya mulai bekerja. Siapa sih yang milih orang ini jadi penulis pilihan? *Gosh, emosi mulai terlibat... hehehe...* Anyway, saya tidak mau membahas itu dan gaya menulisnya yang... yaaaah... Membuktikan bahwa asal punya keberanian untuk mem-publish tulisan, kamu bisa terpilih jadi yang "pilihan" itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya bahas adalah... saya merasa membaca ulang artikel Intisari zaman dulu itu. Entah bagaimana--mungkin sebenarnya saya punya photography memory, cuma selama ini nggak sadar--semua yang saya baca di buku itu sama persis dengan yang saya baca di artikel Intisari. Padahal saya berharap mendapat sudut pandang yang berbeda, mendapat hasil riset lebih jauh tentang hidup tokoh OHL ini. Mmm... nggak... Saya merasa sekali si penulis cuma menulis ulang, entah dari artikel Intisari itu atau dari buku yang mendasari penulisan artikel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah. Sisi baiknya adalah saya jadi bisa membaca ulang (meskipun dengan sedikit misuh-misuh dan sakit kepala) kisah hidup si tokoh OHL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berikut tentang plagiarisme adalah novel Jody Picoult yang baru-baru ini ada film Hollywood-nya, "My Sister's Keeper". Mmm... Hollywood kalah cepat sama sinetron lokal, bo! Novel ini sudah tayang sekitar satu setengah tahun yang lalu di salah satu TV lokal Indonesia. Dan yang lucunya, setelah sinetron tersebut tayang dan jadi bahan omongan di kantor, saya mendapat tugas mengedit buku soal penulisan skenario sinetron. Dan oh la la! Skenario "My Sister's Keeper" ini jadi bahan contoh skenario di dalam buku tersebut! Sama persis per adegan... yaaa okelah... si penulis skenario sinetron mengembangkan ide cerita (hihihi...). Tapi, kok bisa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa kali saya tulis bahwa semua ide itu sudah basi. Di blog ini, di blog friendster saya. Ide sudah basi, karena... apa yang belum dieksplorasi di zaman ini? Yang baru cara penyampaiannya. Dan... kalau kamu mendapat ide dari sesuatu yang lama, ingin mengeksplorasinya lagi, menuliskannya lagi... please, do it your own way. It may save your face some day. Yah, paling nggak kalau kamu menuliskannya dengan cara dan pikiran kamu sendiri, nggak akan ada orang iseng menuliskan sesuatu seperti ini tentang kamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-9072938497402421551?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/9072938497402421551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=9072938497402421551' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/9072938497402421551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/9072938497402421551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/11/tentang-plagiarisme.html' title='Tentang Plagiarisme'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-6394969613699047341</id><published>2009-11-05T00:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T00:09:09.737-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>The Hunger Games~Suzanne Collins</title><content type='html'>Reality show di alam liar. Pasti langsung kebayang Survivor deh. Tapi gimana kalau peserta-peserta reality show itu dipaksa ikut, bukan menawarkan diri? Dan gimana kalau cara keluar hidup-hidup dari acara TV itu hanya dengan menjadi pemenang dan membunuh semua lawan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, tidak ada lagi yang namanya Amerika Serikat. Di lokasi bekas negara itu berdiri negara Panem, yang terdiri atas Capitol (ibu kotanya) dan 12 Distrik. Orang-orang hidup seperti di zaman batu... atau tepatnya seperti dalam film-film Mad Max atau Waterworld—saat di bumi sudah tidak ada apa-apa lagi, cuma padang pasir atau laut tak berbatas atau... yah, penguasa negeri yang keji dan tiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capitol—si penguasa tiran—mengadakan Hunger Games tiap tahun. Tujuan permainan ini adalah memberi peringatan pada 12 Distrik bawahannya, bahwa Capitol-lah yang berkuasa. Dalam permainan ini, ke-12 distrik harus menyumbang sepasang remaja laki-laki dan perempuan sebagai pesertanya. Jadi total peserta 24 orang. Mereka ditempatkan di wilayah imajiner yang dibuat sesuai kepentingan permainan, dan dipersilakan saling membunuh di sana. Yang terakhir hidup adalah pemenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah disebutkan lagi, semua orang benci Capitol, tapi tidak berani melawannya. Sedikit yang masih punya keberanian masih bisa mengisi perut. Seperti Katniss Everdeen, cewek 16 tahun, dari Distrik 12, yang masih berani berburu di hutan, meskipun itu terlarang. Sehari-hari sepulang sekolah Katniss berburu ditemani Gale, cowok 17 tahun. Hubungan mereka... mmm... bukan pacar, cuma teman baik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari pengundian nama peserta Hunger Games tahun itu (yang wajib diikuti oleh semua remaja umur 12-18 tahun), nama Primrose, adik Katniss keluar sebagai peserta. Tanpa pikir panjang Katniss mengajukan diri sebagai gantinya. Bersamanya terpilih Peeta Mellark sebagai wakil Distrik 12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah mereka sebagai boneka Capitol. Didandani, disuruh belajar berbagai cara penyelamatan diri di alam liar arena Hunger Games. Dan bersandiwara supaya bisa menarik perhatian para sponsor, karena bantuan sponsorlah yang bisa menentukan hidup/mati mereka di arena. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peeta hebat sekali saat mengatakan dia jatuh cinta pada Katniss sejak kecil. Segera saja mereka memainkan pasangan cinta tak sampai dan menarik simpati jutaan penonton di Capitol serta seluruh Panem. Ditambah lagi, keunggulan Katniss berburu membuatnya tak terkalahkan dalam arena. Mereka bersembunyi di hutan arena, lari dari kejaran anak-anak distrik lain yang haus darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya mereka mengubah peraturan Hunger Games. Tapi bagaimana hubungan Katniss dan Peeta sebenarnya? Bagaimana hubungan Katniss dengan Gale? Dan bagaimana pendapat Capitol tentang dua remaja dari Distrik 12 ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku ini membuat kita membayangkan hal-hal yang tak terbayangkan. Misalnya, apa yang akan terjadi puluhan atau ratusan tahun dari sekarang? Apakah negara kita masih berdiri? Apakah negara adikuasa seperti Amerika masih berdiri? Apakah tiran dan kemasabodohan, seperti yang dulu di abad-abad kegelapan terjadi, bisa terjadi lagi? Apakah segala teknologi yang sekarang kita miliki ini bisa terus membantu kita, atau cuma akan membantu kelas-kelas masyarakat tertentu saja nantinya? Apakah kemiskinan akan terus ada, bahkan semakin menjurang dengan masyarakat kelas atas? Apakah selamanya manusia akan haus darah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada pusing berandai-andai, ikut saja berdebar-debar bersama Katniss dan Peeta dalam Hunger Games. Dan tunggu kelanjutan buku keduanya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-6394969613699047341?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/6394969613699047341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=6394969613699047341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6394969613699047341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6394969613699047341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/11/hunger-gamessuzanne-collins.html' title='The Hunger Games~Suzanne Collins'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3885429108536642674</id><published>2009-11-05T00:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T00:10:16.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Garudayana~Is Yuniarto</title><content type='html'>Saya tertarik membeli komik lokal ini setelah membaca ulasannya dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Jakarta Globe&lt;/span&gt;. Terus terang, saya tertariknya karena tema komik ini soal wayang-wayang Mahabarata, soalnya dari kecil dulu saya sudah jadi penikmat Mahabarata dan Ramayana sih. (Baca ulasan sebelumnya soal The Palace of Illusions~Chitra Banerjee Divakaruni.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang wayang dibuat komik modern... hmmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bicara komik, kita mesti bicara gambarnya. Dan gambar-gambar dalam Garudayana ini “Jepang bangeeet”! Hahaha... Tapi lucu-lucu kok. Saya suka tarikan garisnya yang bersih, dan tokoh-tokohnya yang ekspresif. Gambar tokoh-tokohnya juga bagus-bagus, terutama gambar tokoh Mas Ganteng Arjuna, yang pada pandangan pertama jadi... Legolas! Ha? (Kucek-kucek mata!) Legolas? Benar? Tapi kok namanya Arjuna... hahaha... whatever... Jelas Is Yuniarso berhasil banget menuangkan sosok Arjuna yang jadi pujaan kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kisah dan penceritaan Is Yuniarso juga berhasil banget menciptakan dan menganyam tokoh-tokoh baru ke dalam cerita yang sudah ada pakemnya. Tokoh Kinara dan si burung Garuda kecil ini pas banget untuk jadi sentral cerita. Mereka juga yang menghidupkan cerita dan membuat saya ketawa-ketawa geli melihat gambar-gambar ekspresi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya diawali dari tokoh Kinara muncul di Lembah Para Batara dengan tujuan merampok kuburan. Kinara langsung diserang siluman harimau dan beraksi bak AJo di Tomb Raider. Huh, pokoknya seru bo! Sembari beraksi (plus adegan dagelan, namanya juga komik), Kinara mendengar suara minta tolong. Ternyata suara itu datang dari telur Garuda yang disimpan siap disantap Ashuka (raksasa). Memegang si telur, Kinara lalu dikejar si raksasa. Tapi kemudian muncul Gatotkaca... Sementara Kinara dan si Garuda kecil yang baru menetas selamat. Tapi mereka kemudian terjebak dalam perebutan Garuda antara pihak Pandawa dan Kurawa. Huuu... seru... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditutup dalam sesaat santai yang digunakan Garuda untuk belajar terbang, mungkin ini komik Indonesia yang saya rasa sukses dalam hal gambar dan cerita. Tentu jadi nggak sabar baca buku keduanya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3885429108536642674?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3885429108536642674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3885429108536642674' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3885429108536642674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3885429108536642674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/11/garudayanais-yuniarto.html' title='Garudayana~Is Yuniarto'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3983752544140407180</id><published>2009-07-29T07:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-29T07:57:43.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Palace of Illusions ~ Chitra Banerjee Divakaruni</title><content type='html'>“Mahabarata dari sudut pandang Dropadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waw! Sebagai penggemar Mahabarata saya sudah membaca berbagai versinya. Mulai dari cerita bergambar, sampai kitab lusuh yang berpanjang-panjang memuat percakapan Arjuna dan Kresna saat Arjuna dilanda kebimbangan di medan perang. Tapi belakangan saya agak malas membaca berbagai versi baru Mahabarata yang muncul di toko buku. What's new?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang “new”, Mahabarata dari sudut pandang Dropadi. Tokoh kontroversial yang selama ini sangat sedikit diulas, meskipun perannya dalam mencetuskan perang raya di padang Kurusetra lumayan besar. Dan tentu saja versi Mahabarata yang ini sangat baru, karena dipandang dari mata seorang perempuan. Waw! (Sekali lagi.) Divakaruni benar-benar iseng, nekat, sangat imajinatif, dan berani! Dan hasilnya adalah kisah yang benar-benar baru. Penuh rasa, penuh detail, penuh emosi, sangat perempuan. Saya sangat menikmati membaca Mahabarata yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diawali dengan latar belakang Dropadi (saya merasa agak aneh dengan penulisan nama ini karena lebih terbiasa dengan “Drupadi”) yang jarang-jarang terungkap, kisah ini awalnya mengalir mulus dan riang. Dropadi cilik sampai remaja adalah gadis cerdas yang selalu ingin tahu dan tidak sabaran. Juga agak tidak pede karena kulitnya hitam. Tapi dia diselimuti cinta kakaknya, Drestadyumna (susah bener, untung sepanjang cerita dia disebut Dre saja) dan sahabatnya Krishna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dre dan Dropadi lahir karena ayah mereka, Raja Dropada, ingin balas dendam pada Dorna, brahmana guru para Pandawa dan Korawa. Oleh karena itu Dre dididik komplet soal pemerintahan dan pertarungan, sementra Dropadi nebeng pendidikannya. Tapi sebagai gadis, Dropadi terpaksa tidak bisa mengikuti seluruh langkah Dre, dan harus juga belajar hal-hal kewanitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Dropadi ikut pengasuhnya ke seorang brahmana peramal. Oleh sang brahmana, Byasa (yang menuliskan kisah Mahabarata, dan ikut berperan di dalamnya) Dropadi diberitahu dia akan memiliki 5 suami, dan masa depannya akan heboh banget, terutama karena sifatnya yang tidak sabaran dan pemarah. Dropadi tentu tidak percaya pada ramalan itu. Ia hanya senang karena sang brahmana memberinya nama baru, Panchali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama, Raja Dropada membuat sayembara untuk menikahkan Dropadi. Sasarannya adalah Arjuna, supaya para Pandawa bisa menjadi sekutu mereka saat konfrontasi dengan Drona datang. Saat sayembara, Dropadi menghina Karna (sahabat Duryudana, Raja Angga dan yang disangka anak kusir kereta). Mulailah hubungan cinta dan benci keduanya. Seperti yang diinginkan, Arjuna memenangkan Dropadi dan membawanya kepada saudara-saudaranya. Tak disangka, di pintu rumah, gurauan Bima disambut Kunti (ibu para Pandawa) dengan “Apa pun yang kalian bawa itu harus dibagi untuk kelima putraku.” Dengan demikian jadilah Dropadi istri kelima Pandawa, sesuai ramalan Byasa. Dengan pengaturan tertentu, Dropadi berganti suami setiap satu tahun sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pandawa membawa Dropadi ke Hastinapura, lalu ke daerah yang diberikan Drestarata si raja buta kepada mereka. Di daerah baru itu mereka membangun Istana Khayalan, tempat yang sangat dicintai Dropadi. Wilayah yang asalnya gersang itu pun segera menjadi makmur, dan disebut Indraprastha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana datang dalam bentuk permainan dadu. Saat memenuhi undangan Duryudana untuk datang ke Hastinapura, Yudistira kalah main dadu dan kehilangan segalanya; kekayaan, istana, adik-adiknya, dan bahkan Dropadi. Dropadi diseret ke ruang singgasana, dan akan ditelanjangi. Dengan bantuan dewata, niat jahat itu gagal. Dropadi bersumpah tidak akan menyisir rambutnya lagi sebelum mengeramasinya dengan darah para Korawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pandawa terbuang ke hutan selama 12 tahun. Dropadi menyertai suami-suaminya. Di tahun ke-13, mereka bersembunyi di istana Wirata. Selanjutnya menyusun kekuatan untuk menyerang para Korawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian ini cerita menjadi gelap karena Divakaruni dengan piawai memaparkan dendam dan kebencian perempuan yang dipermalukan. Perempuan yang harus mendorong para lelakinya untuk membela kehormatan dirinya. Perempuan yang berusaha dengan cara apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang pecah, dan berakhir mengerikan. Meskipun Pandawa menang, tapi mereka kehilangan makna kemenangan itu sendiri. Saat mereka memerintah Hastinapura dan menjadikannya kerajaan yang makmur sekalipun, bayang-bayang dosa-dosa perang tidak bisa meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, kisah ini sama sekali tidak melenceng dari Mahabarata yang saya kenal. Tapi bumbu-bumbunya membuat kisah ini berbeda. Dan makna yang tersirat pada kisah ini sangat jelas. Belajarlah mengontrol emosi, belajarnya menjadi dewasa, buanglah dendam. Dan tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu kisah cinta Dropadi dengan lelaki-lelakinya juga sangat menarik. Utamanya hubungannya dengan Karna dan Krishna. Betapa Dropadi mencintai Krishna secara platonis, selalu kehilangan Krishna, selalu ingin didampingi Raja Dwaraka itu. Sementara dengan Karna, hati Dropadi terbelah. Sedari remaja dia naksir sang Raja Angga, tapi takdir menetapkan mereka selalu berseberangan. Di detik terakhir, Dropadi baru tahu bahwa Karna pun mencintainya, tapi sudah takdir Karna untuk mati di padang Kurusetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, siapa pun yang tertarik pada Mahabarata atau pada seluk-beluk gelap pikiran perempuan harus membaca buku ini. It's a page turner, jelas tidak rugi menguliknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3983752544140407180?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3983752544140407180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3983752544140407180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3983752544140407180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3983752544140407180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/07/palace-of-illusions-chitra-banerjee.html' title='Palace of Illusions ~ Chitra Banerjee Divakaruni'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-2628204230755127642</id><published>2009-07-12T08:52:00.001-07:00</published><updated>2009-07-12T09:00:47.398-07:00</updated><title type='text'>Belajar Mengarang</title><content type='html'>Cukup sering orang bertanya bagaimana caranya jadi pengarang kepada saya. Pertanyaan yang agak sulit saya jawab, karena saya “menjadi pengarang” dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;learning by doing&lt;/span&gt;. Saya tidak pernah ikut kursus, tidak pernah benar-benar hafal apa bedanya deskripsi, narasi, persuasi, dkk itu, dan tidak pernah benar-benar punya guru juga. Tapi secara umum, inilah yang saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.Fokus&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Maksudnya, kamu mau jadi pengarang apa? Zaman sekarang pengarang dan jenisnya tumbuh kayak jamur di musim penghujan (hah, ungkapannya lame banget!) Ada pengarang novel, ada pengarang blog, ada pengarang artikel di koran, ada pengarang cerita sinetron, ada pengarang skenario film. Masing-masingnya masih bercabang lagi, ada pengarang cerita horor, ada pengarang artikel olahraga, ada pengarang artikel perjalanan, ada pengarang ulasan gadget terbaru, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;and so on, and so on&lt;/span&gt;. Banyak banget. Kamu mau yang mana? Tentu kamu harus pilih mana yang paling kamu suka. Mana yang paling kamu kenal. Zaman saya baru lulus SMA dulu, saya suka banget sama musik dan cerita fiksi, jadi saya pengin banget kerja di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rolling Stone&lt;/span&gt;, jadi penulis musik yang kerjanya ngeliput konser-konser (imbas kebanyakan baca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;HAI &lt;/span&gt;yang waktu itu asyik banget juga sih.) So, saat itu saya fokus untuk jadi penulis artikel musik. Saya mendengarkan banyak kaset (yap, masih zaman kaset) dan berusaha memberi komentar cerdas bagi apa yang saya dengar. Saya juga banyak membaca soal musik masa kini dan sejarahnya. Blablabla... Pokoknya itu “era musik” dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.Jangan berhenti, terus menulis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Begitu berhenti, mulai lagi akan terasa kaku. Contoh paling jelas yang saat ini saya alami. Mengurus anak membuat saya berhenti nge-blog. Alhasil, tulisan pun menurun dalam hal kualitas dan kuantitasnya.&lt;br /&gt;Sebaliknya, tahun 2005, saat saya mengalami ledakan kreatifitas, tulisan mengalir tiada henti. Cerpen-cerpen saya beberapa berhasil dipublikasikan, meskipun bukan di media kelas satu juga. Artikel-artikel perjalanan saya pun beberapa berhasil nampang di majalah. &lt;br /&gt;Jadi, teruslah menulis, mau itu cuma catatan harian, mau itu tulisan serius. Atau bahkan daftar belanja sekalipun. Menulis membuat kamu berpikir, dan semakin banyak kamu berpikir semakin lancar kamu menulis. Ini efek bola salju yang diinginkan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.Be creative&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lihat ungkapan “jamur di musim penghujan” di poin 1? Basi banget, kan? Mestinya kamu bisa lebih kreatif dari saya dan menciptakan ungkapan baru untuk “banyak banget”. Apa kek, laron ngerubungin lampu, misalnya. Atau ikan teri dalam tampah di pasar. Atau beras di lumbung. Apa pun deh. Terus terang tahun-tahun belakangan ini kreatifitas saya menurun drastis. Zaman saya masih kuliah dulu, saya bisa menciptakan ucapan yang benar-benar asyik dalam kartu ulang tahun untuk teman-teman saya. Sekarang? Bah, paling-paling saya cuma bilang “semoga segala yang indah-indah ya!” Menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4.Baca, baca, baca&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Terutama bacaan yang ingin kamu jadikan sasaran. Maksud saya, kalau kayak saya zaman dulu itu, pengin jadi penulis musik, ya kamu mesti banyak-banyak baca soal musik. Kalau pengin jadi pengarang novel kayak Agatha Christie, ya bacalah novel-novel dia. Kalau pengin jadi penulis politik, bacalah buku “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Interview with History&lt;/span&gt;”-nya Oriana Fallaci atau biografinya Barrack Obama. Selain itu baca juga artikel-artikel atau buku-buku yang menunjang. Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak pengetahuan kamu, dan semakin kaya dan asyik tulisan kamu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5.Riset&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mungkin contoh riset yang bagus adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bilangan Fu-&lt;/span&gt;nya Ayu Utami. Bukan sekadar membaca dan meng-google, Ayu Utami sekalian jadi pemanjat tebing. Cuma mungkin riset dia agak terlalu lama sih. Lama atau cepatnya riset ini ya mesti tergantung sama jenis tulisan juga. Misalnya wartawan yang nulis soal meninggalnya Michael Jackson kemarin paling-paling mengambil bahan tulisannya dari artikel-artikel yang dia google, tapi kalau kamu mau menulis soal kisah cinta atlet berkuda gitu mungkin ya kamu mesti belajar naik kuda juga, sama kayak Ayu Utami belajar panjat tebing. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anyway, &lt;/span&gt;sebenarnya riset Ayu Utami tidak sekadar panjat tebingnya sih, tapi juga soal keadaan sosial politik agama seksualitas dll dsb.&lt;br /&gt;Selain riset bacaan, tontonan, dll., kamu juga mesti jadi pengamat kehidupan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;After all&lt;/span&gt;, itu kan yang akan kamu tulis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6.Ambil jarak dan terima kritik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kalau tulisan kamu sekadar artikel, yang artinya masa hidupnya agak pendek, maka mungkin kamu tidak sempat ambil jarak. Tapi kamu tetap bisa terima kritik. Biasanya saya agak manyun kalau dikritik... hehehe... Tapi setelahnya, saya biasa akan memikirkan kritik itu lagi dan berusaha menerapkannya pada tulisan berikutnya. &lt;br /&gt;Lain halnya kalau yang kamu tulis itu novel panjang. Dalam bukunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;On Writing&lt;/span&gt;, Stephen King mengaku bahwa setelah selesai menulis satu novel, dia akan menggudangkan naskah itu paling tidak selama enam bulan. Selama enam bulan itu dia berusaha tidak memikirkan novel tersebut. Dia akan menulis novel baru, jalan-jalan, main-main, nonton film, ngapain aja deh asalkan tidak berkaitan dengan novel itu. Setelah ada jarak, baru dia membuka lagi novel yang bersangkutan. Biasa dia jadi punya perspektif baru tentang novel itu, dan bisa melakukan autokritik yang bagus. Dia bisa melihat kelemahan-kelemahan novel itu, dan memperbaikinya. Dia bisa melihat bagian-bagian yang harus ditambah, simpul yang masih belum erat, dll. Masalahnya, saya tahu banget para pengarang Indonesia—terutama yang muda-muda ini, semuanya tidak sabaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7.Jejaring dan teman-teman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;SKSD alias sok-kenal-sok-dekat sering kali berguna juga untuk membuat tulisan kamu jadi dimuat. Pertama kali saya berhasil menulis dan dimuat di majalah karena awalnya saya menulis surat pada redaktur majalah yang saya kagumi. Bukan hanya itu, dengan SKSD-nya, saya lalu menelepon redaktur yang bersangkutan, menanyakan apakah dia sudah menerima surat dan contoh tulisan saya. Berikutnya, saya mendapat order untuk membuat tulisan bagi dia! Yay!&lt;br /&gt;Di luar urusan muat-memuat dan terbit-menerbitkan tulisan, teman-teman juga berguna sekali sebagai pembaca pertama. Siapa lagi korban kita kalau bukan mereka? Sahabat saya dengan tanpa perasaannya berkata, “Lo harus bercerita dong, Say...” saat saya minta dia membaca novel saya (yang sampai sekarang belum terbit juga) Kejamnya dirinya! Tapi dia membuat saya kemudian menyadari novel itu masih kurang berdaging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;8.Kirim-kirim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jangan malu-malu untuk mengirim tulisan. Risiko paling jelek apaan sih? Setelah setahun tidak ada kabar, tulisan kamu terus ditolak? Biasaaaaaaa... Yang penting kamu tidak mati, kan? Masih ada napas berarti masih ada kesempatan buat menulis lagi. Jangan berhenti! Maju terus!&lt;br /&gt;Yang penting dalam hal kirim-mengirim ini, perhatikan karakter penerbit yang kamu tuju. Kalau kamu menulis artikel berbau agama, jangan kirim ke majalah remaja (kecuali memang untuk edisi khusus hari raya agama yang bersangkutan). Kalau kamu menulis artikel tentang memancing ya jangan dikirim ke majalah ibu-ibu. Tanpa menunggu berbulan-bulan, artikel kamu pasti ditolak.&lt;br /&gt;Itu cuma contoh ekstrem. Perhatikan detailnya, perhatikan tema apa yang biasa diterbitkan, perhatikan gaya penulisan yang diterbitkan. Buka situs penerbit tujuan kamu, cari tahu syarat-syarat mengirim naskah ke sana. Dan akhirnya, kirimkan naskah yang “bersih”. Soal naskah yang bersih ini pernah saya bahas dalam posting sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mungkin tips-tips ini agak basi. Tapi inti besarnya adalah, jangan menyerah dan terus berlatih! Tetap semangat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-2628204230755127642?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/2628204230755127642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=2628204230755127642' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2628204230755127642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2628204230755127642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/07/belajar-mengarang.html' title='Belajar Mengarang'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-7189876789833274990</id><published>2009-07-12T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-07-12T08:16:26.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Khatulistiwa-Edward Stefanus Murdani</title><content type='html'>Di negara kepulauan terbesar di dunia ini, sebetulnya menyedihkan tidak banyak novel yang menjadikan laut, berenang, berlayar, dan main-main air sebagai latar belakangnya. Syukurlah ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tema pelayaran erat sekali membungkus semua alur cerita novel ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khatulistiwa &lt;/span&gt;adalah nama perahu layar mungil yang dimiliki Alex, tokoh utamanya. Yah, meskipun Indonesia negara kepulauan, tapi nggak semua orang di negara ini bisa punya perahu sih. Alex kebetulan beruntung karena kakeknya yang pengusaha perkapalan besar (jenis tanker gitu kali) mewariskan perahu layar ini pada cucu semata wayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di atas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khatulistiwa &lt;/span&gt;dan berlayar mengelilingi Kepulauan Seribu di utara Jakarta. Pasalnya, dia memang gerah di rumah karena orangtuanya acap bertengkar soal ini-itu. Selain itu, Alex juga “menghindar” dari Siska, cewek yang ditaksirnya, karena mendapat peringatan dari ibu cewek itu bahwa Siska sudah dijodohkan dengan Randy, anak teman bisnis keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat libur kelulusan SMA, Alex berniat berlayar agak jauh ke Kepulauan Karimun Jawa di utara Semarang, dan pulang untuk minta izin orangtuanya. Tak disangka, begitu sampai di rumah, dia menyaksikan orangtuanya sedang bertengkar dan ayahnya menyebut dirinya anak haram. Bukan hanya itu, ayahnya juga memukul ibunya. Alex balik memukul ayahnya, lalu lari kembali ke Khatulistiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui ayah kandungnya ternyata tinggal di Kepulauan Natuna, Alex putar haluan ke utara, berniat pergi ke kepulauan dekat Singapura itu untuk mencari ayahnya. Siska ingin ikut, karena ingin menjauh juga dari Randy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kedua remaja itu menyusun rencana. Alex mengajari Siska berbagai hal mengenai pelayaran dan cara menjalankan kapal. Siska menyetok gudang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khatulistiwa &lt;/span&gt;dengan berbagai makanan enak untuk bekal selama perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan mereka diganggu Randy yang sempat meracun Skipper—anjing &lt;span style="font-style:italic;"&gt;golden retriever&lt;/span&gt; kesayangan Alex. Untung Skipper bisa diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex dan Siska bekerja keras supaya bisa berangkat secepatnya, tapi suatu malam Siska muncul dengan keadaan kacau balau, mengaku baru akan diperkosa Randy. Keadaan itu memaksa mereka untuk segera berlayar, siap atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sampai ke Kepulauan Seribu cukup lancar. Tapi sampai di Pulau Sepa, Randy dan kawanannya menghadang mereka, memukuli Alex, dan membawa Siska. Dengan upaya keras, Alex berhasil membawa kembali Siska. Mereka langsung berangkat menuju Pulau Bangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Bangka berhasil mereka capai, dan baru mereka menghubungi orangtua mereka. Tidak heran, mereka dimarahi habis-habisan. Orangtua Siska bahkan mau melaporkan Alex ke polisi. Tapi di luar masalah itu, kedua remaja ini bersenang-senang menikmati laut Pulau Bangka yang jernih, dan kekayaan kuliner pempek, ikan bakar, dll, yang nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Natuna. Mereka sempat dihadang perompak, cuaca buruk, juga sempat mengalami masalah di jalur laut yang padat. Tapi, sampai di Natuna, mereka ternyata berhasil menemukan ayah kandung Alex! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kisah ini berakhir bahagia? Masih ada kejutan seru di ujung cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pengarang yang rupanya juga bukan anak laut (data diri menyebutkan dia tinggal di Bogor dan Bandung) pasti bekerja keras sehingga cerita pelayaran, bentuk kapal, kejadian-kejadian di laut, dan rute pelayaran Jakarta – Kepulauan Natuna bisa tampil sangat mendetail dan hidup. Bukan hanya itu, detail-detail kapal layar dan data teknis, deskripsi tentang laut dan kekayaan alam tempat-tempat yang dikunjungi Alex dan Siska juga sangat menggugah dan enak dinikmati. Selain itu deskripsi yang enak dinikmati juga deskripsi tentang makanan. Bekal kornet buatan Siska, spageti, lontong sayur buat sarapan, dan makanan yang mereka santap di Bangka. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;After all&lt;/span&gt;, bukankah kata orang angin laut itu membuat lapar?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-7189876789833274990?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/7189876789833274990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=7189876789833274990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7189876789833274990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7189876789833274990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/07/khatulistiwa-edward-stefanus-murdani.html' title='Khatulistiwa-Edward Stefanus Murdani'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-6986888764087100586</id><published>2009-07-12T07:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-12T08:06:21.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Howl's Moving Castle-Diana Wynne Jones</title><content type='html'>Ini buku yang aneh. Tapi begitulah kebanyakan buku fantasi, bukan? Satu hal yang saya sukai dari buku ini (selain cover versi Indonesia-nya yang brilian banget!), adalah dia berbeda dengan filmnya. Terus terang, di tengah membaca Howl's Moving Castle, saya menonton animasinya. Animasinya, menurut saya, yah... jelek. Payah. Tidak menggugah. Dan jauh lebih aneh daripada bukunya. Sedih deh pokoknya.&lt;br /&gt;Sementara bukunya, sebetulnya lucu. Lucu banget malah! Dan mengeksplorasi cerita yang sangat bisa dinikmati oleh pembaca anak-anak. Meskipun aneh... hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begini... Cerita ini berlangsung di Ingary, negeri sihir, tempat nenek sihir atau penyihir itu hal yang wajar, dan orang biasa minta jampi-jampi untuk hidup sehari-hari dan takdir ini-itu merupakan hal biasa. Demikian pula takdir, Sophie Hatter, tokoh utama buku ini. Sophie ditakdirkan sial karena lahir sebagai anak pertama dari 3 bersaudara yang cewek semua. Takdir sial itu menjadi nyata saat Nenek Sihir dari Waste yang jahat karena satu dan lain hal yang baru ketauan di ujuuuuuuuuuuuung cerita, benci padanya, dan menyihirnya menjadi nenek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sophie yang aslinya masih remaja itu pergi dari rumah dan terpaksa berlindung di Istana Bergerak milik Penyihir Howl. Sebenarnya penduduk sekitar takut pada penyihir ini karena gosipnya dia suka memangsa gadis-gadis muda. Ndilalah, ternyata Howl cuma penyihir pemalas yang playboy cap duren tiga! Segala tingkah Howl yang bolak-balik naksir cewek dan patah hati inilah yang membuat kelucuan sepanjang cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu istana bergerak bisa berjalan terus karena ada Michael, murid Howl, yang bersih-bersih dan mengurus istana, serta Calcifer, si jin api yang tinggal di perapian dan membuat sihir supaya istana bisa berpindah-pindah tempat. Sophie segera bergabung dengan keduanya, dan berusaha keras supaya istana bisa terlihat rapi, bersih, dan mengurus Howl supaya tidak lupa mencari nafkah bagi mereka (dengan menjual mantra). Tentu saja, diam-diam Sophie membuat perjanjian saling membebaskan dengan Calcifer. Sophie akan mencoba mematahkan mantra yang mengikat Calcifer pada Howl, dan sebagai imbalannya Calcifer akan mengembalikan Sophie ke wujudnya yang gadis remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan waktu, Sophie mendapati bahwa Howl mungkin naksir adik perempuannya. Oh, gawat! Sophie berusaha menggagalkan niat Howl. Tapi kemudian mendapati Michael ternyata pacaran dengan adik perempuannya yang lain! Sementara itu Howl pergi ke tanah Wales, lewat pintu ajaib, dan sepertinya naksir Miss Angorian. Sophie makin kelabakan. Di lain pihak, Howl mendapat perintah dari Raja untuk mencari adiknya, Pangeran Justin dan penyihir kerajaan, Suliman, yang hilang. Kemungkinan mereka hilang disihir Nenek Sihir dari Waste. Howl yang pemalas berusaha menghindar dari tugas itu dan melibatkan Sophie supaya berpura-pura jadi ibunya di depan raja dan memberikan rekomendasi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita makin ruwet dan aneh saat ibu tiri Sophie serta adik-adiknya muncul, dan Nenek Sihir dari Waste berhasil melacak dan menyandera keluarga Howl supaya penyihir itu mau bertarung dengannya. Dan akhirnya Sophie memberanikan diri masuk ke markas besar Nenek Sihir dari Waste.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujungnya? Biarpun aneh dan ruwet, sebetulnya novel ini lucu dan menghibur dan penuh hal ajaib—bahkan bunga-bunga indah yang mekar dengan sihir. Jelas, berbeda jauh dengan animasinya yang tiba-tiba bercerita tentang perang. Perang? Hah? Di Ingary? Hahaha... Dalam cerita tentang para penyihir yang malas dan nenek-remaja yang sok tahu ini, kayaknya perang membutuhkan komitmen yang terlalu besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-6986888764087100586?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/6986888764087100586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=6986888764087100586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6986888764087100586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6986888764087100586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/07/howls-moving-castle-diana-wynne-jones.html' title='Howl&apos;s Moving Castle-Diana Wynne Jones'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-6526117317951673737</id><published>2009-06-08T03:02:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T03:13:09.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Travelers' Tale: Belok Kanan Barcelona</title><content type='html'>Meskipun awalnya agak ogah-ogahan baca novel ini, ternyata setelah baca, novel ini lucu banget! Ceritanya jalan (meskipun selesai baca saya jadi, hah, segitu aja? hehehe...) dan menghibur. Yah, tema utama membaca novel dapet banget: terhibur. Plus dapat juga beberapa tips tentang travelling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah ada 4 sahabat sejak kecil. Sekarang mereka sudah terpencar ke berbagai penjuru dunia. Francis si pianis tinggal di Amerika, Retno kerja di badan PBB di Copenhagen, Jusuf si gila kerja di perusahaan transportasi dan kirim-mengirim di Cote d'Ivoire (kalo gak salah), dan si cantik keturunan Arab, Farah kerja bikin resort di Hoi An, Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keempatnya terjalin cinta yang ribet: Francis naksir Retno dan ditolak-tolak, Farah naksir Francis tapi gak bisa ngaku karena Retno curhat ke dia. Dan Jusuf alias Ucup naksir Farah, tapi gak bisa ngaku karena Farah curhat ke dia. Klasik masalah anak muda dah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentraman mereka di tempat kerja masing-masing diganggu undangan kawinan Francis di Barcelona. Bergeraklah keempatnya menuju Barcelona dari tempat kerja masing-masing. Retno karena merasa sayang pada Francis (alasannya menolak pinangan Francis karena agama, bukan karena gak sayang). Farah untuk menggagalkan kawinan itu dan mengajukan dirinya jadi pengantin perempuan. Ucup untuk melamar Farah. Dan Francis, yaaa buat kawin sama cewek Spanyol itulah yaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan paling seru dan kocak dialami Ucup. Sementara perjalanan Francis dan Retno sebenarnya dipenuhi pertanyaan apa sebenarnya cinta itu? Apa pilihan mereka benar? Dan perjalanan Farah paling penuh tekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, buat orang yang senang jalan-jalan, plus-plus novel ini adalah tips-tips travelling yang disembunyikan dan diselipkan dengan sangat baik dalam cerita. Yah, ada juga sih yang ditambahkan jelas-jelas dalam boks-boks. Misalnya cara packing, pilihan transportasi, sampai kondisi politik di Afrika. As if, saya akan ke Afrika dalam waktu dekat aja... hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, anyway lagi, kalau cari bacaan menghibur yang lumayan... yaaahh... novel ini lumayan lah... hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-6526117317951673737?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/6526117317951673737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=6526117317951673737' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6526117317951673737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/6526117317951673737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/06/travelers-tale-belok-kanan-barcelona.html' title='Travelers&apos; Tale: Belok Kanan Barcelona'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-5023153202426750547</id><published>2009-05-05T01:03:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T02:45:30.082-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Brisingr~Christopher Paolini</title><content type='html'>“Buku yang membuat saya rela bergadang.”---Washington Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tepat itulah yang saya lakukan satu setengah minggu ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brisingr&lt;/span&gt; edisi Indonesia yang tebalnya kurang-lebih 900 halaman itu membuat saya tidur tengah malam selama berhari-hari karena adegan-adegannya yang seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eragon&lt;/span&gt;, saya merasa wagu karena banyak kemiripannya dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Lord of the Rings&lt;/span&gt;---mungkin juga karena masa itu trilogi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;LOTR&lt;/span&gt; juga lagi naik daun. Selain itu, tulisan Paolini pun masih terasa sangat kekanakan. Saat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eldest&lt;/span&gt;, dialog-dialog panjang pelajaran Eragon terasa membosankan, dan petualangan Roran terasa lebih seru. Tapi pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brisingr&lt;/span&gt;, semua elemen cerita terasa seru dan perlu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brisingr&lt;/span&gt; menyuguhkan petualangan demi petualangan, perang demi perang, perkelahian demi perkelahian baik secara fisik langsung maupun dengan sihir. Semuanya seru dan intens, dan meskipun ukuran bukunya yang hampir 900 halaman tampak masif, secara keseluruhan buku ini sama sekali tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paolini jelas telah berkembang dengan baik sebagai penulis (dan kalau dilihat dari fotonya, sebagai pemuda juga... hehehe). Ia bisa menautkan simpul-simpul lepas dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang ada pada buku-buku sebelumnya. Ia bisa memberi kilas balik dan penjelasan dengan sangat baik dengan menyelipkannya pada dialog-dialog, sehingga pembaca mengerti dan tidak merasa digurui. Ia bisa memberi gambaran sejelas film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action&lt;/span&gt; pada adegan-adegan laganya. Dan utamanya, ia berhasil menciptakan dunia Alagaësia yang utuh, baik itu dunia sihirnya maupun dunia manusianya. Saat membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Brisingr&lt;/span&gt;, saya tidak lagi berusaha membanding-bandingkan Kull dengan Uruk Hai atau elf di Alagaësia dengan elf di Middle Earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dibuka dengan seru saat Eragon membantu Roran merebut kembali Katrina dari tangan para Ra'zac. Tekanan kengerian ditambah Paolini dengan meninggalkan Eragon di Helgrind, sarang Ra'zac tanpa Saphira yang harus membawa pulang Roran dan Katrina ke markas Varden. Pertempuran Eragon dan Ra'zac yang seru diikuti kisah Eragon (dan Arya) menjelajah Kekaisaran untuk kembali ke Varden serta apa yang dialaminya saat itu sangat patut disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di markas kaum Varden, Nasuada harus mempertahankan wibawa dan kepemimpinannya dengan Duel Pisau Panjang yang mengerikan. Dan Roran memutuskan untuk mengabdikan diri padanya (kedua hal ini sebetulnya tidak berkaitan secara langsung). Roran lalu terlibat dalam berbagai pertempuran “kecil” dan membuktikan dirinya pantas menjadi pejuang dan pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali ke Varden, Eragon (dan Saphira) harus menghadapi Murtagh dan Thorn sekali lagi. Dalam pertempuran kali ini Eragon dan Saphira yang dibantu dua belas elf perapal mantra dan Arya berhasil mengusir dan mengalahkan Murtagh dan Thorn. Tapi pertempuran “di tanah” mengalami kekacauan besar, saat pasukan Varden mendapati Galbatorix telah menciptakan prajurit-prajurit perang yang tak bisa mati kecuali dipenggal. Meskipun berhasil menghancurkan pasukan Galbatorix, kaum Varden mengalami kerugian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menikahkan Roran dan Katrina, Eragon ditugasi oleh Nasuada untuk pergi kepada kaum kurcaci di Pegunungan Beor untuk memastikan raja kurcaci yang baru mendukung perjuangan kaum Varden. Sekali lagi Eragon dan Saphira harus berpisah. Eragon pergi ditemani Nar Garhzvog, pemimpin Kull. Sampai di tempat saudara angkatnya, Grimzborith Orik yang mengepalagi klan Ingeitum, Eragon mendapati bahwa ia mungkin harus mengikuti rapat kaum kurcaci yang bisa berlangsung berminggu-minggu dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempercepat prosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di kota bawah tanah kaum kurcaci, ternyata secara tidak langsung Eragon dapat mempercepat proses pemilihan raja itu karena percobaan pembunuhan yang dilancarkan padanya oleh salah satu pemimpin klan. Orik terpilih menjadi raja baru, dan dukungannya pada kaum Varden bisa dipastikan. Eragon dan Saphira menghadiri upacara penobatannya, lalu terbang ke kota kaum elf, Ellesmera, di tengah hutan Du Weldenvarden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, saat bertemu dengan gurunya, Oromis dan naganya Glaedr, Eragon mendapati bahwa ternyata dirinya bukan putra Morzan dan adik Murtagh. Dengan lega, Eragon mengetahui bahwa ayahnya ternyata Brom, yang ia anggap gurunya yang pertama. Berikutnya, Eragon---yang sepanjang berbagai pertempuran merasa tidak memiliki senjata yang tepat sejak Za'roc diambil Murtagh dari tangannya---berusaha membujuk elf tua Rhunon untuk membuatkan pedang baginya. Rhunon sudah bersumpah tidak akan membuat pedang lagi sejak senjata buatannya dipakai untuk membantai naga dan penunggangnya oleh Galbatorix. Tapi, kalaupun ia mau melanggar sumpahnya, ia tidak memiliki bahan untuk membuat pedang lagi karena bahan tersebut besi yang terkandung dalam komet yang jatuh di Du Weldenvarden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti saran Solembum, si kucing jadi-jadian, Eragon dan Saphira mencari besi tersebut di bawah akar pohon Menoa yang tertua di Du Weldenvarden. Mereka membangkitkan kemarahan pohon tersebut, tapi berhasil meyakinkannya untuk menyerahkan besi itu. Semalaman Eragon menjadi “alat” Rhunon, yang untuk menjaga sumpahnya tidak menempa sendiri besi tersebut, untuk membuat pedangnya sendiri. Paginya, pedang biru seperti sisik Saphira telah jadi. Pedang terindah yang “dibuat” Rhunon. Eragon menamai pedang itu Brisingr, alias api dalam bahasa kuno. Setiap kali ia mengucapkan nama pedang tersebut, pedang itu menyalakan api biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan Eragon dan Saphira pada guru-guru mereka juga memberikan pengetahuan baru tentang Eldunari naga, jantung dari jantung naga, tempat mereka menyimpan seluruh kesadaran dan pengetahuan mereka. Mereka juga mengetahui bahwa kekuatan Galbatorix datang dari kumpulan Eldunari yang ditawannya. Pada akhirnya, sebelum Oromis dan Glaedr ikut terbang untuk berperang bersama Ratu Islanzadi, Glaedr memberikan Eldunari-nya untuk dijaga Eragon dan Saphira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kaum Varden, Eragon dan Saphira segera terlibat dalam perang menjatuhkan kota Feinster. Reuni dengan Arya, Roran, dan yang lain yang awalnya gembira harus diakhiri dengan sedih saat lewat Eldunari Glaedr, mereka mendapat kejutan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian buku ketiga ini ditutup dengan baik oleh Paolini, meninggalkan banyak pertanyaan untuk dijawab pada buku keempat. Antara lain pertanyaan yang berkaitan dengan ramalan mengenai nasib Eragon yang beberapa kali dikutuk untuk meninggalkan Alagaësia. Apakah setelah menaklukkan Galbatorix, satu-satunya penunggang naga yang merdeka itu harus meninggalkan tanahnya? Atau jangan-jangan Galbatorix memang tak terkalahkan? Rasanya pertanyaan terakhir ini---meskipun apa pun mungkin saja terjadi di dunia fiksi---tidak mungkin terjadi. Semua kisah epik kebaikan vs. kejahatan pasti berakhir dengan kekalahan pihak yang jahat. Tapi bagaimana si jahat mati? Semua pasti menunggu-nunggu pertempuran akhir antara Eragon dan Saphira vs. Galbatorix dan Shruikan. Sssshhh... penantian yang panjang pun dimulai...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-5023153202426750547?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/5023153202426750547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=5023153202426750547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5023153202426750547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5023153202426750547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/05/brisingrchristopher-paolini.html' title='Brisingr~Christopher Paolini'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-2007373867542646935</id><published>2009-05-05T01:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T02:51:45.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book related'/><title type='text'>Nicholas Evans</title><content type='html'>Saya baru menginjak bab kelima &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Divide&lt;/span&gt;, saat terpesona sungguh pada kepiawaian Nicholas Evans melukiskan emosi tokoh-tokohnya. Saya benar-benar bisa merasa ikut berada dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; cerita, dan terlibat dalam kejemuan yang dialami sang tokoh, Sarah Cooper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setting&lt;/span&gt;-nya sebagai berikut: pagi hari, Sarah ikut sarapan bersama Ben, mantan suaminya dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sheriff&lt;/span&gt; lokal. Mereka berada di Missoula, Montana, akan menjemput jenazah putri Sarah dan Ben. Evans menggambarkan kejadian itu dengan sangat detail, berapa pil penghilang rasa sakit yang ditelan Sarah, apa yang dialaminya sejak malam sebelumnya, sampai ke roti gandum yang dipesannya tapi tak mampu ditelannya. Saya langsung bisa berempati pada tokoh ini, dia datang untuk menjemput putrinya yang sudah meninggal, tapi terpaksa melayani basa-basi dengan mantan suami dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sheriff&lt;/span&gt; lokal itu. Sungguh dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian Evans mulai menarik-ulur rasa empati dan simpati pembaca pada tokoh-tokohnya. Bagaimana sebenarnya Sarah yang sepertinya patut dikasihani, ternyata sangat dingin dan tinggi hati. Bagaimana Ben yang sepertinya hangat dan menjadi korban, ternyata juga brengsek. Jadi mana yang benar? Evans sangat piawai menciptakan tokoh-tokoh yang abu-abu, dan justru malah jadi sangat duniawi dan wajar. Semua orang di dunia ini toh abu-abu, mejikuhibiniu, bukan? Orang-orang yang wajar bukanlah tokoh sinetron yang benar-benar hitam-putih, yang jahat benar-benar jahat, yang baik benar-benar baik. Weks, itu cuma terjadi di sinetron! Benar-benar dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada yang menyebut Evans “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the animal writer&lt;/span&gt;”. Apa pasal? Dalam dua dari empat novelnya, Evans mengambil tema binatang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Horse Whisperer&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Loop&lt;/span&gt;. Sementara dari judulnya saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Horse Whisperer&lt;/span&gt; sudah tampak berkutat di dunia kuda, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Loop&lt;/span&gt; mengulik masalah serigala yang akan punah. Tapi apa benar Evans cuma menulis tentang binatang? “Kalaupun ada binatang yang saya bahas, itu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the human animal&lt;/span&gt;,” kata Evans kecewa dalam situsnya www.nicholasevans.com. Sesungguhnya Evans justru sangat tertarik pada manusia, hubungan-hubungan antara para anggota keluarga, suami-istri, ayah-ibu-anak, kakak-adik, dan antarsahabat. Semua novelnya mengisahkan ikatan emosi yang sangat kuat antarmanusia. Ia juga sangat kuat menggambarkan emosi-emosi dan perdebatan yang muncul dalam diri manusia saat terjadi konflik benar-salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh novel ketiganya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Smoke Jumper&lt;/span&gt;. Dalam novel ini Evans mengisahkan pergulatan kisah cinta segitiga yang tidak biasa. Bagaimana dua sahabat Ed dan Connor berebut cinta seorang gadis. Mana yang benar dan mana yang salah saat Connor jatuh cinta pada pacar sahabatnya? Bagaimana perasaan-perasaan itu memengaruhi tugas mereka sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;smoke jumper&lt;/span&gt; alias pemadam kebakaran hutan? Bagaimana perasaan ketiga tokoh ini saat Ed kemudian menjadi buta? Evans dengan cerdik menempatkan tokoh-tokohnya sebagai tokoh sehari-hari---&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the guys next door&lt;/span&gt;---yang mungkin saja menjadi Anda atau saya. Semua memiliki sisi baik, semua sulit untuk dibenci, sehingga pembaca benar-benar bisa merasa ikut menjadi tokoh-tokoh tersebut dan terseret dalam pusaran emosi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong soal sisi baik dalam tiap tokoh, rupanya kebiasaan Evans menciptakan tokoh demikian sudah dimulai sejak novel pertamanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Horse Whisperer&lt;/span&gt;. Bagaimana si ibu bisa saling jatuh cinta dengan si penjinak kuda, saat sebenarnya pernikahannya baik-baik saja dan suaminya sempurna? Pembaca ikut menangis karena tahu si ibu tak bisa meninggalkan suaminya demi si penjinak kuda, karena ya dia tidak bisa melakukan itu. Sisi emosional itulah yang membuat novel ini sangat kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Divide&lt;/span&gt; mengupas lebih dalam hubungan antar-anggota keluarga. Bagaimana kisahnya Ben dan Sarah dan anak-anak mereka. Bagaimana si sulung Abigail yang sempurna bisa berubah menjadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;eco-terrorist&lt;/span&gt;, bahkan kemudian ditemukan sudah membeku dalam es di pegunungan Montana. Dalam novel keempat ini Evans lebih luwes dalam memberikan alasan-alasan bagi perpecahan keluarga Ben dan Sarah, tapi sayangnya jadi sedikit mengurangi tarik-ulur emosional yang dirasakan pembaca dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Horse Whisperer&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Smoke Jumper&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak berkurang adalah perencanaan dalam pengaturan plot. Saat membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Divide&lt;/span&gt;, saya menyadari betapa jagoannya Evans merangkai plot dan cerita serta menerakan emosi. Semua cerita terasa pas, tidak berlebihan atau berpanjang-panjang (salah satu yang sempat saya rasakan saat membaca &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Smoke Jumper&lt;/span&gt;, sehingga novel ini meskipun sangat indah bagi saya agak antiklimaks). Saya sempat membalik-balik lagi beberapa adegan yang saya baca di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Divide&lt;/span&gt;. Wow, pasti Evans berpikir panjang sebelum menempatkan adegan ini, atau mengarang adegan itu. Semua ada pada tempatnya dengan porsi yang tepat. Inilah penulis yang membuat perencanaan dulu sebelum menulis, penulis yang menggodok dulu sampai matang, sehingga hasil tulisannya tidak bisa tidak menjadi hiburan yang berbobot bagi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pujian terakhir bagi Evans adalah kepeduliannya pada lingkungan. Meskipun lahir dan besar di Inggris, Evans sangat tertarik pada wilayah Midwestern Amerika, tepatnya Montana. Ia menggambarkan daerah yang masih berhutan lebat itu dengan sangat indah. Kegiatan-kegiatan alamnya pun dia ceritakan dengan fasih. Pembaca diajak ikut naik gunung, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kayaking, rafting&lt;/span&gt;, dan berkuda. Semua kegiatan alam bebas yang menantang dan seru itu membangkitkan sisi petualangan dalam diri pembaca. Dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Divide&lt;/span&gt;, Evans lebih menekankan lagi pentingnya pelestarian lingkungan dengan menyinggung langsung soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;illegal logging&lt;/span&gt; dan konferensi-konferensi lingkungan hidup. Kalau salah satu penulis besar---Michael Crichton---menyinggung soal pemanasan global dalam rangka cerita yang jauh lebih bombastis dan multinasional dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;State of Fear&lt;/span&gt;, Evans menyampaikan pesan lingkungan hidupnya dengan mengajak pembaca turun langsung ke lapangan, menginjak tanah subur Montana dan mengisi paru-paru dengan aroma hutan yang menyegarkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-2007373867542646935?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/2007373867542646935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=2007373867542646935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2007373867542646935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/2007373867542646935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/05/nicholas-evans.html' title='Nicholas Evans'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-46026568918214484</id><published>2009-05-05T00:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T01:00:20.816-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Breaking Dawn~Stephenie Meyer</title><content type='html'>Mungkin agak telat dibandingkan die hard fans-nya Twilight Saga, saya baru membaca Breaking Dawn bulan lalu. Dan... yah, terus terang saya kecewa dengan ending kisah cinta Bella dan Edward ini. Why so?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa terlalu banyak poin yang dipaksakan dalam novel ini. Saya merasa novel ini ditulis oleh seorang remaja yang bercerita karena ya memang dia mau ceritanya begitu. Logika ditempel dan dikarang di sana-sini, hanya supaya ceritanya bisa jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menganggap resensi ini sudah ketinggalan zaman, saya akan langsung to the point saja merujuk pada bagian-bagian yang menurut saya terlalu maksa. Spoiler alert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bella dan Edward harus punya anak (manusia dan vampir? Ini mah bener-bener supaya yang ngarang happy aja.). Anak itu namanya harus Renesmee (dari ibu Bella, Rennee, dan ibu Edward, Esme—oh oh oh, kalo anaknya cowok, namanya E.J.--Edward Jacob... Ya ampun! Plis deh, namain anak dengan nama “mantan”?). Dan Jacob harus imprint pada anak itu (yeah, right, married sama anak cewek yang dia taksir? Hmm... jadi inget filmnya Kevin Costner sama Jennifer Aniston itu... apa judulnya? Oh iya, Rumor Has It). Saat kehadiran anak itu menimbulkan kehebohan di dunia vampir, keluarga Cullen kudu mengumpulkan berbagai vampir dari segala penjuru dunia untuk mendukung mereka... hhmm... ini remaja banget, ngumpulin semua tokoh untuk mendukung tokoh utama. Ehem, kalau setting-nya di SMA, mungkin ngumpulin semua cowok demi si tokoh utama cewek. Seru, kan? Mengingatkan saya pada film kartun jadul yang ngumpulin banyak tokoh superhero dan anak-anak mereka, kalo gak salah judulnya Defenders of the Earth. Oh ya, omong-omong superhero, Bella terus punya kekuatan super membuat tameng. Tentu saja awalnya cuma untuk menamengi dirinya sendiri, tapi lalu tiba-tiba dia bisa menamengi semua vampir. Dan di detik terakhir, saat mestinya ada perkelahian mati-matian, tiba-tiba muncul makhluk setengah manusia-setengah vampir, sejenis Renesmee... dan damai turun di Bumi. Mana berantemnya? Mana? Setelah semua konflik dan ketegangan menuju ke sana, setelah pembaca membayangkan seluruh klan Cullen berikut teman-teman mereka bakal dihapus dari muka Bumi, dan... tidak ada seujung kuku pun yang patah... aaaaaaaaaaaa... rasanya mo marah!!! At least biarkan Emmett atau Jasper atau siapa itu vampir yang baru muncul itu berantem dulu kek!!! Meskipun tentu saja pasti pembaca mengharapkan Edward atau Jacob yang berantem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, cerita novel ini berlanjut dari bagian yang terpotong di Eclipse—pernikahan Edward dan Bella. Yang dilanjutkan dengan bulan madu mereka, yang diceritakan dengan sangat aneh. Maksud saya, c'mon pas bulan madu, dan lagi hot-hot-nya, Bella cuma diceritakan bangun pagi-pagi dengan tubuh memar-memar dan nggak ingat apa-apa kejadian malamnya? Huh? Emangnya ini adegan perkosaan? Which was itulah sudut pandang Edward, dia terlalu menyakiti Bella. Tapi ya sudahlah, apa pun yang mereka lakukan, Bella end up hamil, dan namanya anak vampir, kehamilannya abnormal. Anaknya berkembang dengan sangat cepat dan membuat tubuhnya babak belur dari dalam. Edward dan Carlisle berusaha membujuk Bella untuk aborsi, tapi tentu saja Bella nggak mau. Keinginan Bella didukung Rosalie yang sebenarnya pengin punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di La Push, Jacob berusaha menggunakan kesepakatan bahwa werewolf tidak akan menyerang vampir kalau tidak ada manusia yang disakiti atau dibunuh untuk membuka front dengan klan Cullen. Alasannya Bella kan pasti sudah dijadikan vampir, alias dibunuh. Jacob tidak peduli kata teman-temannya bahwa Bella jadi vampir atas keinginan sendiri. Tapi saat Jacob menengok Bella di rumah keluarga Cullen, kondisinya ternyata jauh lebih mengerikan dari kematian, karena semakin hari bayi yang dikandungnya semakin membuat kondisi tubuhnya payah. Melihat kondisi gadis yang dicintainya, Jacob jadi kebingungan. Di satu sisi dia tidak ingin Bella mati, di sisi lain dia hanya ingin Bella bahagia. Masalah Jacob bertambah saat para werewolf yang tadinya tidak mau menyerang klan Cullen malah berbalik jadi agresif karena menganggap anak Bella dan Edward—yang tidak ketahuan jenis makhluk apa itu—bisa jadi ancaman baru. Jacob lalu melepaskan ikatan dengan kelompoknya. Tindakannya ini diikuti Seth dan Leah, membuat Jacob jadi punya kelompok baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya anak Bella-Edward pun lahir dengan proses yang mengerikan. Edward langsung menjadikan Bella vampir untuk “menyelamatkan nyawanya”. Dan Jacob langsung tahu Renesmee adalah belahan jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa indah setelah Bella mendapatkan segala yang diinginkannya—menjadi vampir dan punya anak dari Edward, plus tidak kehilangan Jacob—berlangsung singkat. Kehadiran Renesmee tercium oleh klan Volturi, polisi dunia vampir. Akibatnya klan Volturi, yang sebenarnya sudah lama iri pada klan Cullen pun bergerak untuk menumpas klan saingan ini, dengan alasan mereka punya anak vampir, sementara kehadiran anak vampir telah di-banned dari dunia pervampiran karena anak vampir tidak bisa dikontrol tindak-tanduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carlisle segera mengatur strategi. Mereka harus mengumpulkan sekutu yang mau bersaksi bahwa Renesmee bukanlah anak vampir. Renesmee masih tumbuh bak anak kecil lainnya, meskipun dengan lebih cepat. Renesmee bisa belajar dan mengontrol dirinya. Datanglah vampir-vampir dari segala penjuru dunia. Alaska, Mesir, Brazil, Rumania, dll. Selain menjadi saksi, mereka juga mempersiapkan diri untuk berperang melawan klan Volturi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jacob dan para werewolf tentu juga siap membantu. Apalagi setelah Jacob imprint pada Renesmee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit twist yang menambah ketegangan tercipta saat Alice dan Jasper malah pergi meninggalkan keluarga mereka di saat genting. Anggota keluarga yang lain menganggap mereka mencari selamat, tapi ternyata di akhir cerita Alice dan Jasper yang membawa makhluk setengah vampir-setengah manusia seperti Renesmee yang menyelamatkan klan Cullen dan sekutu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, satu lagi yang mengganggu dan lame banget. Adegan akhir, adegan happily ever after itu loh... Aduh! Dengan banyak kata forever-nya itu. Aduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Stephenie Meyer mungkin seharusnya tidak melanjutkan Twilight. Novel pertama itu sangat kuat dan membuai. Membuat semua orang ikut tersengat listrik kisah cinta Edward dan Bella. Buku keduanya bisa dibilang payah, meskipun bagi saya porsi Jacob yang cukup besar di situ memberi nuansa yang lebih membumi bagi kisah ini. Eclipse lebih bagus dan seru daripada New Moon. Mulai dari sejarah vampirnya (hahaha... Anne Rice pasti sempet misuh-misuh kenapa nggak memikirkan sejarah vampir seperti Meyer) yang seru, sampai ke adegan cinta segitiga yang bikin geli-geli tapi mau (adegan dalam tenda itu loooh). Tapi Breaking Dawn ini... yaaaaaaaah... mungkin tepatnya membuat saya jadi heart broken ya membacanya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-46026568918214484?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/46026568918214484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=46026568918214484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/46026568918214484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/46026568918214484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/05/breaking-dawnstephenie-meyer.html' title='Breaking Dawn~Stephenie Meyer'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3158866769269079725</id><published>2009-02-19T01:18:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T00:56:27.607-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Eiffel, Tolong!~Clio Freya</title><content type='html'>Ada beberapa buku yang membuat saya bangga terlibat dalam kelahirannya. Novel ini salah satunya. Bangganya saya itu berkaitan dengan betapa rapinya novel ini. Sebenarnya, selain untuk meluruskan beberapa titik-koma, novel ini tidak perlu editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa rekomendasi saya bisa begitu berbunga-bunga? Saya tidak biasa memuji, bahkan agak muak dengan novel-novel yang dipuja-puji orang. Euh, apa novel-novel itu tidak bisa "Speak for themselves"? Jadi, moga-moga puji-pujian saya ini tidak membuat yang membaca resensi ini malah jadi muak pada "Eiffel, Tolong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang menjual kata "Eiffel", yang jadi magnet buat pembaca di mana-mana di seluruh dunia, novel ini memulai dirinya dengan judul yang tepat. Judul juga bisa mengantar pembaca kecele menduga ini novel cinta macam "Eiffel, I'm in Love". Tapi, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersiapkan terseret dalam dunia thriller yang seru, penuh adegan laga, dan spionase macam serial Alias, CSI, atau Mission Impossible. (Salah satu pertanyaan saya waktu bertemu pengarangnya adalah, "Kamu suka nonton Alias, ya?"--soalnya saya suka sekali serial itu.) Tokoh-tokohnya yang masih remaja--dan mengakibatkan buku ini terpaksa masuk genre teenlit--tidak mengurangi keseruan cerita. Tapi jangan bayangkan juga ceritanya jadi kayak teen spy atau seri Alex Rider-nya Horrowitz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, adalah Fay, remaja Jakarta kelas 2 SMA yang berlibur ke Paris sendirian. Tadinya dia ke Paris karena ikut ibunya yang tugas ke sana, tapi detik terakhir tugas ibunya dipindah ke Brazil. Rencananya Fay akan ikut sekolah bahasa Prancis selama 2 minggu, lalu ikut tur selama 3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat, semangat, semangat! Bagi orang yang pernah menghabiskan 3 hari di Paris, saya langsung membayangkan kegiatan Fay. Apa dia ke Eiffel, Louvre, dkk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah besar, sodara-sodara! Fay ternyata terjebak dalam konspirasi bisnis dan militer mengerikan yang dijalankan oleh Andrew, konglomerat yang mau menghalalkan segala cara demi berhasilnya bisnis yang dijalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dianggap mirip sekali dengan keponakan saingan bisnisnya yang orang Malaysia, Andrew menculik Fay dan men-trainingnya sehingga menjadi fotokopi sang keponakan. Dua minggu yang seharusnya jadi 2 minggu terindah dalam hidup Fay berubah bersimbah air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fay yang gak hobi olahraga dipaksa lari lintas alam dan push-up setiap hari. Fay yang gak pernah dandan dipaksa belajar memoles wajah dan memakai sepatu hak tinggi. Dan Andrew tidak segan-segan menerapkan hukuman fisik bila Fay menolak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi bukannya tidak ada sparks yang menyenangkan. Fay berjumpa Reno dan Ken. Ken, keponakan Andrew, menjadi mentornya. Sementara Reno adalah teman les bahasanya. Meski awal hubungannya dengan Ken suram, pemuda ini malah membuatnya merasakan sekilas summer love. Sementara Reno selalu melindunginya bak kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Fay sudah sempurna berubah menjadi Sheena, si gadis Malaysia, ia diterjunkan masuk ke rumah saingan bisnis Andrew. Tapi tugas yang mustahil itu akhirnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, seru bin asyik banget membaca novel yang sangat rapi ini. Serasa nonton film! Dan... baiklah saya hentikan resensi ini sebelum lebih memuji lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3158866769269079725?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3158866769269079725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3158866769269079725' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3158866769269079725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3158866769269079725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/02/eiffel-tolongclio-freya.html' title='Eiffel, Tolong!~Clio Freya'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-146818245366374525</id><published>2009-02-19T01:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T00:48:02.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Tiga Pekerjaan Besar Editor</title><content type='html'>Mulai mengasong membuat saya merenungkan lagi apa tugas-tugas editor. Ternyata (bagi saya) ada tiga tugas utama editor:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membaca dan menilai naskah&lt;br /&gt;Inilah tugas TERBERAT editor. Editor harus menentukan kelayak terbit suatu naskah. Apakah cerita yang terkandung dalam naskah tersebut cukup berbobot untuk dibagikan pada pembaca? Apakah gaya berceritanya cukup enak dibaca sehingga tidak membingungkan yang membacanya? Selalu timbul pertanyaan, kalau buat saya naskah ini tidak menarik, apakah buat orang lain menarik? Kalau memang naskah ini tidak layak terbit, bagaimana menyampaikannya pada si pengarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengedit&lt;br /&gt;Inilah tugas TERBESAR editor. Tugas ini makan waktu paling lama juga. Memerhatikan detail, meluruskan alur, memperbaiki percakapan, memoles, mengubah. Dan tentu saja juga memerhatikan tata bahasa dan ejaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Membaca dan mengoreksi proof&lt;br /&gt;Meskipun bisa dibilang lebih ringan daripada dua temannya di atas, membaca proof tidak boleh diremehkan. Justru di sini dibutuhkan ketelitian ganda: bagaimana caranya mencermati dan mencari kesalahan dari apa yang sudah (nyaris) sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga tugas besar ini editor seharusnya dihargai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-146818245366374525?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/146818245366374525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=146818245366374525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/146818245366374525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/146818245366374525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2009/02/tiga-pekerjaan-besar-editor.html' title='Tiga Pekerjaan Besar Editor'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3511496827016735514</id><published>2008-11-29T06:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T17:38:44.014-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Kiriman Naskah</title><content type='html'>Salah satu pertanyaan yang paling sering saya jawab di milis maupun di e-mail kantor adalah: “Apa persyaratan mengirim naskah novel ke GPU?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mari kita bahas persyaratan umumnya:&lt;br /&gt;1.naskah novel remaja panjangnya sekitar 100-150 halaman, novel dewasa 150-200 halaman&lt;br /&gt;2.ukuran kertas A4&lt;br /&gt;3.ketik komputer rapi dengan spasi 1,5&lt;br /&gt;4.jenis font yang mudah dibaca, misalnya Times New Roman ukuran 12&lt;br /&gt;5.sertakan data diri&lt;br /&gt;6.sertakan sinopsis&lt;br /&gt;7.kirim ke alamat redaksi fiksi GPU yang ada di sampul belakang tiap novelnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pukul rata setiap bulan kira-kira ada sekitar 100 naskah yang masuk ke meja sekretariat redaksi. Kalau semuanya—termasuk naskah kamu—berukuran A4, ketik 1.5 spasi, dengan jenis font tersebut di atas, bagaimana mencuri perhatian editor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya jadilah kreatif. Kamu bisa mengirim naskah kamu dalam amplop khusus. Atau kamu bisa menjilid naskah kamu dengan rapi, bukan sekadar dengan lakban hitam. Kamu juga bisa menyertakan desain cover yang lucu. Selain itu tidak usah terpaku pada jenis font yang dianjurkan. Sebenarnya yang dianjurkan adalah font yang enak dibaca, dan font yang enak dibaca bukan hanya Times New Roman ukuran 12 poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bila menjilid dengan ring besi rasanya terlalu mahal, atau mencetak cover desain pribadi terlalu rumit, apa yang bisa kamu lakukan? Sederhana saja sebetulnya. Jadilah penulis yang rapi. Kirimkan naskah yang bersih dari kesalahan ejaan. Bila saat kamu periksa ulang hasil cetakan ternyata masih ada kesalahan, jangan di-tip-ex lalu diperbaiki dengan tulisan tangan, tapi print ulang halaman tersebut. Gunakan printer dengan tinta memadai sehingga hasil cetakannya tegas dan bersih, enak dilihat. Susun semua kelengkapan dengan runut dan rapi. Misalnya, data diri, sinopsis, baru kemudian masuk ke isi novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mendesain dan menghias memang bukan sisi kuatmu (tentu saja kalau bisa mendesain, kamu jadi desainer grafis, bukan pengarang), gunakan yang memang menjadi bakatmu untuk mencuri perhatian editor. Tulislah data diri kamu semenarik mungkin. Saya pernah membaca curriculum vitae yang dibuat seolah si penulisnya sedang menjadi terdakwa di pengadilan—kreatif dan menarik sekali, kan? Kadang data diri yang lucu dan menarik (sebutkan saja semua pengalaman kamu terutama yang mendukung novel kamu) sudah membuat “a foot in the door” bagi novel kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tentu saja sinopsis. Sinopsis pendek sangat penting. Panjangnya sekitar setengah halaman atau 3-5 alinea saja. Buatlah semenarik mungkin. Tokoh-tokoh dan poin-poin penting cerita harus ada. Tunjukkan di mana serunya novel kamu. Saat menulis sinopsis pendek ini, bayangkan si pembaca ada di toko buku yang hiruk-pikuk dengan pilihan beragam buku. Bagaimana cara kamu menariknya untuk membeli buku kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu karena kiriman naskah ini ditujukan untuk dibaca editor, ada baiknya juga kamu sertakan sinopsis panjang. Sinopsis panjang ini isinya lebih mendetail, menguraikan seluruh alur cerita, dan membeberkan rahasianya, tapi panjangnya jangan lebih dari 3 halaman. Jangan membuat si editor belum-belum sudah bosan dengan tulisan yang berpanjang-panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, menginjak bagian yang paling penting: naskah. Bila kamu sudah melakukan saran saya di atas, yaitu mengirimkan naskah yang “bersih”, maka secara sekilas tampilan naskah kamu pasti sudah lumayan enak dilihat. Selanjutnya, harap kamu perhatikan bahwa novel biasa menggunakan indent paragraph, bukan hanging. Perhatikan juga kebiasaan penerbit tujuan kamu  dalam hal ejaan, bahasa selingkung, gaya penulisan percakapan, dll. Bila kamu sanggup, terapkan gaya penerbit tersebut pada naskah kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Editor pasti lebih senang menilai naskah yang bersih dan menarik, dan dengan begitu tentu saja kans tembusnya naskah kamu untuk diterbitkan jadi lebih besar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3511496827016735514?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3511496827016735514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3511496827016735514' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3511496827016735514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3511496827016735514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/11/kiriman-naskah.html' title='Kiriman Naskah'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3328854347086709836</id><published>2008-11-29T06:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T17:40:18.314-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Jadilah Pembaca</title><content type='html'>Minggu lalu seorang sahabat saya menyatakan dia ingin menulis buku. Tentu saja saya sambut baik keinginan itu, siapa tahu cocok, saya bisa merekomendasikan buku karyanya itu ke kantor, lalu terbit, dan terjadilah yang namanya win-win situation—semua senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3328854347086709836?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3328854347086709836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3328854347086709836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3328854347086709836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3328854347086709836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/11/jadilah-pembaca.html' title='Jadilah Pembaca'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-5135815674051894584</id><published>2008-11-29T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T06:18:53.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book related'/><title type='text'>Menerjemahkan Tintin</title><content type='html'>Menerjemahkan Tintin adalah salah satu pekerjaan “me and my big mouth”. Saat kantor saya membeli hak terbit seri legendaris ini, saya dengan pede jaya mengatakan ingin menerjemahkan satu atau dua buku dalam seri ini. Akhirnya saya menerjemahkan 12 dari 24 judul seri ini. Wow, saya sendiri pun heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas itu pekerjaan besar yang penuh darah dan air mata. Semangat kerja memang menggebu di awal, tapi sampai tengah semangat itu sudah berubah jadi semangat marah-marah. Ada banyak komplikasi yang merupakan rahasia dapur kantor sehingga tidak bisa dibuka di sini (atau di mana pun), yang akhirnya membuat saya—yang tadinya hanya mau menerjemahkan satu atau dua judul bagian akhir seri—jadi menerjemahkan 6 judul pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bersemangat terutama karena Tintin di Tanah Sovyet dan Tintin di Congo itu judul “baru”--alias belum pernah saya baca, saya mulai mengerjakan terjemahannya dengan lumayan giat. Terjemahan diperiksa teman di kantor dan dikomentari terlalu kaku. Waduh, bagaimana ya? Menurut saya kekakuan itu terjadi karena saya mengikuti gaya bahasa Hergé apa adanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada judul-judul awal, Tintin memang kaku dan terasa sangat kuno—which is true, karena buku-buku awal itu terbit sekitar tahun 1940-an, sehingga dengan sendirinya gaya berbahasanya sangat berbeda dengan gaya berbahasa kita zaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah berikut muncul saat proses setting. Format Tintin yang diambil (=disuruh ambil) kantor saya adalah format kecil, seukuran buku tulis AA, 18 x 22 cm. Berbeda dengan ukuran aslinya yang sebesar kertas A4. Dengan sendirinya semua kalimat yang saya terjemahkan—apalagi biasanya panjang terjemahan bahasa Indonesia 1,5 kali bahasa aslinya—tidak muat dalam kotak-kotak dan balon-balon percakapan. Editing dalam artian pemenggalan dan penjagalan besar-besaran dilakukan pada terjemahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dummy Tintin di Congo siap dan dibawa oleh rekan kantor saya ke Frankfurt Buchmesse 2007 untuk approval dari pemegang hak terbit Tintin. Terjemahan tentu saja tidak dikomentari, karena mereka tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi tampilan dikritik habis-habisan. Mulailah perjalanan penuh darah dan air mata demi tampilan gambar, warna, jenis font yang sesuai dengan keinginan pihak sananya. Tapi itu cerita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari Frankfurt, dummy Tintin tersebut jatuh ke tangan bos-bos di kantor saya. Terjemahan kembali dikritik terlalu kaku dan tidak lucu. Apa ada yang mau beli kalau begitu? Solusinya, terjemahan Tintin mana pun akan diperiksa oleh setidaknya 3 orang, demi validitas kelucuan terjemahan itu. Gawat betul! Dengan sendirinya, Tintin di Congo yang sebetulnya sudah diseparasi dan siap cetak, kembali diacak-acak, dipotong, ditempel, diganti, dan disesuaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu datang kabar kami tidak bisa memakai nama-nama tokoh yang sudah akrab di telinga Indonesia. Hak cipta nama-nama tersebut dipegang oleh penerbit Tintin di Inggris. Sebal. Kami dianjurkan memakai nama-nama asli versi Belgia/Prancis atau menciptakan nama-nama sendiri. Jalan tengahnya, ada nama-nama versi asli yang kami pertahankan (Tintin, Haddock, tentu saja, lalu Dupond-Dupont, Nestor, Abdallah, Alcazar), ada yang kami pelesetkan sedikit dari versi asli (Milo dari Milou), dan ada yang kami ciptakan seperti Lionel Lakmus dari Tryphon Tournesol (kami ambil kesamaan huruf awal. Tournesol bisa berarti kertas lakmus, penanda asam-basa yang menggambarkan keilmiahan karakter ini, tapi bisa juga berarti bunga matahari yang menandakan keceriaan karakter sang profesor), Pietro Maxx (nama di edisi aslinya Seraphin Lampion, yang sepertinya mengacu pada minyak lampu), dan si tukang daging Fillets. Perdebatan menentukan nama-nama ini lumayan panjang juga, karena kami berusaha mencari nama yang terdengar lucu bagi publik Indonesia, tapi tidak akan terdengar aneh bila dikenakan pada karakter Eropa-Belgia/Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak Kepiting Bercapit Emas, terjadi diskusi lagi soal umpatan-umpatan Kapten Haddock yang legendaris itu. Jelas kami tidak bisa dan tidak akan menggunakan umpatan terjemahan Indira yang sudah berurat berakar bagi pembaca Indonesia. Kami harus menciptakan umpatan-umpatan kami sendiri. Daftar umpatan pun dibuat. Arti dalam bahasa Prancis dan Inggris dicari, lalu padanan  yang paling pas dalam bahasa Indonesia pun diciptakan. Maka lahirlah topan geledek, kepiting kurus kering, dan susu basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses penerjemahan 12 judul Tintin itu, mau tak mau saya cek dan cek ulang edisi bahasa Prancis dan bahasa Inggris-nya (saya bisa berbahasa Prancis, tapi tetap saya lebih fasih berbahasa Inggris). Bahkan kadang-kadang saya memerlukan mengecek edisi Indira, sekadar membandingkan atau mencegah kesamaan pilihan kata—yang terkadang terpaksa tidak terelakkan juga, terutama untuk balon-balon kata yang singkat seperti jawaban ya/tidak. Ini sih keterlaluan kalau masih harus dibedakan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjakan seri ini membuat saya membaca semua judul Tintin dalam waktu yang singkat. Saya jadi bisa mengerti perubahan karakter gambar Hergé, perubahan ideologinya, perubahan pola pikirnya seiring dengan perubahan zaman itu sendiri. Hergé ternyata karakter luar biasa yang memiliki wawasan serta ketertarikan pada banyak hal. Kepiawaiannya menyampaikan kritik politik dan wacananya tentang ilmu pengetahuan yang dapat dia paparkan dalam gambar serta humor, sangat hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dan kesamaan karakter tokoh dalam seri ini juga menjadi jelas bagi saya. Sungguh lucu mengingat waktu kecil saya membaca dan membaca ulang buku-buku Tintin tapi saya tidak pernah menyadari detail-detail seperti kesialan Kapten Haddock atau perseteruan Milo dengan si kucing siam. Dulu saya tidak mengamati pola berulang yang ada dalam setiap buku. Saya membaca dan menikmatinya begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditanya buku mana yang paling mudah pengerjaannya, mungkin bagi saya Laut Merah. Sebenarnya saya menyesal dengan penjudulan yang terasa terlalu menggampangkan ini. Di awal pengerjaan seri ini, karena harus memberi laporan pada pihak sana, saya terpaksa memberi judul semua buku, tanpa waktu panjang untuk berpikir atau meneliti lebih lanjut soal latar belakang tiap judul, sehingga saya langsung menempelkan judul Laut Merah bagi buku ini. Sebenarnya waktu kecil buku ini salah satu Tintin favorit saya. Saat mengerjakannya saya baru menyadari betapa rapi dan enak dinikmati gambar-gambarnya, ceritanya pun sangat dalam, kompleks, tapi tetap lucu. Saya merasa terjemahan saya cukup terjaga dan bagus untuk Tintin yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling gagal? Tentu saja Tintin di Congo. Tintin pertama yang saya kerjakan, dan selain alasan kekakuan bahasa yang sudah saya ajukan di depan tadi, isu yang diangkat dalam buku ini pun kurang saya sukai. Pada kenyataannya, buku ini memang kontroversial dan beberapa toko buku bahkan tidak mau memajangnya di rak buku anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tintin yang sebenarnya ingin saya terjemahkan? Mungkin Tintin di Tibet. Meskipun sebenarnya saya takut pada yeti, tapi Tintin di Tibet adalah salah satu Tintin yang paling indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tintin yang paling saya sukai? Sulit menjawabnya, hampir semua Tintin saya suka. Tapi utamanya karena saya penggemar seri ini sejak kecil, saya lebih menyukai gambarnya daripada ceritanya, sehingga saya lebih menyukai Tintin yang dibuat belakangan. Mungkin kembali lagi ke Laut Merah dan Tintin di Tibet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Tintin mungkin seri yang akan terus hidup. Orangtua memberikan buku ini untuk dibaca anaknya, dan pada gilirannya si anak akan memberikan pada anaknya lagi. Isu-isu yang diangkat Tintin mungkin mulai ketinggalan zaman sekarang, tapi bila ditempatkan dalam konteks sejarah dan mengingat nilai-nilai universal seperti persahabatan, keadilan, dan keberanian yang dibawanya, Tintin tidak akan pernah mati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-5135815674051894584?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/5135815674051894584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=5135815674051894584' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5135815674051894584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5135815674051894584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/11/menerjemahkan-tintin.html' title='Menerjemahkan Tintin'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-3983094763928336716</id><published>2008-11-29T06:14:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T06:16:14.831-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Vanishing Acts~Jodi Picoult</title><content type='html'>Memiliki anak benar-benar membuat saya bisa menghayati novel ini. Premis dasarnya, “kalau kau harus melanggar hukum demi anakmu, akankah kau melakukannya?” benar-benar jadi pertanyaan besar bagi semua orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah Delia Hopkins yang tinggal di New Hampshire punya kehidupan yang sempurna. Dia dibesarkan oleh ayah yang mengasihinya (Andrew), punya tunangan yang pengacara (Eric), punya putri berusia 5 tahun dari tunangannya itu (Sophie), dan sahabat masa kecil yang setia (Fitz). Dia juga punya pekerjaan Search-and-Rescue, mencari orang hilang dengan bantuan anjingnya, Greta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat Delia mempersiapkan pernikahannya, datang kejutan besar yang memorakporandakan hidupnya. Andrew ditahan dengan tuduhan menculik Delia waktu kecil. Awalnya Delia tidak percaya dan meminta Eric membela ayahnya, tapi kemudian terungkap Andrew memang membawa pergi Delia dari ibu kandungnya saat Delia berusia 4 tahun. Apa alasan Andrew? Ibu kandung Delia ternyata pemabuk, dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi mengurus anak kecil. Tapi apakah itu sudah cukup untuk membawa pergi Delia, memisahkannya dari ibu kandungnya? Pengadilan bergulir di negara bagian Arizona, tempat kejadian perkara. Delia bertemu lagi dengan ibunya, belajar lagi tentang masa lalunya yang hilang, berpusar dalam pertanyaan-pertanyaan, juga mengkaji ulang hubungannya dengan Eric dan Fitz, dan perannya sebagai ibu Sophie. Dia merasa kehilangan dirinya, mempertanyakan jati dirinya yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora-metafora yang digunakan Jodi Picoult dalam novel ini (dan sepertinya pada novel-novelnya yang lain juga) sangat kuat dan menyentuh. Misalnya Delia yang bekerja mencari orang hilang, tapi ternyata dirinya sendiri “hilang”. Lalu pernikahan Delia dan Eric yang terus-menerus tertunda karena ternyata Eric pemabuk—sementara Delia dibawa pergi dari ibunya karena wanita itu pemabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel-novel Jodi Picoult selalu menyentuh masalah keluarga dan mempertanyakan hal-hal besar yang bisa terjadi di keseharian kita. Meskipun demikian tema yang diangkatnya sangat tidak umum. Misalkan saja dalam My Sister's Keeper, Jodi Picoult mengangkat tema anak yang dilahirkan untuk menjadi penolong kakaknya yang sakit-sakitan. Ini tema yang sangat khusus, tapi bukannya tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Demikian pula tema dalam Vanishing Acts ini, penculikan oleh orangtua kandung sendiri, yang bukannya mustahil terjadi dalam hidup sehari-hari. Jodi juga sangat piawai meramu emosi-emosi yang mungkin muncul dan dialami oleh tokoh-tokoh ceritanya. Sisi keseharian tema tapi keuletan Jodi mengolahnya ini membuat saya jadi mengaguminya. Inilah pengarang profesional yang bukan sekadar menuliskan ide, tapi mengolah, meriset, mengulik segala sisi ide itu sebelum merangkaikannya menjadi narasi yang indah dan membuai pembacanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-3983094763928336716?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/3983094763928336716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=3983094763928336716' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3983094763928336716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/3983094763928336716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/11/vanishing-actsjodi-picoult.html' title='Vanishing Acts~Jodi Picoult'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-175600703253641944</id><published>2008-11-03T20:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-03T20:53:06.611-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book related'/><title type='text'>Why Bella Swann?</title><content type='html'>Iya nih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;why, oh, why&lt;/span&gt;? Kalau judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Why Jacob Black?&lt;/span&gt; pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; sebelumnya lebih mengacu ke “Kenapa dia tidak bisa dicintai juga (selain mencintai Edward)?” maka judul pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; ini lebih ke jeritan hati: “Kok Bella? Kok cewek lenje itu yang jadi pusat cinta Edward dan Jacob? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Why, oh, why?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hayo, ngaku aja, siapa yang nggak (sempat) bete pas baca sikap Bella yang plintat-plintut? Lemah? Selalu butuh diselamatkan? Kebanyakan depresi sendiri? Blahblahblah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti saya sempet kesel banget sama tokoh ini. Ya ampun(g) (saking keselnya sampe pake g), apa cewek ini nggak bisa lebih kuat sedikit ya personafikasinya? Selain itu kenapa Edward (kemudian Jacob) bisa naksir dia? Apa kelebihannya? Plis deh! Cantik kagak, lemah iya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin kata kuncinya di “lemah” itu tadi? Biar gimanapun, cowok pasti pengin dong jadi pahlawan buat ceweknya. Dus, cewek lemah jadi punya banyak cowok, karena, duh, dia kan lemah jadi butuh diselamatkan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kata Stephenie Meyer, Bella sedikit-banyak adalah personafikasi dirinya sendiri (baca www.stepheniemeyer.com---jadi kayaknya yang bete sama Bella bukan cuma saya seorang, hehehe). Jadi menurut Meyer, dia pun cewek biasa-biasa aja, tapi pas kuliah di kota kecil (Meyer asalnya tinggal di Houston juga, sama kayak Bella) di bagian tengah Amerika Serikat, tiba-tiba dia jadi pusat perhatian. Bukan karena dia keren dan cantik, tapi karena sebagai anak yang berasal dari kota besar dia punya sesuatu yang “lebih”. Mungkin kalau ngomong versi lokalnya bisa kayak anak Jakarta tiba-tiba pindah ke Jogja ya? (Jadi inget &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My Friends, My Dreams&lt;/span&gt;-nya Ken Terate, Gramedia, 2005---lho kok promosi?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Meyer menjustifikasi daya tarik Bella dengan hal-hal supranatural: aromanya yang manis, yang sangat menggelitik nafsu vampir Edward. Tapi rupanya Edward bisa mengendalikan rasa hausnya dan mengubahnya jadi rasa cinta. Kalau saja Meyer tidak sepiawai itu menceritakan kisah cinta mereka, sangat mungkin &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Twilight&lt;/span&gt; cuma akan jadi buku sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kembali ke masalah cinta yang manusiawi, dalam hal cinta Bella dan Jacob, pepatah Jawa-lah yang terjadi: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;witing tresna jalaran saka kulina&lt;/span&gt;... Saat Edward pergi, Bella menghabiskan banyak waktu bersama Jacob, dan otomatis banyak bersama jadi banyak curhat. Dan dekatlah mereka. Saat dua pribadi sudah terbuka, nggak masalah sama penampilan dll., cinta bisa tumbuh. (Apaan sih? Hihihi...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kembali ke pribadi Bella yang selalu perlu diselamatkan itu (bahkan dari membuka kado sekalipun!), apa nggak bisa ya Meyer membuat tokoh yang lebih kuat dan menyenangkan? Kuat sungguhan, nggak lenje, nggak plintat-plintut, nggak “sok” kuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;posting&lt;/span&gt; resensi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Twilight Saga&lt;/span&gt; dari salah satu teman blogger menyebutkan kurang-lebih, “memang begitulah remaja, sikapnya masih selalu berganti-ganti dan suka merengek, dan Meyer bisa menggambarkannya dengan baik.” Hmm... ini jelas melihat tokoh ini dari sudut pandang yang baru. Dan membuat saya jadi ingat salah satu tokoh fiksi remaja yang sempat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;booming&lt;/span&gt; sekitar empat tahun yang lalu: Putri Amelia Mignonette Thermopolis Grimaldi dari Genovia alias Mia Thermopolis alias Putri Mia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat bergaul sangat akrab dengan Putri Mia, saya tahu betul betapa plin-plan sikapnya, betapa senangnya dia merengek dan mengeluh, betapa kepinginnya dia memiliki segalanya. Tapi di sisi lain, Putri Mia juga (setelah terdesak, mengeluh, pusing, dll, dsb) bisa punya sikap dan menunjukkan kekuatan serta kelebihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Bella Swann juga begitu. Ada sisi-sisi cerita yang mengungkapkan kekuatan dan keberaniannya. Tapi... (ya, masih ada tapi) tetap saja dia rasanya terlalu “biasa” bagi Edward dan Jacob. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;At least&lt;/span&gt;, bagi saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-175600703253641944?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/175600703253641944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=175600703253641944' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/175600703253641944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/175600703253641944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/11/why-bella-swann.html' title='Why Bella Swann?'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-7524290588817578046</id><published>2008-10-31T02:33:00.000-07:00</published><updated>2008-11-03T20:51:54.832-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book related'/><title type='text'>Why Jacob Black?</title><content type='html'>Pertama kali ketemu dalam &lt;i&gt;Twilight&lt;/i&gt;, Jacob Black bukanlah tokoh yang signifikan. Dia cuma remaja yang masih kekanak-kanakkan yang digunakan Stephenie Meyer untuk menjelaskan siapa itu Edward Cullen dan klannya pada Bella (dan pada pembaca). Dikisahkan Jacob adalah teman kecil Bella karena ayah mereka juga berteman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh ini jadi menarik bagi saya karena dia orang Indian Quileute--yaaah... semua yang berbau Indian memang menarik buat saya, &lt;i&gt;please blame it on Karl May’s books. Anyway&lt;/i&gt;, memang sih Jacob bukan “&lt;i&gt;lord of the plains&lt;/i&gt;” orang Sioux yang naik kuda dengan segala atribut bulu-bulu elang, &lt;i&gt;war club&lt;/i&gt; dengan hiasan potongan &lt;i&gt;scalp&lt;/i&gt;. Memang Jacob Indian pesisir barat Amerika yang dilukiskan di berbagai buku sebagai &lt;i&gt;salmon-eater&lt;/i&gt;, kulitnya berminyak dan bau amis ikan, dll. dsb. pokoknya yang nggak keren deh. Apalagi Forks, setting &lt;i&gt;Twilight Saga&lt;/i&gt;, adalah kota yang curah hujannya sangat tinggi, sehingga makin jadilah suku Quileute sebagai suku Indian yang nggak keren (bagi saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja, ini kan zaman modern. Zaman orang Sioux pun nggak naik kuda ke mana-mana lagi. Dan tentu saja, meskipun dulunya orang Indian pesisir Barat itu katanya raja lautan dan pemburu paus, tapi sekarang pun mereka lebih jago nyetir mobil. Jadi saya berusaha melupakan &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; Indian yang gagah perkasa, dan menukarnya dengan yah... orang Amerika modern biasa yang berkemeja flanel dan bercelana jins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SQrR6F6OZgI/AAAAAAAAABw/5ce1eu8hYTY/s200/eddiespears1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263249910484854274" /&gt;&lt;i&gt;Which is, exactly&lt;/i&gt; begitulah penampilan si Jacob remaja. Sebagai Indian modern dia memang mainannya motor dan mobil, bukan kuda dan ikan paus lagi. Cuma, seperti kebanyakan orang Indian, Meyer menggambarkan Jacob berambut panjang. Narasi Meyer segera membawa saya pada seorang Indian muda yang saya temukan dalam film-film belakangan ini, Eddie Spears (pertanyaan beberapa teman saya: Apanya Britney Spears? Hihihi...) Jadi wajah dan bangun tubuh si Eddie inilah yang menjadi tampilan Jacob dalam imajinasi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter Jacob berkembang sejalan perkembangan &lt;i&gt;Twilight Saga&lt;/i&gt;. Dari remaja tengil yang agak pemalu, pemarah, dan terkesan anak kecil banget, Jacob jadi bisa mengungkapkan perasaannya pada Bella dalam &lt;i&gt;Eclipse&lt;/i&gt;. Jacob juga bisa jadi pelindung yang kuat. Dan pastinya Jacob jadi lebih manusiawi daripada Edward. Daya tarik tokoh ini juga berkembang dan membuat Bella sempat mendua. Sayang sekali, &lt;i&gt;they’re not meant for each other&lt;/i&gt;---dan ini ditegaskan Meyer yang menggambarkan teman-teman Jacob yang punya &lt;i&gt;soulmate&lt;/i&gt;, dan langsung “jatuh cinta pandangan pertama” pada &lt;i&gt;soulmate&lt;/i&gt; itu, sementara Jacob tidak merasakan hal tersebut pada Bella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Downside&lt;/i&gt; dari tokoh ini adalah ketika Meyer menjadikannya &lt;i&gt;werewolf&lt;/i&gt;! Oh, &lt;i&gt;please&lt;/i&gt; deh! setelah vampir lalu &lt;i&gt;werewolf&lt;/i&gt;??? Pesona tokoh Jacob mendadak hilang buat saya. Tapi pesona itu perlahan kembali, karena meskipun jadi &lt;i&gt;werewolf&lt;/i&gt;, Jacob ternyata tidak kehilangan kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jacob tetap riil, remaja, pemarah, pemalu, bodoh, pendeknya manusiawi. Mau tidak mau Edward yang vampir jadi sureal. Jadi saat orang-orang lain ngiler pada Edward, saya tetap cinta Jacob. Bukan hanya karena dia Indian dan sangat manusiawi, tapi karena dia memang patut dicintai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-7524290588817578046?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/7524290588817578046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=7524290588817578046' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7524290588817578046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7524290588817578046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/why-jacob-black.html' title='Why Jacob Black?'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SQrR6F6OZgI/AAAAAAAAABw/5ce1eu8hYTY/s72-c/eddiespears1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-4582402785830638018</id><published>2008-10-22T01:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T01:41:13.101-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Awan Ide Melayang-Layang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Dari mana sih idenya?” Itu pertanyaan standar yang selalu dilontarkan pada pengarang mana pun di mana pun di seluruh dunia ini. Saya bukan &lt;em&gt;published novelist&lt;/em&gt;---&lt;em&gt;yet&lt;/em&gt; (harapan selalu ada... hehehe), tapi mungkin saya bisa berbagi sedikit soal dari mana datangnya ide itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, datangnya ide bisa dibagi dalam dua kelompok besar: &lt;strong&gt;yang dipaksa&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;yang datang begitu saja&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang datang begitu saja hampir selalu datang dalam suasana santai:&lt;br /&gt;· &lt;strong&gt;saat mandi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah, kamar mandi bisa mendatangkan banyak ide cerita lho. Mungkin karena suasananya yang dingin, mungkin karena saat membersihkan diri kita juga membersihkan aura kita hingga ide mudah datang. Saat ngebom di wc pun jadi saat yang tepat bagi munculnya ide, mungkin karena saat ngebom kita sering melamun.&lt;br /&gt;Konon kabarnya, wapres pertama kita, Bung Hatta juga penganut aliran kamar mandi ini. Di kamar mandinya sampai disediakan meja tulis, kertas, dan alat tulisnya sekalian, biar ide-ide segar yang muncul bisa cepat dituangkan di atas kertas dan tidak kabur entah ke mana.&lt;br /&gt;· &lt;strong&gt;setengah tidur &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidur-tidur ayam bisa membuat kita melamun ngalor-ngidul, akibatnya ide-ide cerita tiba-tiba bermunculan. Salah satu teman saya bilang dia menyimpan buku catatan dekat tempat tidurnya supaya kalau ada ide cerita, dia bisa langsung bangun dan menuliskannya. Saya pernah mencoba sih, tapiii... kemudian rasanya lebih enak bablas tidur ya... (makanya sampai sekarang belum jadi &lt;em&gt;published novelist&lt;/em&gt;... hehehe)&lt;br /&gt;· &lt;strong&gt;saat jalan kaki sendirian &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saat jalan kaki sendirian tanpa teman ngobrol, tanpa sadar kamu akan mengamati sekitarmu. Apakah mobil tua di sana benar-benar sudah teronggok lima tahun tanpa tersentuh? Apakah bakul jamu itu sebenarnya orang kaya di desanya? Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa sadar muncul bisa jadi awal cerita.&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;saat baca buku, nonton film, atau mendengarkan lagu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saat menemukan tokoh yang unik di buku atau film mungkin kita jadi teringat ada tokoh yang kurang-lebih sama dalam kehidupan kita, lalu ingin menulis tentang dia. Atau mungkin ada jalan cerita buku atau film yang melenceng dari keinginan kita hingga ingin kita reka ulang sendiri. Sementara saat mendengar lagu tertentu, mungkin tanpa sengaja perasaan kita jadi &lt;em&gt;mellow&lt;/em&gt; atau riang, yang menimbulkan ide baru untuk tulisan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipaksa:&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;dengan brainstorming dan mind maping&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tulis semua ide di kertas, jelek-bagus, cetek-&lt;em&gt;deep&lt;/em&gt;, semua saja (&lt;em&gt;brain storming&lt;/em&gt;). Atau tulis satu ide, lalu kaitannya ide itu dengan hal lain, sambungkan dengan yang lain lagi (&lt;em&gt;mind maping&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;sengaja nonton film, baca buku, atau mendengarkan lagu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Punya ide tapi masih kasar banget dan bingung bagaimana mengembangkannya, atau punya perasaan tertentu dan pengin nulis tapi nggak jelas arahnya ke mana? Cari buku, film, atau lagu yang mendukung ide atau perasaan itu, nikmati dan mungkin membantu. Atau lebih blank lagi, benar-benar tidak punya ide? Cari buku, film, atau lagu yang lagi in atau dibilang orang bagus, mungkin ada satu atau dua ide yang bisa dicuri dari sana.&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;mengamati lingkungan sekitar&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Lingkungan kita punya banyak potensi cerita. Paling dekat saja, orangtua atau saudara di rumah, pasti ada tingkah polah atau pemikiran mereka yang bisa jadi sumber ide. Itu baru lingkungan terdekat, bagaimana lingkungan yang lebih luas? Sekolah, kampus, tempat kerja?&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;membongkar peti kenangan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ingat-ingat lagi pas pertama kali pacaran rasanya kayak apa atau bagaimana asyiknya ngegeng pas SMA. Mungkin ada satu-dua detail yang layak dikembangkan jadi cerita.&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;latihan menulis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tulislah sesuatu sedikit setiap hari. Dengan memaksa diri menulis, pelan-pelan ide akan muncul dengan lancar.&lt;br /&gt;· &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;baca koran/majalah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Setiap hari ada aja peristiwa yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita. Kenapa anak orang utan bisa lahir di kebun binatang di Austria, misalnya. Dari pertanyaan ini bisa aja muncul ide cerita tentang kisah cinta si pengasuh orang utan itu lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, moga-moga tips ini bisa berguna buat menggali ide dari gumpalan abu-abu dalam kepala kita itu. Soal menuangkannya dengan runut, mengalir, dan menggugah rasa... hmm... itu nanti mungkin bisa dikulik di postingan yang lain. &lt;em&gt;Ciao!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-4582402785830638018?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/4582402785830638018/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=4582402785830638018' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4582402785830638018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4582402785830638018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/awan-ide-melayang-layang.html' title='Awan Ide Melayang-Layang'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-5781597065646151361</id><published>2008-10-19T20:00:00.000-07:00</published><updated>2008-10-19T23:49:00.481-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Kisah Cinta Editor dan Pengarang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kisah ini tidak selalu manis. Kadang hubungan editor dan pengarang bisa juga diwarnai adegan piring terbang dan gelas pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah benar sehari-harinya pekerjaan saya lempar-lemparan piring bersama pengarang? Sebetulnya tidak. Sebetulnya hubungan saya dan pengarang-pengarang saya (kecuali beberapa) lumayan harmonis. Saya sempat jalan-jalan bersama beberapa pengarang saya. Beberapa dari mereka juga main ke rumah saat saya melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagaimana supaya kisah cinta editor dan pengarang berakhir bahagia? Saya akan menceritakannya dari sisi editor dan tugas-tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;-tama, tentu saja datanglah sebundel naskah di meja editor (saya). Saya membacanya dan menilainya layak terbit. Lalu saya mengontak si pengarang (karena itu jangan lupa cantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi--ehm, HP maksudnya, jangan kasih nomor telepon tetangga lagi--dan alamat e-mail). Hubungan pun dimulai dengan perkenalan. Ada editor yang supel dan bisa langsung ketawa-ketiwi bersama pengarangnya seperti teman saya si Vera. Saya sendiri tidak terlalu pandai bicara, jadi biasa setelah memperkenalkan diri saya langsung menyatakan maksud, dan dengan demikian kita menginjak poin kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, saya akan memberitahu kekurangan dan kelemahan naskah yang saya baca itu. Di mana “bolongnya” alur, di mana kakunya bahasa (biasa pada percakapan). Atau kalau perubahan terlalu banyak, bisa juga saya hanya menceritakan garis besar lalu mengirim balik naskah yang sudah diberi catatan. Mendapat masukan begini, pengarang punya banyak reaksi. Ada yang ngambek, ada yang nggak ngambek tapi ogah mengubah apa pun (ya, ya, setiap titik-koma dalam naskah sudah dipikirkan matang-matang sebelum dibubuhkan di sana), tapi ada yang menerima dengan sukacita dan riang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka masuk ke tahap &lt;strong&gt;ketiga&lt;/strong&gt;, pengarang merevisi naskah dan mengirim balik kepada saya. Ada pengarang yang begitu diintip naskah revisinya sudah oke banget, semua masukan dijalankan dan naskah jadi makin oke, bahkan bisa nyaris tak perlu editing lagi. Tapi, ada juga pengarang yang malah ngelantur, yang diminta apaaaa yang direvisi apaaaa. Ada juga yang ogah melakukan revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun hasil revisinya, pada tahap &lt;strong&gt;keempat&lt;/strong&gt;, naskah akan diedit. Kalau naskah sudah oke, editing hanya mencakup tata bahasa dan ejaan. Tapi kalau naskah masih berantakan, catatan di sana-sini atau bahkan pemotongan besar-besaran tentu masih harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kelima&lt;/strong&gt;, saya biasa mengirim naskah hasil editing saya kembali ke si pengarang. Pengarang saya minta memeriksa ulang dan menanyakan ini-itu yang dirasanya kurang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pengarang puas, masuk ke langkah &lt;strong&gt;keenam&lt;/strong&gt;, naskah akan di-&lt;em&gt;setting&lt;/em&gt;, lalu setelahnya dibaca &lt;em&gt;proof&lt;/em&gt;-nya. Dalam proses pembacaan &lt;em&gt;proof&lt;/em&gt;, masih mungkin ada masukan lagi dari editor yang membacanya. Pernah saya sebagai pembaca &lt;em&gt;proof&lt;/em&gt; menyatakan satu bab (SATU BAB) itu tidak nyambung dengan cerita keseluruhan dan bisa dibuang daripada membuat naskah terlalu panjang. Pernah juga editor lain yang membaca naskah yang saya edit menyatakan naskah tersebut kacau-balau yang berbuntut satu naskah (SATU NASKAH) ditulis ulang oleh pengarangnya. Jadi jangan sepelekan langkah keenam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuh&lt;/strong&gt;, kalau semua langkah itu terlewati mulus, naskah akan dicetak, terbit, dan terpajang di toko buku. Tapi apakah hubungan editor dan pengarang sudah berakhir? Tentu tidak, saat buku sudah ada di pasar, mulailah proses memasarkan buku. Caranya? Temu pengarang, &lt;em&gt;book launching, talkshow radio&lt;/em&gt;, dll. Saya pernah menemani pengarang saya jadi pembicara di suatu seminar membaca, tapi biasanya sih saya cuma menemani di belakang panggung saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Di luar masalah promosi ini bagaimana hubungan editor dan pengarang? Bisa manis seperti yang sudah saya kisahkan pada alinea kedua di atas. Utamanya, hubungan yang dijalin dengan sopan dan hangat tentu bisa terus mengikat tali silaturahmi, bahkan meningkatkan hubungan kerja jadi hubungan pertemanan yang erat dan akrab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-5781597065646151361?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/5781597065646151361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=5781597065646151361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5781597065646151361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/5781597065646151361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/kisah-cinta-editor-dan-pengarang.html' title='Kisah Cinta Editor dan Pengarang'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-4285903027035893504</id><published>2008-10-13T23:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-15T00:15:03.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Trilogi D’Angel ~ Luna Torashyngu</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXojIvh8I/AAAAAAAAABI/QXc24LCdjDs/s1600-h/d"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257274862907393986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXojIvh8I/AAAAAAAAABI/QXc24LCdjDs/s200/d%27angel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXo0aV20I/AAAAAAAAABQ/fEDZyDBkoE8/s1600-h/d"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257274867544611650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXo0aV20I/AAAAAAAAABQ/fEDZyDBkoE8/s200/d%27angel+rose.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXo-WTChI/AAAAAAAAABY/Qa2nK91wP8g/s1600-h/d"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257274870212004370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXo-WTChI/AAAAAAAAABY/Qa2nK91wP8g/s200/d%27angel+princess.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPQ5J6Mhr6I/AAAAAAAAAAw/OmWqa6nvWq8/s1600-h/d"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak terasa dalam 3 tahun sejarah penerbitan karyanya di GPU, Luna sudah menerakan angka 9. Pukul rata itu berarti ada 3 buku per tahun. Sungguh produktif untuk ukuran penulis cerita remaja Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, namanya pun mulai dikenal akrab di kalangan pecinta TeenLit Indonesia. &lt;em&gt;Pooling&lt;/em&gt; majalah &lt;em&gt;GADIS&lt;/em&gt; bahkan memilihnya jadi salah satu dari tiga pengarang cerita remaja lokal yang paling ngetop (dua lainnya adalah Esti Kinasih dan Rachmania Arunita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, Luna mengawali karier menulisnya dengan strategi yang baik---entah disengaja ataupun tidak---yaitu merebut pasar dengan cerita-cerita cinta yang ringan, agak &lt;em&gt;dorama&lt;/em&gt;, lembut, dan sangat berselera pasar remaja. Begitu pasar sudah di tangan, Luna mulai mengeksplorasi ranah yang tidak awam bagi pasar remaja: &lt;em&gt;science&lt;/em&gt; &lt;em&gt;fiction&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna mulai menunjukkan kelasnya pada &lt;em&gt;Beauty and the Best&lt;/em&gt; (2006) dan mengulangi lagi kepiawaiannya merangkai cerita pada &lt;em&gt;Lovasket&lt;/em&gt; (2007). Kedua novel ini sangat mengalir, alurnya padat, logika ceritanya terjaga baik. Memang kekuatan utama novel-novel Luna ada pada logika cerita yang sangat masuk akal dan alur yang padat hingga membuat pembaca menolak meletakkan novelnya hingga tamat. Ini juga yang disajikannya pada trilogi &lt;em&gt;D’Angel&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trilogi ini membawa Luna ke ranah &lt;em&gt;science fiction&lt;/em&gt;, tanpa meninggalkan naungannya pada &lt;em&gt;genre&lt;/em&gt; TeenLit. Dengan tokoh Fika yang masih remaja kelas 1 SMA (pada buku pertama, &lt;em&gt;D’Angel&lt;/em&gt;), Luna tetap bisa bebas menggunakan bahasa yang tidak kaku dan lincah, meskipun tema yang ditawarkan bisa saja jadi berat bila pemilihan tokohnya bukan remaja. Kesan lincah khas remaja ini juga tidak hilang meskipun tema lalu meluas kepada spionase, militer, konspirasi internasional, dan percobaan ilmiah. Luna juga tidak berpanjang-panjang memusingkan pembacanya dengan teori-teori sulit. Teori ilmiah sekadar memenuhi logika cerita, sehingga cerita tidak timpang, dan novelnya masih sangat bisa dinikmati tanpa mengerutkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah Rafika Handayani adalah siswi unggulan di sekolahnya. Bintang lapangan voli, juga bintang kelas. Fisiknya pun cantik bening, hingga memikat salah satu kakak kelasnya dan akhirnya mereka pacaran. Tapi saat merayakan peristiwa jadian itu, Fika diculik. Mulailah &lt;em&gt;thriller&lt;/em&gt; kejar-kejaran dari &lt;em&gt;basement&lt;/em&gt; salah satu mal di Jakarta yang diwarnai adegan tembak-tembakan. Kenapa Fika diculik? Andika, cowok yang menolongnya memberitahu bahwa Fika sebenarnya bukan manusia. Dia bisa sangat sempurna secara fisik dan otak karena dia adalah Genoid hasil percobaan yang mencoba membuat manusia sempurna. Saat ini nyawanya terancam karena Jenderal Rastaji ingin membuat pasukan yang terdiri atas Genoid, dan membutuhkan Fika sebagai contoh. Kejar-mengejar makin seru, dan ditutup dengan hancurnya laboratorium Genoid di dekat Bogor. Fika yang kehidupannya hancur lari ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kedua, &lt;em&gt;D’Angel: Rose&lt;/em&gt;, dibuka dengan ditemukannya Fika di Malaysia. Fika diminta pulang ke Indonesia (meskipun dia dituduh melakukan pembunuhan) untuk membantu polisi menemukan putri seorang koruptor. Fika kembali menjadi anak SMA. Meskipun tugasnya berat, Fika merasa kembali menemukan dunianya. Fika mendapatkan sahabat-sahabat baru, tapi di lain pihak musuh lamanya, Jenderal Rastaji muncul lagi, semakin kuat serta sadis. Jenderal Rastaji juga mengincar putri koruptor yang dicari Fika, demi mendapatkan dana yang tersimpan di salah satu bank di Swiss. Akhirnya jenderal keji ini menculik sahabat-sahabat baru Fika. Ia harus menggunakan kemampuan Genoid-nya dan berkelahi habis-habisan dengan Genoid lain untuk menyelamatkan teman-temannya. Tapi di penghujung cerita, Jenderal Rastaji terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya kisah &lt;em&gt;thriller&lt;/em&gt; bersambung, benarkah sang musuh besar sudah mati? Pada &lt;em&gt;D’Angel: Princess&lt;/em&gt;, Fika diminta menjadi pengawal putri presiden, karena ada ancaman pembunuhan keluarga presiden. Sekali lagi Fika menyamar jadi anak SMA supaya bisa membayangi sang putri, Gya. Tapi Gya bukan pribadi yang menyenangkan. Merasa teman-teman hanya mendekatinya untuk mencari keuntungan, Gya memasang topeng judes dan dingin. Fika berusaha mencairkan kebekuan hati Gya sambil menjalankan tugasnya. Dan akhirnya Fika menghadapi konfrontasi final dengan musuh besarnya. Kali ini Fika harus melawan Genoid yang lebih kuat. Juga menata hatinya lagi karena Andika kembali muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilirik dari sudut cerita, kisah trilogi &lt;em&gt;D’Angel&lt;/em&gt; sangat berbeda dengan TeenLit pop yang merajai pasar. D’Angel yang full action ala film Hollywood ini benar-benar bisa jadi pilihan bacaan seru yang menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kiprah Luna di ranah &lt;em&gt;science fiction-action&lt;/em&gt;-TeenLit ini belum akan usai. Atau mungkin tepatnya, Luna justru “pulang ke rumah”. Dan membawa warna baru bagi dunia TeenLit Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-4285903027035893504?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/4285903027035893504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=4285903027035893504' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4285903027035893504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/4285903027035893504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/trilogi-dangel-luna-torashyngu.html' title='Trilogi D’Angel ~ Luna Torashyngu'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SPWXojIvh8I/AAAAAAAAABI/QXc24LCdjDs/s72-c/d%27angel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-1691025720270929099</id><published>2008-10-08T23:50:00.000-07:00</published><updated>2008-10-09T00:01:54.064-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='editing and publishing'/><title type='text'>Tips Menerbitkan Naskah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;Kesan pertama yang tak terulang lagi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama yang ditampilkan oleh naskah kamu tidak bisa diulang lagi, karena itu naskah yang dikirim ke penerbit haruslah tampak bersih, rapi, enak dilihat. Cari tahu apakah penerbit sasaran kamu punya ketentuan tertentu misalnya jumlah halaman (jangan lupa beri nomor halaman pada naskah kamu) atau besar font dan spasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jangan lupa sinopsis dan biodata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sinopsis dan biodata adalah dua hal pertama yang dibaca oleh penilai naskah. Buat sinopsis yang menarik dan mencakup seluruh isi naskah kamu. Biodata juga dibuat semenarik mungkin dan masukkan pengalaman-pengalaman kamu yang paling oke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Curilah sepuluh halaman pertama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh halaman pertama adalah penentu diterima atau ditolaknya naskah kamu. Kalau dalam sepuluh halaman ini kamu berhasil memaparkan konflik yang menarik dengan gaya bercerita yang oke, pasti penilai ingin terus membaca seluruh naskah kamu sehingga bisa memberi penilaian yang utuh atas naskah kamu. Sebaliknya bila sepuluh halaman pertama saja sudah membosankan, pasti naskah kamu langsung ditaruh dalam tumpukan “ditolak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cari tema yang unik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tema cewek kutubuku yang jatuh cinta sama cowok basket sudah basi-si-si. Coba cari tema lain yang menarik. Sumbernya banyak, coba kulik lagi kehidupan kamu sehari-hari, kamu bisa terkaget-kaget mendapati detail-detail unik yang bisa diangkat dan dikembangan jadi cerita yang seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Buat plot dan konflik yang menarik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini syarat utama naskah yang baik. Kalau plot dan konflik yang kamu susun tidak oke, pembaca bisa merasa tertipu, kesal, dan tidak mendapat apa-apa selesai membaca naskah kamu. Itu pun kalau naskahmu belum diletakkan lepas beberapa halaman dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersabar dan bersikap sopan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penerbit biasa butuh waktu cukup panjang untuk menilai naskah kamu. Jadi sabarlah, dan tiap kali menelepon untuk menanyakan perkembangan naskah kamu, bersikaplah yang sopan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-1691025720270929099?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/1691025720270929099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=1691025720270929099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1691025720270929099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/1691025720270929099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/tips-menerbitkan-naskah.html' title='Tips Menerbitkan Naskah'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6368311324852635891.post-7381893349869045327</id><published>2008-10-07T23:21:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T23:55:01.604-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='thoughts'/><title type='text'>Pindah</title><content type='html'>&lt;span&gt;Kata ilmu psikologi yang suatu waktu dulu pernah gue pelajari, pindah itu salah satu stressor yang besar. Orang bisa stres berat saat pindahan. Bayangkan, mesti mempelajari wilayah baru lagi, meninggalkan kenyamanan tempat yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana bila tempat yang lama sudah jadi tidak memadai lagi? Bagaimana kalaupun tempat yang lama tetap menyenangkan, tapi mau tak mau harus ditinggalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mulailah suatu yang baru. Genjotlah semangat petualangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak janji untuk menulis secara reguler, gue akan coba mengisi bilah-bilah laman blog baru (yang nantinya akan jadi lama juga) ini tiap ada yang menggelitik indra-indra gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bienvenidos, bienvenue, welcome to... a jar full of honey!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6368311324852635891-7381893349869045327?l=ajarfullofhoney.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/feeds/7381893349869045327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6368311324852635891&amp;postID=7381893349869045327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7381893349869045327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6368311324852635891/posts/default/7381893349869045327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ajarfullofhoney.blogspot.com/2008/10/pindah.html' title='Pindah'/><author><name>Donna</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13773257776442342174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_FBtSIC0rPug/SO2yCmcNxyI/AAAAAAAAAAM/yvoGXwyJfmM/S220/stgrilljamur+resize.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
